cerpen terbaruku … –__–)”

(*harap maklum, yang buat cerpen masih amatiran, jadi beginilah adanya)

 

Kucari Sejatinya Cinta

Aku Dini, seseorang mahasiswi semester pertama, telah lama mencari arti cinta sejati yang sebenarnya. Selama aku hidup aku telah mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan sekitar 8 kali. Dan sekarang yang ke sembilan kalinya dengan laki-laki bernama Randy, yang aku rasakan sudah di ambang kegagalan lagi. Hubungan kami mulai menampakkan keretakan. Dan sekarang aku dalam posisi yang tidak jelas. Digantung.

Lepas dari permasalahan dalam hubungan asmaraku, sekarang aku telah resmi menjadi mahasiswi salah satu sekolah tinggi di kota ini. Dan hari ini hari pertamaku menginjakkan kaki di tempat kediamanku yang baru, Wisma Anggrek. Wisma ini di huni oleh 6 orang, dalam waktu yang singkat aku sudah dapat mengakrabkan diri dengan mereka berlima. Ina, Santi, Chyla, mba’Lilyana, dan mba’Diana Namun yang paling aku sukai seorang gadis yang umurnya 3 tahun di atasku. Mba’Lily, nama yang biasa kusebut untuknya. Mba’Lily gadis yang soleha, manis, baik dan ceria.

Waktupun bergulir. Tak terasa telah 3 Minggu aku tinggal di wisma ini, namun kedekatanku dengan mba’Lily layaknya sudah berbulan-bulan, akan tetapi ada satu hal yang belum aku ketahui darinya. Hingga suatu waktu kami berempat dari penghuni wisma kumpul di ruang tengah. Seperti biasa ada yang berkutat dengan Handphone atau laptop. Kulihat jempol mba’lily sibuk memainkan keypad HP nya. Kumulai mencairkan suasana yang sunyi.

“Mba’Lily, sms’an sama pacarnya ya ??” ucapku sedikit menggoda, kulihat dia mulai tersenyum, namun belum menjawabku.

“Mba’Lily tu jomblo tau…” Chyla mulai menimpali kata-kataku yang spontan aku balik bertanya keheranan.

“Mba’Lily gak pacaran ????????? Serius ?????”

“Ya din, gak laku-laku nie.. hehe” jawab mba’Lily seadanya.

“Dini gak percaya, masa mba’ jomblo dengan alasan gak laku,  paling mba’ aja yang pilih-pilih orangnya”

Tak ada jawaban. Hanya senyuman yang terukir kembali di wajah teduhnya. Dari segi fisiknya, dia lebih tinggi dariku, wajahnya juga lebih manis, apalagi dengan pakaian yang menutup rapat tubuhnya, semakin menambah ke anggunannya. Jadi menurutku, akan banyak yang suka. Bohong kalau mba’Lily bilang gak laku. Itulah sepintas yang kupikirkan. Seolah membaca pikiranku, mba’Lily menjawab kebimbanganku.

“Mba’ kan pegang prinsip pacaran setelah nikah din”

Jawaban mba’Lily membentuk lingkaran O di mulutku. Di kondisi seperti sekarang ini mba’Lily masih teguh memegang prinsip itu. Kondisi dengan lingkungan tempat kuliah mba’Lily, fakultas teknik yang kebanyakan cowok dan pergaulan yang tidak sekondusif di kampusku. Aku tau di fakultas mba’Lily yang menggunakan jilbab hanya sedikit, dari yang sedikit itu, hanya segelintir yang bisa memegang prinsip sepertinya. Hal ini aku tahu, ketika mba’Lily mengajakku mengikuti salah satu kajian di kampusnya. Berbeda dengan kampusku yang memang banyak seperti mba’Lily, pemegang prinsip non pacaran sebelum halal. Jadi akan mudah jika dia berpegang teguh pada prinsipnya. Kesendirian mba’Lily menghadapi tantangan di kampusnya membuatku salut pada sosok manis di depanku. Diam-diam aku mulai mengaguminya.

**********

Siang ini mentari begitu semangat memancarkan sinarnya. Aku jalan setengah berlari memasuki gerbang wisma. Ku ucap salam sambil mengetuk pintu. Jawaban lembut dari suara yang sangat kukenal segera membuka daun pintu yang tertutup rapat di depanku. Senyuman mba’Lily membuat keteduhan dihatiku. Segelas air putih mengaliri dahaga yang dari tadi kurasakan. Menyempurnakan keteduhan selepas senyum mba’Lily. Setelah berganti kostum, aku melangkah ke kamar mba’Lily, kulihat dia sedang asyik melantunkan ayat-ayat suci. Merasa bahwa pasti diijinkan, aku masuk dan duduk di belakangnya yang sedang tilawah. Suara itu begitu halus menyusupi relung hatiku, semakin lama suara itu semakin berat. Tak terlihat, namun bisa kupastikan dia menangis, perlahan air mataku ikut menetes.

Maha Benar Allah dengan segala FirmanNYA. Mba’Lily menyelesaikan tilawahnya. Dia rada kaget melihatku yang duduk manis di belakangnya.

“Mba setiap tilawah nangis ya ??”

“Enggak selalu Din, tadi itu Surat Al-Infitar tentang catatan dan balasan atas perbuatan manusia. Manusia seringkali ingkar terhadap nikmat Allah dan berujung pada mengerjakan hal-hal yang tidak Allah sukai padahal nikmat Allah berupa pertolongan dari-NYA seringkali ada untuk hamba-NYA. Mba’ juga termasuk makhluk yang lemah, tidak akan kuat menghadapi godaan dan ujian ini kecuali dengan pertolonganNYA. Makanya Mba’ malu kalau berbuat yang tidak sesuai syari’at agama. Mba begitu sering hampir tergelincir ke perangkap syaitan. Tapi Alhamdulillah, Pertolongan Allah selalu ada untuk menarik mba’ ke jalan yang diRidhoi-NYA”.

Diskusi kami lumayan panjang, sampai akhirnya dia menyodoriku sebuah buku agenda.

“kalau dinda masih ingin tau selengkapnya, boleh baca agendanya mba’, disitu isinya tentang begitu seringnya pertolongan Allah itu datang untuk mba’. Mba’ mau ke kampus dulu, selesai baca simpan ditempat semula, dan isinya jangan dibeberkan, hanya untuk Dini. Cey cantik”

Anggukan kepalaku mengiringi kepergiannya. Penasaran, aku mulai membuka halaman dalam agenda tersebut. Dan ternyata, agenda itu layaknya buku diary. Ada banyak cerita tentang mba’Lily di dalamnya. Aku tenggelam dalam cerita-cerita itu.

****

Matahari kian meredup, suara adzan membangunkanku dari dunia Mba’Lily. Akupun beranjak pergi, sholat Ashar dan setelahnya akan ku lanjutkan membaca kisah yang memang tinggal beberapa halaman saja. 10 menit kemudian aku kembali memegang agenda itu, hingga akupun sampai pada halaman terakhir, kuperhatikan sejenak. Layaknya yang terlihat itu adalah ringkasan dari kesemua, jika dalam sebuah karya tulis seperti Skripsi. Halaman yang aku tatap ini adalah bab lima yang berisi Penutup dan Kesimpulan. Aku kembali tenggelam dalam kisahnya.

****

03 November 2010

Hari ini, hari yang biasanya sangat special bagi sebagian orang. Mungkin juga untukku, tapi akan lebih bermakna jika aku gunakan kesempatan yang tersisa untuk muhasabah diri. Aku sadar sesadarnya. Aku sangatlah rapuh, jika tidak dengan pertolonganMU tidak akan pernah aku bisa berjalan jauh dari jurang-jurang yang tepinya sangat menggoda untuk aku datangi. Sungguh seringkali aku sudah ditepi jurang itu. Namun akan selalu ada Tangan Yang Maha Lembut membimbingku kembali menjauh dari jurang itu. Aku malu jika mengingat semua kekhilafan yang aku lakukan. Aku begitu lemah tampa pertolongan-MU. Aku sangat tau itu adalah ujian-MU, yang terkadang aku hampir terpeleset, namun Engkau yang Maha Penyanyang selalu memberikan pertolongan disaat aku sudah mulai lelah dan terlena.

Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kampus, ujian yang pertama harus aku lalui adalah Tamma, teman sekelasku sendiri. Aku mengaguminya, dengan kecerdasan dan rasa rendah hati yang dia miliki. Aku tau dan sadar bahwa saat itu aku sudah memegang prinsip “Pacaran setelah Menikah”. Sehingga akupun berusaha untuk sebatas mengaguminya saja, tidak lebih. Namun seiring berjalannya waktu dan interaksi yang kami lakukan, cukup membuatku mulai tertarik padanya, puncaknya disaat kami sama-sama mengikuti camping yang diadakan kampus. Saat itu kami harus menempuh jarak sekitar 5 Km dengan kondisi jalan agak menanjak. Saat itu aku sangat kesusahan membawa beban yang aku bawa. Tas Ransel untuk perlengkapan 2 hari sangat menyiksa langkah yang berat dan terseret. Aku menatap kedepan, teman-temanku sudah jauh meninggalkanku. Aku mulai berjalan pelan lagi, hingga tak lama sang pahlawan itu datang. Entah kapan pastinya, Tamma tiba-tiba sudah disampingku menawarkan bantuan untuk membawa ranselku, aku lihat di punggungnya sudah ada ranselnya sendiri. Belum lagi dengan kedua tangan yang juga membawa beban. Akupun ragu untuk mengiyakan walau hatiku sudah jingkrak-jingkrak kegirangan karena ransel yang tadi menindih punggungku akan segera kutanggalkan.

“Gak apa-apa Tam, aku bisa bawa sendiri. Tamma kan sudah banyak bawa beban.”

“Sini, aku kan cowok jadi wajar kalo bawa beban yang lebih. Lagian Lily sudah ketinggalan jauh dari temen-temen, sini tak bawakan. Aku masih kuat kok, sangat kuat.”

Itulah jawabnya sambil meraih ranselku dengan tetap memasang senyum diwajah teduhnya. Tamma berjalan didepanku, sampai akhirnya kami bisa menyusul teman lainnya Tamma mempercepat langkahnya dan sudah jauh dari pandanganku. Kuperhatikan sisa bayangannya yang nampak. Aku akui tertarik padanya. Namun inilah puncaknya, sekaligus akhir dari rasa yang belum pantas itu.  Beberapa hari setelahnya, aku tahu bahwa Tamma sebenarnya menyukai sahabatku sendiri Nina. Sayangnya tidak diungkapkan karena Nina saat ini memang sedang menjalin hubungan special dengan kakak tingkat kami. Jika cewek yang lain mungkin akan mengatakan “Kesempatan itu masih ada”, tapi lain denganku. Ketika aku tau bahwa dia memiliki pujaan hati yang lain, entah dari mana aku mulai tersadar dan bersyukur. Bahwa melalui info inilah aku di tolong oleh-NYA. Berangsur rasa tertarik atau kagum itu mulai berganti dengan rasa persaudaraan semata.

Ujian yang harus kujalani tidak hanya sampai disini. Ketika tahun kedua ku di kampus, ada seseorang yang begitu semangat ingin mendekatiku, kakak tingkatku Dion. Entah apa yang salah dariku, sehingga Dion begitu nekat menyatakan perasaannya. Parahnya, dia sampai berani ngomongin nikah denganku. Awalnya aku memang menolak mentah-mentah, aku tidak suka dengan tingkahnya yang jauh dari kriteria. Bonceng cewek sana sini, belum lagi hal-hal lain yang menurut orang sepele namun bagiku itu hal yang lumayan mengurangi pointnya dimataku. Namun, waktu yang bergulir dia manfaatkan untuk perbaikan dirinya. Statusnya di jejaring Facebook yang tadinya berpacaran kini telah single. Prilakunya juga lebih sopan dari sebelumnya. Belum lagi begitu sering dia membantuku dalam segala hal, terlepas aku tidak tau niatnya bagaimana. Sejenak aku mulai luluh, namun Sang Maha Pemilik Cinta kembali lagi memberikan pertolongan-NYA. Suatu sore yang cerah, kebiasaan Online Facebook aku lakoni. Begitu halaman home itu muncul, aku lihat Dion mengomentari status mantan pacarnya, dia merayu. Bukan cemburu yang kurasa, tapi rasa muak melihat tingkahnya. Saat itupun aku yang tadinya lunak, kembali tegas pada prinsipku. Dan tak akan pernah ku toleh dia. Kecuali Allah yang menginginkan aku tuk melihatnya lagi dalam suasana yang diridhoi-NYA.

Ujian yang ketiga, di tahun ketigaku menginjakkan kaki di kampus. Kali ini bukan dari teman sebayaku, atau diatasku. Namun dari adik tingkatku, Akbar. Akbar anak yang baik, polos, gokil, dan lumayan humoris. Meskipun begitu, dia sangat pintar merangkai kata menjadi bait-bait puisi. Atas petunjuk dari Chyla temen SMA nya yang kini 1 wisma denganku, aku tahu sesuatu darinya. Chyla mengatakan bahwa melalui puisinya dia ungkapkan perasaannya padaku. Aku adalah seseorang yang memang sangat cepat luluh dengan kata-kata. Yang aku tau bahwa itu adalah ungkapan tulus dari anak yang polos, Akbar. Dari setiap kata-kata itu aku tau kalau dia memang menyukaiku, namun enggan untuk mengatakan langsung padaku. Aku juga terharu ketika aku tau begitu merendahnya dia. Akbar tak ingin berharap banyak padaku karena dia merasa tak sebaik yang aku inginkan. Aku terharu dan rasa haru itu mulai merubah diri menjadi simpati. Apalagi setiap puisi-puisi yang dia buat untukku. Memang dia tidak secara langsung memberikan puisi itu. Dia hanya mengirimkan alamat blog tempat puisi-puisi itu terpampang. Aku luluh kembali, dan ini adalah yang terberat bagiku. Dari sikapnya yang humoris namun tetap sopan itu mebuatku berpikir untuk bisa mempengaruhinya agar dia bisa memenuhi kriteria utamaku. Entah salah atau tidak, aku jadi sering mengingatkannya untuk tidak lalai pada perintah-NYA.

Sejujurnya, aku tidak pernah memiliki criteria ribet dalam memilih pasangan hidup nantinya. Masalah ganteng, kaya, umur, atau hal-hal duniawi lainnya tidak terlalu aku permasalahkan. Hanya satu,dia bergelar takwa di Mata Allah. Otakku mulai mengharapkan Akbar bisa mendapatkan gelar itu. Dan lebih parahnya, aku mengharapkan sang pecinta puisi itu lebih berani untuk menuntaskan pekerjaan jiwa yang dia alami sekarang. Menghitbahku. Hanya saja itu memang masih jauh, mengingat kuliah yang harus dia selesaikan dulu. Simpatiku padanya mulai bertambah ketika dia begitu sabar menahan rasa cintanya padaku, namun tetap tidak pernah dia sampaikan. Syetan hampir saja pesta atas apa yang terjadi pada perasaanku yang mulai tertarik padanya. Namun, inilah Kekuasaan Allah yang Maha Besar PertolonganNYA. Rasa tertarikku padanya mendadak lenyap, ketika aku tau bahwa dia sedang menyukai wanita lain. Dan wanita itupun menyukainya. Kali ini puisi-puisi yang dia ciptakan tak lagi untukku, tapi untuknya. Ada rasa kecewa dalam hatiku, sempat kuberpikir bahwa beginilah rasanya patah hati. Hanya sementara karena segera kubiasakan untuk positif thingking. Inilah pertolongan kesekian kalinya dari Allah. Aku kembali tegak dengan prinsipku, diatas syetan yang menangis pilu gagal menggelincirkanku.

Kini di usiaku yang genap 22 Tahun, aku mulai menata hati. Akan ku hapus bintik-bintik hitam yang mungkin memang sudah banyak. Sejatinya cinta adalah cinta kepada Allah. Hatiku hanya milik Dia Sang Maha Pemilik Cinta. Aku sangat pasrah pada ketetapan-NYA. Aku juga sangat percaya bahwa jodoh itu adalah hak prerogratif Allah, jadi untuk apa mengotori hati untuk seseorang yang belum pasti akan menjadi milik kita. Ku buka lembar baru kehidupan di usia yang baru. Hanya ada Allah di hatiku, dan orang-orang yang dikehendaki-NYA. Untuk engkau wahai yang Allah siapkan untukku, maafkan jika aku tidak sempurna menjaga hati ini untukmu. Namun, mulai detik ini aku akan tetap berusaha menjaga hati ini, sampai kau siap dan datang menjadi seseorang yang halal bagiku. J

***

Tersentak, malu, dan entah apalagi rasa yang ada padaku. Kisah mba’Lily bagaikan tamparan keras bagiku. Begitu bersihnya dia dari hubungan pacaran, dan tentunya itu bisa dengan usaha yang kuat melawan nafsu diri. Terlebih atas setiap rasa syukur yang selalu dia ungkapkan atas pertolongan Allah untuknya. Aku teringat pada hubunganku dengan Randy. Inilah pertolongan Allah untukku. Aku pastikan saat ini juga tak ada lagi hubungan antara aku dan Randy. Aku ingin bertaubat, tidak ada lagi kata pacaran sebelum nikah dalam kamus hidupku. Kuletakkan kembali agenda mba’Lily di tempatnya semula. Kupandangi wajah manis  mba’Lily yang terbingkai dalam frame.

“Aku pasti bisa secantik engkau mba’, secantik akhlakmu”

Hatiku mulai bergumam, menyebut Asma-NYA.

“Rabb, izinkan pertolongan-pertolongan-MU itu ada juga untukku”

“Ijinkan aku memiliki Cinta Sejati dari-MU yang telah lama aku cari”

 

SELESAI

Kamar Mungil Mufida, 19 Oct 2010

Inspirasi : Saat hati berbicara bahwa adam itu mulai indah,

Namun, indah terhalang karena ikatan yang belum halal.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s