tiGa tiGa

Lembaran buku kubuka satu per satu hingga kutemukan daftar isi. Kucari judul yang kira-kira memang menarik untuk dibaca, dan akhirnya, mataku tertuju pada satu judul.

“Tiga Tiga”.

Penasaran dengan judul yang mencantumkan angka faforitku tersebut, jari tanganku mulai menari mencari halaman tempat cerita itu bersemayam, kutemukan dan mulai kubaca.

****

TIGA TIGA

Maret 2002

“Salsabila Nindya Putri, M.Kom”.

Hari ini gelar itu aku dapatkan juga, obsesi untuk menyelesaikan S2 di usia 25 tahun tercapai sudah. Hal ini tidak bisa kudapatkan dengan mudah karena begitu banyak yang harus dikorbankan atau mungkin terlalaikan. Dalam kesibukan menempuh Strata dua aku sering absen mengikuti majelis ta’lim atau sejenisnya yang biasanya rutin aku ikuti pada saat perkuliahan Strata satu dulu. Juga dalam hal pernikahan, aku harus rela melepaskan orang yang membuatku jatuh hati untuk menempuh kesuksesanku saat ini. Aku masih ingat 2 tahun lalu kekeh mempertahankan untuk melanjutkan studi dengan resiko menolak lamaran Ustad Mugni yang baru menyelesaikan S2 nya di madinah. Sejujurnya aku memang jatuh hati pada kelembutan hatinya, kerapian dan bersihnya penampilannya, juga yang paling membuat aku tertarik adalah kesolehan yang ada padanya. Benar-benar laki-laki impianku selama ini, namun obsesiku untuk menyelesaikan S2 sebelum menikah lebih kuat dan lebih menarik bagiku.

“Kan bisa sambilan nak, kuliah sekalian nikah malah lebih enak, ada yang memotivasi untuk segera selesai”

Begitu saran sekaligus permintaan yang diungkapkan oleh ibu. Akan tetapi, aku sudah bisa memprediksikan bahwa menjadi seorang istri pasti akan mengganggu kuliahku. Belum lagi jika aku hamil, bisa jadi kuliah yang aku jalani harus tertunda lama karenanya. Terlintas dibenakku, seandainya Ustad Mugni mau menunggu sampai aku menyelesaikan strata duaku. Tapi itu hanyalah pemikiran yang konyol karena aku harus menelan pil pahit kekecewaan dan merasakan sedikit patah hati ketika 3 bulan setelahnya Ustad Mugni menikah dengan seorang gadis saliha yang tidak jauh berbeda denganku. Kami sama-sama berjilbab, faham agama, dan sama-sama menyandang gelar sarjana. Tapi itulah jodoh, semua sudah digariskan oleh-NYA.

Aku mulai merencanakan masa depan, dengan gelar magister yang kusandang pekerjaan yang layak dengan mudah kudapatkan. Aku kini bekerja sebagai dosen di salah satu Universitas terkemuka di Praya, Lombok Tengah. Aku sangat menikmati duniaku menjadi wanita karir. Segala kesibukan yang aku dapatkan di dunia kerja membuatku makin mencintai profesiku sebagai dosen. Ini akan berlangsung lama, kontrak kerja yang aku tanda tangani tertanggal sampai 03 April 2005.

Di tengah-tengah kesibukanku, orang tua selalu mengingatkanku untuk mempertimbangkan Amran, laki-laki yang satu bulan ini berniat melamarku. Namun, yang ini aku tolak lagi dengan alasan aku harus focus pada pekerjaanku, padahal jauh dalam hatiku, aku menolak karena dia hanya berstatus S1 dan belum memiliki penghasilan yang tetap. Yang aku tau Amran lebih terkenal dengan jiwa bisnisnya dari pada sebagai seorang Mahasiswa. Saat ini dia sedang melakoni pekerjaan sebagai penjual baju, buku dan sejenisnya secara keliling. Orang tuaku memaklumi alasan kefokusanku, walau kulihat ada gurat kekecewaan di wajahnya.

Namun inilah aku, aku menginginkan seorang pendamping yang memang sekufu atau layak denganku. Aku sering memikirkan sesuatu dengan berpatokan pada pendapat orang. Apa kata orang nantinya jika aku yang bergelar Magister dan sudah mendapatkan pekerjaan yang layak menikah dengan seorang yang baru lulus Strata satu dan belum memiliki penghasilan tetap. Aku tidak akan sanggup melihat tatapan aneh atau gunjingan tetangga sekitar nantinya. Itu pikirku.

Maret 2005

Karena kesuksesanku melakoni dunia kerja, aku mendapatkan beasiswa S3 ke Jepang dari yayasan. Secara otomatis masa kerjaku akan diperpanjang di kampus ini. Bahagia yang memuncak aku rasakan, sampai di rumah aku mengabarkan berita bahagia ini pada orang tua, namun diluar dugaan. Orang tuaku malah merasa berat merelakanku untuk ke negeri sakura itu, karena lagi-lagi pada saat yang bersamaan aku harus mempertimbangkan lamaran dari seorang laki-laki yang memang sangat mapan. Pak Hendra sudah menyandang gelar S3 nya, memiliki sebuah perusahaan advertiser di Ibu Kota Negara ini, Jakarta. Akan tetapi yang membuatku berpikir untuk menolak lamarannya adalah statusnya yang kini menduda dengan dua orang anak.

“ Sabila, ibu dan bapakmu ini sudah tua, ingin rasanya melihatmu memiliki pendamping hidup dan melahirkan cucu-cucu kami sebelum kami meninggal”

Kata-kata Ayah membuat hatiku tergetar, namun kali ini aku mantabkan untuk lebih memilih studi karena aku memang tidak bisa menerima status maritalnya. Tidak adil rasanya aku yang masih gadis menikah dengan duda beranak dua. Kembali orang tuaku harus menelan pahitnya pil kekecewaan. Aku berangkat ke Jepang masih dengan menyisakan gurat kekecewaan di wajah orangtuaku.

Namun, segala kesibukan yang aku hadapi di negeri Sakura membuatku mulai melupakan kesedihan orang tua yang tergambar jelas di memori otakku tadinya. Aku benar-benar mengejar setiap deadline tugas dalam perkuliahanku. Bahkan tidak jarang aku pulang larut untuk menyelesaikan tugas kuliah, entah dengan teman-temanku atau aku sendiri. Kebiasaan tahajjud dan duha yang selama ini aku pertahankan sesibuk-sibuknya saat menempuh Strata dua sudah mulai aku lalaikan. Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku bangun di sepertiga malam untuk bermunajat pada-NYA.

Tidak hanya itu, lebih miris lagi, aku sudah jarang membaca ayat-ayat cinta yang telah dituliskan dalam Al-Qur’an oleh Sang Maha Pemilik Cinta. Dulunya, aku bisa khatam satu kali dalam satu bulan. Kini, 1 lembar pun mungkin tidak tercapai. Saat ini yang bisa aku banggakan hanyalah shalat yang memang tidak pernah aku tinggalkan, dan selembar kain yang selalu menutup rambutku. Ya, aku masih mempertahankan jilbab yang aku kenakan.

September 2007

Studi S3 telah kuselesaikan dengan lancar, dengan demikian aku pulang dan disambut dengan kenaikan jabatanku di kampus. Lekat aku amati wajah orang tua yang ternyata sudah semakin banyak kerut-kerut tanda ketuaan. Ada sedikit sesal mengingat permintaan mereka agar aku segera mengakhiri masa lajangku. Sejujurnya di dalam hati, aku pun mulai resah mengingat usiaku yang sudah menapaki kepala tiga sejak 3 bulan yang lalu. Aku pun bertekat akan segera mengakhiri masa lajangku. Akan kubuka hati bagi siapa saja dia yang mau menjadi pendamping hidupku. Tentunya kriteria laki-laki soleh harus ada padanya, karena aku tidak ingin menikah karena buru-buru, sehingga memilih dengan gampang siapapun itu. Aku tidak ingin seperti isi dalam sebuah kisah yang pernah aku baca. Ibaratnya seorang penumpang yang menunggu bis. Ketika bis yang pertama datang, bis yang bagus, jalurnya benar namun ditolak karena tidak ada AC. Kemudian bis yang kedua datang ditolak lagi walaupun jalurnya benar tapi melihat tampilannya yang sangat sederhana. Dan akhirnya waktu telah mengisyaratkan keterlambatan sehingga  ada bis yang datang tampa mempertimbangkan jelek atau tidaknya, ber AC atau tidaknya si penumpang memilih dan tersadar di tengah jalan bahwa jalur bis yang ia tumpangi adalah jalur yang berbeda dengan yang diingininya.

Aku memang tak perduli dia duda atau tidak, dia kaya atau miskin, atau ada tidaknya gelar yang mengikuti namanya. Aku tidak perduli, cukup dia bisa menjadi imam dalam hidupku. Cukup dia faham agama. Namun, disaat keinginan untuk menikah itu datang. Justru sang Arjuna tidak juga menampakan batang hidungnya. Tiada yang datang melamarku, aku makin merasakan keresahan di hari-hariku. Penyesalan mulai merambat di relung-relung hatiku. Aku tau kehidupan Ustad Mugni yang kini bahagia dengan dua orang anak, walaupun kini mereka tidak tinggal di kota yang sama denganku. Karena yang aku dengar, Ustad Mugni pindah sekeluarga ke Madinah. Ustad Mugni melanjutkan studi Strata tiganya mendalami ilmu hadist dan istrinya sudah menyandang gelar Magister untuk ilmu Fiqih shalat. Andai wanita itu adalah aku.

Kemudian pikiranku beralih pada Amran, laki-laki yang dulunya aku tolak karena gelarnya. Saat ini dia hidup bahagia dengan istri dan ke 3 putranya. Amran memang masih bertahan di gelar Sarjana nya. Namun dia telah berhasil mendidik istrinya yang sekarang sudah menyelesaikan Strata tiganya. Amran kini memiliki sebuah toko perlengkapan islami yang cukup besar dan memiliki cabang di berbagai kota. Penyesalan itu semakin menghantui hari-hariku. Kembali pikiranku melayang pada yang selanjutnya, Pak Hendra. Yang sama dengan yang lainnya. Hidup bahagia dengan keluarganya, yang aku tau pak Hendra menikahi gadis berusia 22 tahun, cantik dan saliha tentunya.

Bangun di sepertiga malam yang sudah lama aku tinggalkan, kini aku kerjakan lagi. Aku sampaikan penyesalanku pada-NYA Sang Maha Terkasih. Aku berharap ada sedikit keajaiban, menikah dengan sesegera mungkin. Aku khawatir dengan kondisi Ayah yang kian memburuk. Aku ingin disisa hidupnya, dia bisa merasakan kebahagiaan melihat dan menjadi wali dipernikahanku. Doaku malam demi malam aku panjatkan.

Januari 2008

Doaku akhirnya terjawab juga, dua pekan lagi atau tepatnya 23 Januari 2008, aku akan mengakhiri masa lajangku dengan seorang laki-laki yang dilihat dari prilakunya memang soleh. Wira seorang Magister pendidikan yang sekarang menjadi dosen pengajar di salah satu sekolah tinggi di daerah Dempasar, Bali. Kebahagiaan terpancar tidak hanya dari wajahku, namun juga dari tatapan kedua orang tuaku. Keadaan Ayahku mulai membaik, bahkan terlihat lebih segar dari pada sebelumnya.

Semua persiapan telah diatur sedemikian detail, undangan segera dicetak. Pernikahan yang mewah pun akan segera terlaksana dalam satu pekan lagi. Hari berganti hari, bunga-bunga yang menghiasi pelataran rumahku seolah mengisyaratkan hatiku yang sedang merekah. Akad itu memang belum di ucapkan, tapi kuncup-kuncup bunga cinta itu kian mekar. 3 hari lagi pernikahan membuat hatiku semakin tidak karuan. Bahagia, haru, dan sedikit ketakutan muncul. Entah rasa takut untuk apa, aku tidak mengerti. Namun segera kutepis dengan melantunkan ayat-ayat suci penyejuk hati.

Sore ini, tepat sehari sebelum pernikahan kami. Wira tiba di bandara Selaparang, ia datang ditemani adiknya Bayu dan akan langsung meluncur ke daerah tengah di Lombok ini. Sebelumnya Ayah pernah menyarankan agar Wira datang jauh-jauh hari bersama keluarganya yang memang dari satu pekan sudah disini, tapi kesibukannya yang hanya mendapat cuti satu pekan dia manfaatkan untuk satu pekan awal pernikahan kami. Aku dirumah menanti kedatangannya, walaupun tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya sampai akad itu besok. Menjelang Isya, kabar kedatangan Wira dan adiknya belum juga aku dapatkan, aku mulai resah. Kupandangi langit tak berbintang.

Tepat pukul 20.46 Wita aku sedikit lega dengan datangnya sepupuku yang aku minta untuk mencari tahu informasi. Namun rasa lega itu harus kulempar dan berganti jerit histeris. Kabar yang aku dapatkan, Wira dan adiknya Bayu mengalami kecelakaan sekitar pukul 19.50 tadi di daerah Jelantik kecamatan Jonggat. Kondisi hujan lebat yang membuat jalanan licin mengantar mobil yang ditumpangi jatuh melewati pagar pembatas jembatan. Wira meninggal dunia, sedangkan Bayu mengalami pendarahan hebat dan keadaaannya sedang kritis di larikan ke Rumah Sakit. Kesedihan yang mendalam membuatku tak sadarkan diri. Lama aku tersadar, dan ketika itu aku lihat wajah kedua orang tuaku sendu menatapku. Aku tahu, mereka juga pasti merasakan apa yang aku rasakan. Aku kembali menangis di pelukan mereka. Kurasakan air mata mereka mengalir di pundakku.

Juli 2010

            Tiga-tiga. Hari ini usiaku genap menapaki usia tiga puluh tiga. Ucapan ulang tahun aku dapatkan dari berbagai kerabat. Setiap ucapan dan doa yang mereka ucapkan aku amini dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Dari sekian yang banyak yang memberi ucapan selamat, hampir semua mendoakan aku untuk segera menempuh hidup baru. Aku merenungi setiap kisahku dari tahun ke tahun. Begitu banyak ujian dan teguran yang aku dapatkan, evaluasi diri memang terus aku lakukan. Harapan untuk berkeluarga selalu ada pada diriku, walaupun harapan itu kian menipis.

Doa dan dukungan dari kedua orangtuaku adalah semangat terbesar. Aktifitasku sebagai dosen pengajar setelah kepergian Wira telah kutanggalkan, karena itu hanya mengingatkan aku pada kenangan-kenangan masa lalu tentang keangkuhanku. Aku lebih memilih menjadi guru ngaji di rumah dan lebih sering berkumpul dengan orang tuaku. Setelah magrib hari ini akan ada syukuran atas penambahan usiaku. Aku tidak suka kemegahan, jadi cukup dengan membaca surah Al-Kahfi bersama anak didikku yang kebanyakan dari mereka yatim lebih kupilih daripada mengadakan pesta yang mewah. Masakan terlezat yang dapat kusiapkan mulai tertata rapi di meja depan berdekatan dengan ruangan tempat kami mengaji.

Lantunan ayat-ayat Al-kahfi mulai terdengar. Air mata mengalir menghayati makna dari surah itu. Selesai mengaji salah satu dari anak didikku yang masih berusia 9 Tahun mengancungi tangan. Dan meminta ijinku agar dia memimpin doa. Senyuman diikuti anggukan kepalaku mengisyaratkan tanda setuju padanya.

“Bismillahirrahmanirrahim, Ya ALLAH ya Rabb semesta alam, aku memohon padaMU, berikanlah keridhoanMU pada setiap yang Ustadzah Sabila tempuh, begitu juga dengan kami”

“Amin…”

Suara anak-anak, kedua orang  tua dan aku sendiri serempak mengamini doa yang di ucapkan salah satu anak didikku. Begitu lengkap doa yang diucapkan, dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna. Hingga akhirnya tiba dipenghujung doa.

“Ya Allah, Rabb semesta alam, satu hal yang terakhir yang kami harapkan. Percepatlah jodoh untuk Ustadzah Sabila. Bila Engkau mengizinkan saat ini juga Ya Allah. Ya Allah kabulkanlah doa kami”

“Amiiiiiiiinnnnnnnn……”

Teriakan Amin itu lebih keras terdengar, aku tersenyum haru mendengar ucapan pengharapan terakhir dari anak yang polos. Sesaat setelahnya aku dengar suara lain dari seseorang ikut mengamini dari balik pintu depan yang memang terbuka lebar. Aku menoleh, dan disana tampak berdiri tegap seorang laki-laki yang kukenal. Wira, dia adalah Wira. Aku kaget, dan segera memalingkan wajah setelah sekian detik beradu mata dengannya. Lirihku mengucap pengampunan pada-NYA, wajah itu begitu mirip, bahkan naluriku mulai berkata bahwa Wira hidup kembali. Sebelum kedua orang tuaku mengucapkan sepatah kata. Laki-laki yang kutahu wajah Wira itu berucap.

“InsyaAllah doa ucapan terakhir tadi telah langsung dikabulkan oleh Allah. Karena jika diperkenankan, saya datang untuk melamar Sabila. Saya sangat mengharapkan kesanggupan dari bapak dan ibu, terutama Sabila”

Kalimat singkat namun mampu membuatku yang tadinya tertunduk, kaget hingga spontan mengangkat wajah lagi memandangi laki-laki yang masih tersenyum dan penuh kesungguhan itu. Tak ada ekspresi bergurau di wajah itu. Hatiku tergetar.

“Nak Bayu, benarkah yang bapak dengar ??? Nak Bayu tidak bergurau kan ?”

“Tidak sama sekali pak, saya tidak ada niat sedikitpun untuk bergurau. Sebenarnya dari satu tahun yang lalu saya sudah berniat melamar Sabila, tapi karena kondisi saya pasca kecelakaan yang harus benar-benar pulih membuat saya bertahan dan berharap Sabila belum ada yang melamar.”

Bayu ?? ternyata laki-laki yang mirip Wira ini Bayu adiknya. Aku tertegun, aku memang tidak pernah melihat wajahnya selama proses menuju pernikahan gagalku dengan Wira sebagaimana orang tuaku. Tapi aku tahu, bahwa Bayu tiga tahun lebih muda dariku. Tiga tahun adalah jarak yang lumayan bagiku, namun trauma dimasa lalu membuatku berpikir seratus kali untuk menolak lamaran ini. Terlebih latar belakang keluarga Wira  yang aku tau memang dari keluarga baik-baik dan faham agama. Kuarahkan pandangan pada orangtuaku yang sejak tadi menoleh mengharapkan jawaban penerimaan dariku. Masih dengan suara gugup tapi jelas dan tegas aku jawab.

“Bayu, jika memang tidak ada keraguan sedikitpun dihatimu, maka aku akan menerima lamaran darimu, tetapi dengan satu syarat. Aku ingin kita menikah malam ini juga, setelah sholat Isya. Karena aku tidak ingin kejadian dua tahun lalu terulang kembali. Bagaimana ??”

“Syarat itu akan saya terima dengan senang hati. Kita menikah malam ini juga. Di rumah ini, adik-adik, bapak, ibu dan para tetangga akan menjadi saksinya”

Kurasakan kebahagiaan terdalam mengalir di tiap sudut hatiku. Terlebih kebahagiaan yang terlukis di mata kedua orang tuaku. Malam itu akad yang jauh dari kemegahan, sangat sederhana namum penuh keberkahan berlangsung. Ijab qabul telah diucapkan, dan segala sesuatu yang haram telah menjadi halal bagi kami.

Tiga tiga, usia yang telah menggenapkan separuh agamaku.

SELESAI

Tampa kusadari Air mataku pun ikut mengalir membaca kisah Sabila. Begitu banyak pelajaran yang bisa ku petik dari cerita pendek Sabila. Aku mulai menghapus kriteria-kriteria suami impian yang telah kutulis dalam daftar hatiku. Hanya satu yang kusisakan, cukuplah dia bergelar taqwa di Mata Allah. J

Inspirasi : obrolan ringan wid R P R

~~(^__~)b~~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s