Sepekan “like a magic”

 

            “Assalam, Nurhasanah, Siti Robiatun, Intan Ardiani L. diminta kesediaan sebagai delegasi dari KAPMEPI untuk mengikuti TOT Menpora di BALI. Syarat dan tugas lainnya akan menyusul, Edi”

Senyum, ekspresi membaca pesan singkat dari pak Edi. Terbayang pesona bali, teman-teman baru, pengalaman dan tentunya ilmu baru.

“Waalaikumsalam, InsyaAllah saya siap, owh ya, nama saya Ardliani Intan L. .”

Sms balasan tanda sepakat pun terkirim satu paket dengan protes nama yang seringkali salah dan terbalik. Enam hari berlalu untuk mengurus seabrek syarat yang harus diselesaikan. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu keberangkatan  menuju Bali, hingga pergantian delegasi menjadi Sanita dan Titin menggantikan Nurhasanah dan Siti Robiatun. Keterangan, kak Titin kusebut dia, seorang calon ibu karena saat ini sedang hamil sekitar 3 bulan.

            Senin, 14 November 2011

“Sanniiiiiiiiiiii……..buruaaann..” teriakan semangat 45 ku meluncur begitu saja, susah membedakan itu teriakan rasa dongkol atau takut ditinggal rombongan gara-gara es em es ancaman dari pak Edi yang akan meninggalkan kami jika kami datang lewat diatas jam 8 teng. Kulirik jam tangan yang nempel di pergelangan tangan kiriku. “ hmm, 10 menit sampe di nusra” aku membatin. Tak lama aku dan Sani tiba di Nusra, tempat kami mengikrarkan janji untuk berkumpul bersama menuju Bandara Internasional Lombok (BIL).

Selang beberapa menit, angkutan umum bermerk bluebird pun datang dan meluncur membawa kami menuju BIL. 45 menit setelah itu kami tiba di BIL, check-in dan menunggu kedatangan burung raksasa yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Ngurah Rai. Bukan Indonesia jika tidak delay, seringkali kalimat itu terdengar di telinga ini. Setelah bosan menunggu akhirnya yang dinanti datang juga, kami pun beriringan.

Sepintas kulihat gerak kak Titin yang begitu kewalahan membawa barang, sengaja tak segera kubantu berharap pasukan bernama laki-laki dari kelompok kami dengan sigap membantu membara barang beliau. Ternyata meleset, mereka sibuk menikmati langkah mereka tanpa memberi sedikit ruang simpati untuk kak Titin. “Ini orang punya empati dikit kek, huft” aku membatin sambil meraih ransel Kak Titin.

“ Kak, sini saya bawakan.”

Dengan sedikit penolakan dan pemaksaan dariku jadilah dua ransel yang lumayan berisi(lebih sopan ketimbang berat, hihi) nempel ditubuhku. Tiba di depan tangga pesawat, aku mulai kebingungan. Tangga yang begitu kecil menurutku, bagaimana naiknya dengan kondisi bawa ransel 2 begini (silahkan, dibayangkan kecilnya pesawat ber merk WINGS dan dibayangkan juga tangganya sekalian J ).

Sejenak mematung di depan tangga, seorang laki-laki tiba-tiba mengeluarkan kata-kata melegakan. Setelah dari tadi laki-laki yang juga rombongan kami cuek bebek, akhirnya penawaran bantuan pun terlontar.

“sini ranselnya satu”

Kalimat irit yang cukup membantu pikirku. Segera kuserahkan, dan bergegas masuk. Sekitar pukul 12 kami tiba, seperti biasa sanita langsung jepret sana sini dengan camdig di tangannya. Menunggu sebentar, kami pun melaju menuju hotel good way dengan bantuan mobil travel. 15 menit kami sudah di lobi hotel, registrasi, pembagian kamar, dan jadilah aku satu kamar dengan Kak Titin. Karena beliau dalam kondisi yang agak lemah, kami disatukan dari peserta yang diacak provinsinya.

Tiba di kamar, kami merapikan pakaian, sholat, dan bergegas menuju ballroom lokasi acara. Tiba di ballroom, kami makan siang dan dilanjutkan dengan gladi kotor plus bersih sekalian. Pembukaan acara ToT dimulai sekitar pukul 16.30 Wita. Acara berlangsung seru, di ikuti malamnya dengan pemilihan pak lurah dan bu lurah. Acara selesai sekitar pukul 23.30 Wita, kembali ke kamar untuk menghempaskan diri ke bad cover. Sebelumnya kuhampiri Kak Titin yang terbaring lemah, beliau hanya sempat mengikuti acara pembukaan dan kembali di kamar. Aku tak berani membangunkannya, kupandangi wajah perempuan yang begitu kukagumi karena kesabarannya. “aku ingin menjadi tangguh sepertimu kak” batinku. Karena kondisi yang kian melemah, pada hari Rabu Kak Titin harus pulang setelah di jemput suaminya.

15-19 November 2011

Hari-hari yang penuh dengan materi, penuh cerita. Setiap paginya diawali dengan olahraga bersama. Jam 05.30 harus kumpul di depan lobi hotel (yang datang tepat waktu pasti nemu beberapa peserta yang ontime juga tiduran di shofa lobi hotel). Olahraga diawali dengan peregangan otot, kemudian jogging, dan ditutup dengan permainan yang berbeda setiap harinya. Salah satu permainan paling berkesan adalah permainan barongsai, yaitu permainan kepala menangkap ekor (yang gak tau sabar ye, kepanjangan kalo mesti di jelasin , hahay).

Selesai olahraga, kami kembali ke kamar masing-masing, mandi, siap-siap, sarapan dan kembali mengikuti materi. Momen sarapan, makan siang, makan malam, dan coffe break adalah saat-saat dimana kami mengakrabkan diri dengan peserta lainnya yang datang dari 8 provinsi lainnya. Setiap materi biasanya diawali dengan ice breaking dan pengantar dari Mc dan Moderator. Materi yang disampaikan sangat bagus dan sudah pastilah bermanfaat, beberapa materi itu diantaranya kebijakan nasional kepemudaan, islah KNPI, national security belt, strategi pembangunan karakter, solidaritas dan peran pemuda, Ansos, heart intelligence dan banyak lagi ilmu yang lainnya. Pada ice breaking materi pertama kami dibagi kedalam kelompok yang harus kami cari dengan gumaman nada, setelah nyasar di tiga kelompok jadilah aku berkumpul dengan komunitas Koesbini.

Tak ada gading yang tak retak, terkadang ada materi yang membuat bulu mata sedikit berat sehingga otak berfikir untuk menyudahi saja (red : tidur). Saat-saat rawan seperti ini biasanya aku siasati dengan cara memperhatikan keadaan peserta lainnya, terngiang sebuah kalimat seorang teman “jika kamu mengantuk saat menerima materi maka perhatikan orang yang mengantuk disekelilingmu”. Memperhatikan mereka yang senasib denganku, kadang ada yang  kelopak matanya turun naik dengan sangat lamban, ada yang anguk-angukan, ada yang bola matanya putih semua dan kondisi lainnya yang cukup menghibur.

Ini akan terus berlangsung jika aku mulai mengantuk, tentunya satu hal yang harus diperhatikan, jangan sampai orang yang anda amati mengetahui kalau dia diamati (whehe). Pernah suatu ketika aku mengamati seorang peserta (yang belakangan aku tahu dia kandidat dari Kalimantan) tertidur dengan lelapnya, sangat lelap bahkan. Posisi duduknya arah jam 8 di belakangku, aku menunggu saat-saat dia terbangun dengan kagetnya dan aku akan siap-siap menertawakannya. Dan saat itu tiba, dia terbangun dan langsung memandangku. Niat yang tadinya kukumpulkan untuk tertawa menjadi urung karena kepergok. Melesat membalik badan kedepan dan pura-pura focus ke materi, yang sebenarnya menahan rasa malu ketauan memperhatikannya (hihihi). “mungkin dy juga malu ketauan tidur saat materi ” pikiran positif untuk menghibur diri 😀 .

20 November 2011

Hari ini tidak lagi menjadi hari-hari penerimaan materi, bukan juga saatnya mencari korban keganasan materi (red: orang ngantuk). Hari ini fulltime untuk rekreasi, diawali outbond ke pantai Jimbaran Nusadua Bali. Di pantai ini kami bermain sepuasnya. Dikomandoi oleh Mas Agung Widodo, permaianan dimulai dengan ice breaking perkenalan, lanjut dengan games kecil kemudian intinya yaitu combat. Game combat ini memaksa kami menjadi dua kubu, berperang memperebutkan bola masing-masing yang harus dipertahankan. Sekitar pukul 11.00 wita kami menyudahi permainan dan kembali ke hotel, mandi, makan siang dan melanjutkan perjalanan.

Berikutnya kami menuju pusat oleh-oleh di bali yaitu Krisna Shop. Tak ada yang lain yang menarik selain gelang-gelang unik yang berjejer di depan, memilih beberapa yang sesuai dengan hati, dan beberapa barang lainnya yang diniatkan jadi oleh-oleh untuk kerabat di Lombok. Perjalanan selanjutnya, kami menuju pantai uluwatu, pantai ini merupakan tempat pura terbesar di Bali. Setelah puas jeprat- jepret , kami kembali meninggalkan lokasi yang penuh dengan makhluk bernama monyet. Perjalanan berikutnya menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK), pusat kebudayaan Bali yang sangat exotic. Bangunannya yang penuh dengan cerita sejarah. Setelah perasaan puas terpenuhi oleh indahnya lokasi ini, sekitar pukul 19.30 wita, kami kembali ke hotel. Mandi, makan dan lanjut dengan malam inagurasi. Dari masing-masing provinsi  harus menampilkan kebudayaannya sendiri.

Kami dari provinsi NTB, menampilkan video visit Lombok-sumbawa. Senam sasambo, dan nyanyian daerah sasak. Jujur, baru kali ini aku harus melakoni senam yang lebih pantes disebut tarian itu di depan ratusan orang. Rasanya memang untuk malam itu saja aku harus membuat error program di otak yang mempunyai tugas menimbulkan rasa malu. Inagurasi terus berlanjut sampai jam 03.00 wita pagi. Tapi sekitar pukul 01.00 aku pamit (sebenarnya minggat) dari ballroom menuju kamar untuk memberi waktu bagi mata untuk terpejam.

21 November 2012

Hari terakhir aku harus menatap mereka, sahabat-sahabatku yang datang dari berbagai provinsi. Setelah sarapan, kami memasuki ruangan kembali untuk mengikuti serangkaian agenda penutupan dari training. Agenda penutupan berlangsung dengan lancar. Walaupun beberapa peserta ada yang tertidur pulas. Agenda penutupan diakhiri dengan saling berjabat tangan, ada haru yang menyelinap tanpa izin saat agenda salam yang lebih mirip halal bihalal.

“kapan lagi aku bisa bertemu kalian, masih adakah kesempatan kedua kita berjumpa kembali” kalimat yang selalu terucap dalam hati saat menjabat tangan mereka. Sekitar pukul 12.00 wita kami pasukan NTB cek-out dan menuju bis yang akan mengantar kami ke bandara Ngurah-Rai. Di dalam bis, ternyata kami satu bis dengan peserta yang memergoki aku saat aku memperhatikan dia tidur saat materi. Senyum, hanya itu expresiku mengingat kejadian unik dan lucu itu. Dalam perjalanan satu harapan yang terucap dalam hati,

“semoga kita kembali bertemu dalam suasana yang lebih indah, di dunia ini atau di akhirat kelak” J

Inspirated by : someone like you, my “same identity”

Iklan

Mereka bilang kerudungku seperti nenek-nenek, padahal rambut sasak mereka seperti daun kering melambai.
Mereka bilang jilbabku ketinggalan zaman, padahal tank-top mereka seperti koteka zaman batu.

Mereka bilang ucapanku seperti orang yang ceramah, padahal rumpian mereka tak lebih indah dari dengungan segerombol lebah.
Mereka bilang cara berfikirku “ketuaan”, padahal umur kepala dua mereka tidak m

enjadikannya lebih dewasa dari seorang anak kecil berumur 5 tahun.

Mereka bilang tingkah polahku tidak enerjik, padahal laku mereka lebih menyerupai banteng seruduk sana-seruduk sini.
Mereka bilang dandananku pucat, padahal penampilan mereka lebih mirip dengan ondel-ondel.
Mereka bilang aku nggak gaul, padahal untuk mengenal konspirasi saja mereka geleng-geleng.

Mereka bilang:
aku sok suci..
aku tidak menikmati hidup..
aku nggak ngalir..
aku fanatik..
dan sok bau surga..

Ku jawab:
Ya, aku berusaha untuk terus mensucikan diri. Karena najis tidak pernah tidak mendapatkan tempat dimanapun berada, meskipun letaknya di atas tahta emas.

Ya, aku tidak menikmati hidup ini. Karena hidup yang kudambakan bukan hidup yang seperti ini yang lebih buruk dari hidupnya binatang ternak.

Ya, aku nggak ngalir. Aku adalah ikan yang akan terus bergerak, tidak terseret air yang mengalir sederas apapun alirannya. Karena aku tidak ingin jatuh ke dalam pembuangan.

Ya, aku fanatik. Karena fanatik dalam kebenaran yang sesuai fitrah adalah enyenangkan dibanding fanatik dalam kesalahan yang fatrah (kufur).

Ya, aku ingin mencium bau surga yang dijanjikan Tuhanku yang baunya dapat tercium dari jarak ratusan tahun cahaya. Betapa meruginya orang yang tidak bisa mencium bau surga, karena itu menandakan betapa jauhnya posisinya dari surga.

..Kullu maa huwa aatin qoribun
Segala sesuatu yang pasti datang itu dekat..

Manusia dibekali akal oleh Allah. Manusia diberi kebebasan untuk memilih hidupnya
Dan, there is only one choice.
Baik dan Buruk..
Benar dan Salah..
Surga dan Neraka..
Tidak ada pilihan Netral atau diantara kedua pilihan tersebut.

“Jika kamu menuruti kebanyakan manusia yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116).

Ada dua golongan dari penghuni neraka yang Aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang menyandang pecut seperti ekor sapi yg dipakai untuk memukuli orang-orang dan wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)

“Allah tidak akan mengingkari janji-janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui..” (QS. Ar-Rum:6)

 

*repost from page tetangga “senyum cinta muslimah*

Oh Ikhwan

Oh.. Ikhwan
Walaupun tidak terlalu rupawan
Alias modal tampang pas-pasan
Tetep aja tebar senyuman

Oh.. Ikhwan
Gayanya sih bisa ketebak dan ketahuan
Jenggot melambai, baju koko & mata kaki keliatan
Kalo ngomong pake ane, antum, afwan-afwan

Oh.. Ikhwan
Sudah banyak yang bertebaran
Ada di masjid, kampus bahkan perkantoran
Sering kali ada yang getol nyari penghasilan
Ngga taunya nyari modal buat walimahan

Oh.. Ikhwan
Kalo lagi aksi, semangatnya nggak diragukan
Pekikan takbir selalu di kumandangkan
Ngomong2… kamar dikosan kok berantakan?
(Aduh.. pulang jangan lupa diberesin Wan!)

Oh.. Ikhwan
Sepekan sekali ikut kajian
Hujan dan badai nggak jadi halangan
Juga ngga ketinggalan tiap acara kepartaian
(Tapi.. cuci dulu tuh baju rendeman..!)

Oh.. Ikhwan
Pagi-pagi jarang sarapan
Alesannya males masak atau belum dapet kiriman
Akhirnya kena sakit magh sama panuan
( Kok yang terakhir nggak nyambung Wan! Peace dah!)

Oh.. Ikhwan
Jarang banget yang mata duitan
Demi dakwah, hati ikhlas tanpa harap imbalan
Walau kerasa, nih perut keroncongan
( Sabar ya Wan!)

Oh.. Ikhwan
Anehnya kalau lagi jalan
Ngukurin tanah ape nyari duit jatoh sih wan?
Ooohh.. ternyata dia lagi jaga pandangan!!
(Lanjutkan Wan!)

Ikhwan… ikhwan….
Lucunya kalo ada akhwat berpapasan
Langsung minggir! Nunduk, acuh tak acuh kaya musuhan
( Mantabs Wan!!! Asal jangan bener2 musuhan ya Wan! )

Ikhwan… ikhwan…
Uniknya kalo lagi rapat gabungan
Pake pembatas alias hijab biar nggak bisa lirik-lirikan
Sering juga rapatnya peke SMSan
Kadang SMSnya malem2 sambil bangunin tahajudan
Upppss.. Yang ini cuma sesama ikhwan kan..??!!!

Oh.. Ikhwan
Badannya ade yang keker mirip binaragawan
Oh ternyata dia instruktur kepanduan
Biar di keroyok sama preman
Kagak bakal panggil bantuan

Oh.. Ikhwan
Jarang juga yang suka jajan
Mendingan nabung buat masa depan
Sekarang duitnya sudah banyak dalam celengan
(Eh, itu utang dibayar dulu Wan!)

Oh.. Ikhwan
Merasa sepi di tengah keramaian
Merindukan hadirnya bidadari penyemangat iman
Temen sekosan terasa sudah membosankan
Ditambah bisikan-bisikan setan yang kedengeran
Hemmm.. Istigfar Wan!

Oh.. Ikhwan
Pengen dapet istri yang wajahnya mirip artis di iklan
Yang nggak malu-maluin kalo diajak kondangan
Terus mulutnya yang nggak rame kaya petasan
Tiap 3 hari khatam Al Quran
Kelompok yang dibina udah lebih dar 20an
Setia sampe mati dan nggak mata duitan
Dan… setuju aja kalau suami mau cari istri tambahan

Oh.. Ikhwan

Tapi, seringnya harapan tidak sesuai kenyataan
Abis, nyari istri yang sempurna gitu kan kagak gampangan!
Apalagi kalo modalnya serba pas-pasan
Ya.. Murobbi juga nyariinnya bakal itung-itungan
Sabar deh Wan! Percaya aja sama yang Maha Rahman!

Oh.. Ikhwan
Nggak sengaja, liat ukhti minta bantuan
Jatoh dari motor masuk paretan
Hati berdebar mungkin ada harapan
Eeehh… taunya si Ukhti istrinya temen satu Liqo’an
(Gubrak..!! sungguh kasihan )

Huuhhh… Dasar Ikhwan!!!
Afwan ya Wan!!
yang nulis juga ikhwan…^^

Dikutip Dari: Ust.fathur rahman

Note:
Afwan jiddan untuk para ikhwan..
yang merasa kurang berkenan…
Ini pun udah pake editan..
Jangan melemah hai manusia pilihan..
…Peace for All…

Allahu Akbar!!!!!!!

Pesona

Aku terpaku menatap sosok yang sama lagi, seseorang yang berwajah bullet, cool, dengan gaya yang ya, lumayan cuek.

Hari ini ospek mahasiswa baru, aku meluncur dengan si hijau black motor bebek milikku. Aku memang bukan Mahasiswa lagi di kampus hijau ini, hanya saja aku ingin menikmati kembali tontonan yang disuguhkan kampus secara gratis. OPPS ,begitu akrabnya seremoni penyambutan MaBa ini.

Sampai di parkiran aku melangkah menuju sebuah teras, yang disana telah ada seorang rekan yang aku kenal, melambai-lambaikan tangan memintaku menuju ke tempatnya. Setelah say hello dan mulai mengobrol ringan sembari menikmati nostalgia, akupun duduk bersender pada sebuah beton penyangga bangunan putih yang dulunya adalah tempatku menimba dan membagi ilmu. Kuperhatikan lalu lintas mondar mandir Maba yang manut saja disuruh meminta tanda tangan panitia.

Terkenang saat dulu, ketika aku harus memohon-mohon meminta tanda tangan panitia, push up harus kami terima saat tanda tangan kurang dari target. Muak rasanya mengingatnya. Terkenang juga saat mereka mengerubini aku untuk meminta tanda tangan yang dari semuanya hampir tidak ada yang dapat menulis nama lengkapku dengan benar. Geli bila mengingatnya, akan tertoreh senyum simetris dari mulutku.

Lama bengong memperhatikan mondar mandir anak-anak maba. Mataku tertuju pada satu sosok yang sering membuatku penasaran, sosok cool, dengan sifat cuek indahnya melintas di depanku. Entah sengaja atau tidak mataku tak lelah mengikuti tubuh yang terlihat letih, dengan pakaian ospek lusuhnya namun tetap cool bagiku. Dia mendekat ke arahku tanpa sedikitpun melihat pada mataku yang sedari tadi menatapnya.

Dan ya, dia duduk di bawah teras tempatku hanya untuk meminta tanda tangan seorang panitia yang kebetulan duduk di bawah teras tempatku bertumpu. Sekali lagi, entah sengaja atau tidak, mataku tak letih menatap tubuh itu. Walau wajah manisnya menatap ke arahku, sejenak, hanya sejenak. Sejenak melihatku berharap jawaban yang dia inginkan. Seingatku, saat itu dy bertanya tentang nama lengkap panitia yang ingin dy mintai tanda tangannya. Ah.. sesal rasanya aku tak mengetahui siapa nama lengkap panitia itu.  Yang tidak lain adalah patnerku saat kami sama-sama meng-ospek 2 tahun yang lalu.

Sesal rasanya tak dapat membantu adik yang tak mau hilang dari mataku. Sejenak, ya hanya sejenak dia menatapku. Dan segera berbalik menunduk lagi setelah tau nama lengkap pemilik tanda sang tangan. Apapun namanya, aku suka. Ya aku suka melihat gaya anak itu. Saat itu yang terlintas adalah bagaimana caranya agar aku bisa berteman dengannya. Tidak lebih, karena aku tidak berminat untuk lebih. Hanya teman atau, aku berharap aku bisa menjadi kakak perempuannya. Itu saja.

Namun bagiku itu hanya hayalan kelas teri, mana bisa aku dekat dengan seorang maba saat aku sudah tidak memiliki rutinitas di kampus hijau ini. Entahlah, aku tak mau repot dengan harapan-harapan Blank On. Kuputuskan untuk melangkah kaki ke mushola kampus untuk menemani seorang sahabat yang berhajat untuk menunaikan sholat magrib.

Selepas itu aku pulang, wajah si cool (aku memanggilnya, ya sosok sejenis itu aku bilang cool) terlintas hanya sesaat. Setelahnya aku lupa. Karena aku disibukkan dengan aktifitas baruku. Dunia kerja.

Hari ini, aku kembali menekan gas motosku dengan kecepatan yang lumayan lah bagi perempuan sepertiku. Aku buru-buru ke kampus, untuk dapat menyaksikan acara pembantaian (ujian seminar) seorang sahabat. Namun nihil, aku tak dapat menikmati tontonan gratis lainnya dari kampus karena tontonan itu telah usai. Berkumpul dengan mereka yang kami katakan puing-puing angkatan kami membuatku sedikit terhibur dari rasa kecewa.

Tak lama kami memutuskan untuk beranjak untuk mencari pendamai bagi perut kami masing-masing. Lewat di parkiran, aku, tepatnya mataku entah sengaja atau tidak kembali menangkap sosok cool yang 2 hari lalu kulihat juga di tempat ini.

Aku terdiam, bukan karena aku kehilangan kata-kata, namun karena memang tak ada yang harus ku ungkap. Kuperhatikan stylenya hari ini. Dan ya, aku terpesona dengannya. Gaya cueknya yang tidak sembarang cuek, gaya cueknya yang beda yang aku suka, kembali terlintas di hayalanku.

Akankah kita akan berteman suatu saat nanti ? bisakah kita menjadi saudara? Aku ingin menjadi kakak perempuanmu, dan aku ingin kamu menjadi adik perempuanku yang manis. Ya, entah siapa namanya, aku telah terpukau dengan seorang gadis cuek tapi manis dan masih polos itu.

Obsesi memiliki saudara perempuan, aku sudah memiliki banyak, namun tak ada salahnya kan kalau aku ingin menambah saudara lebih banyak lagi.

End.

Menjadi Cinta Terlarang

Menjadi Cinta Terlarang

Semilir hembusan angin tertiup manja pada wajahku dibalik jendela, di luar sana rintik-rintik gerimis mulai berkejaran. Suara merdu dari ringtone hape ku berbunyi, “Ad’Tino calling”

“Assalamu’alaikum Tino, ada apa ?”

“Wa’alaikumsalam kak’Diya, Mama masuk Rumah Sakit lagi, kali ini butuh darah 8 kantong”

“Astagfirullah, ya Tino, sekarang aku ke RS”

Kusambar jaket ungu kesayangan, dan meluncur ke Rumah Sakit.

***

Tubuhnya kurus, bisa dibilang kulit membaluti tulang. Rambut yang mulai menipis karena rontok. Muncul bintik kemerahan dikulitnya yang semakin lama bertambah banyak. Ketika kudekati tubuh itu, dia tersenyum teduh memandangku. Kuraih tangannya dan kukecup.

“Gimana keadaan tante ?”

“Ya beginilah, Alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup”

Jawaban tanteku, istri dari Om, adik Ayahku. Sekaligus Mama dari orang yang selama ini aku taksir, sepupuku Vino kakaknya Tino. Tante kini terbaring lemah karena Leukemia yang menggerogoti tubuhnya. Sudah berbulan-bulan, namun tante belum diberi ijin untuk sembuh oleh-NYA. Entah sudah berapa banyak waktu, materi yang harus dikorbankan keluarganya. Tapi kembali lagi, yang menentukan hanyalah DIA Sang Maha Penentu.

Malam itu, Tino memintaku untuk menginap di Rumah Sakit karena kakaknya Vino tak bisa menemaninya. Tapi tak bisa kupenuhi, karena seabrek kerjaan yang harus aku selesaikan. Ada rasa marah ketika aku mengetahui alasan sepele Vino tidak bisa menemani Mamanya yang sakit. Hanya karena ada acara teman kampusnya, sejenis syukuran. Entahlah, perasaanku bercampur aduk, antara marah dan cemburu. Aku marah karena dia lebih mementingkan acara Dilla temannya daripada Mamanya. Dan aku cemburu karena Dilla.

***

Tiba di rumah, aku hempaskan tubuh di atas kasur empuk kamarku yang dominan berwarna ungu kesukaanku. Tak sempat bercerita pada Bunda, aku lelap dalam tidurku. Tengah malam handphone ku berdering, terlihat di layarnya, Tino memanggil. Ada sedikit khawatir di hatiku.

“Assalamu’alaikum, kak’Diya Mama telah pergi, dipanggil kembali oleh-NYA”

Sesak dadaku mendengar kalimat itu terlontar.

“Innalillahiwainnailaihi rojiun, sabar d’, yang ikhlas ya. Sebentar aku ke rumah sakit”

Telepon terputus, dan aku melaju ke Rumah Sakit bersama Bunda. Di Rumah Sakit, sudah ramai orang. Kulihat mata Tino sembab, namun, dia masih sempat tersenyum melihat kedatanganku. Senyum yang membuatku getir. Kudekati wajah kaku itu, kucium dahinya. Terasa dingin. Kulihat Tino yang duduk di shofa menangis lagi. Bunda masih ditepi ranjang tempat jasad tante terbaring. Kudekati Tino, kutepuk-tepuk pundaknya dan berharap ada kelegaan padanya. Air mataku ikut meleleh. Kuperhatikan ruangan, aku tersadar tak ada Vino disana.

“Vino mana Tino, belum datang??”

“Dia tadi pergi jemput kak’Dilla, katanya mau ikut nganterin jasad Mama ke rumah.”

Hatiku meletup-letup, cemburu kembali menggelayuti. Segera kutepis rasa itu, karena bukan saatnya aku harus cemburu. Di saat suasana duka seperti ini.

***

Langit mendung, gerimis pun menemani pemakaman jenazah tante. Aku masih berdiri disamping Tino. Air matanya tak henti. Aku terharu, dan memaksaku untuk menangis juga. Ya, karena aku benci menangis. Kulihat diseberang sana, Dilla membelai rambut Vino yang juga tak hentinya menangis. Sejujurnya aku ingin di posisi itu, sebagaimana Vino ada disampingku dulu saat kondisi yang hampir sama, saat Ayahku meninggal. Dia yang menguatkanku, membelai kepalaku dan membisikkan kata-kata untuk meneguhkan aku kembali. Kini disaat kami bertukar posisi di kondisi yang sama. Aku tak bisa melakukan apa yang pernah dia lakukan dulu. Disampingnya ada Dilla, dan mungkin hanya Dilla yang mampu membuatnya tenang. Aku tak ingin lagi cemburu. Aku bosan jika harus terus terganggu dengan rasa itu. Aku juga akan bahagia jika dia bahagia dengan Dilla. Sejenak mata kami bertemu. Sejenak, karena segera kupalingkan wajah menatap makam yang masih basah.

“Tino, kalo butuh apa-apa, bilang saja. Aku usahakan bantu”

“Ya kak, makasi. Makasi juga atas bantuannya selama ini. Udah mau jagain Mama selama sakit. Aku tak bisa membalasnya, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kakak”

Sekilas percakapan kami saat beriringan berjalan pulang. Kupandangi langit mendung. Semendung hatiku yang telah kehilangan tante. Semendung hatiku yang mengharuskan aku mulai melupakan Vino. Aku relakan dia dengan Dilla.

***

Dua pekan meninggalnya tante, Dua pekan itu juga aku tak pernah kontak langsung dengan Tino. Aku terpaksa sibuk dengan pekerjaan yang selama ini aku sampingkan untuk menemani Tante. Hingga sampai handphone ku berdering.

Kak’Diya lagi dimana ? Sibuk enggak ? jalan-jalan yuk, Kak Vino sibuk urusin Kak Dilla daripada adiknya. Mumet. Ketemu di tempat favorit aku ya.

Sms Tino baru saja kubaca, sebenarnya aku sangat malas beranjak dari tempat dudukku dengan buku yang seperempat bagian lagi akan kuselesaikan. Perpustakaan kota ini adalah tempat yang paling nyaman bagiku. Tapi aku tak tega juga menolak permintaan seepupu yang sudah seperti adik kandungku itu. Dia pasti tak akan mau jika aku memintanya ke perpustakaan saja, karena tempat ini adalah salah satu tempat yang membosankan baginya. Kalaupun mau pasti itu karena terpaksa. Aku balas sms nya.

Okey, aku akan kesana 15 menit lagi.

Kurapikan buku-buku itu kembali ke peraduannya, aku raih ransel dan meluncur menuju pantai, tempat favorit yang dia maksud. Sepuluh menit aku sudah di tepi pantai. Tak sulit menemukan orang yang sangat aku kenal. Yang aku lihat hanya tampak belakang badannya yang tegap. Walaupun dia 2 tahun dibawahku, tingginya lebih 10 centimeter dariku. Aku mendekat, kuucap salam yang diikuti jawaban darinya. Aku duduk di sampingnya. Dan memulai pembicaraan.

Mumet kenapa Tino?”

“Biasa kak, lagi butuh temen. Kak Vino atau Papa sibuk dengan urusannya masing-masing. Kak, aku beberapa hari ini kepikiran terus sama seseorang. Aku enggak tau mengapa, kangen aja rasanya. Satu pekan ini aku berusaha sekuat tenaga untuk tak menghubunginya. Berharap dia yang menghubungiku, tapi ternyata dia begitu sibuk sampai tak ada waktu untuk sekedar menanyakan kabarku. Hingga akhirnya aku mengalah pada pertahananku. Dan menghubunginya tadi.”

“waw, kau sedang jatuh cinta no? ehm… cewek mana yang telah membuat hatimu itu jatuh ? Temen Kuliah ? Mifta? Sarah? Atau Vanny?”

Ku absen satu-satu nama cewek yang kira-kira dia taksir. Aku bisa tau nama-nama itu ketika mereka bergantian datang menjenguk Tante dulu.dan gelengan kepala yang aku dapatkan sebagai pernyataan bukan darinya.

“terus siapa ? kan tiada dusta antara kita, hehe..”

“Memang, tapi aku belum siap kak’Diya tau siapa dia. Aku juga belum mengungkapkannya ke dia, aku takut ketika dia tau, dia akan menjauhiku. Aku menyayaginya, dan tak mau kehilangannya.”

“Lalu,, kau akan terus diam memendam sendiri? Bagaimana mungkin Tino tau perasaannya kalau Tino gak ungkapin? Atau emang mengalah sebelum berperang. Tenang aja Tino, Cuma cewek idiot yang nolak tino. Hehe..”

“Aku tau perasaannya, dia juga menyanyangiku, tapi rasa sayangnya…”

Kata-kata Tino terputus karena ada bapak-bapak yang datang menawarkan kami barang jualannya.

“permisi, mau menawarkan gelang seni daerah ini, ada juga beraneka assesoris perempuan lainnya. Cocok ne buat ceweknya mas.”

“Cewek aku? Ow ya dong, cewekku suka warna ungu, aku ambil yang ini, bagaimana cantik? Kau suka?” Kata Tino berlagak romantis. Dengan tersenyum aku balas guyonannya.

“aku akan selalu suka pilihanmu”

Gelang ungu bercorak putih itu pun terbeli juga. Tino memakaikan gelang itu di tanganku. Gelang yang cantik, cantik karena warnanya ungu. Kesukaaanku. Bapak itu pamit pergi, namun ada kata lucu yang dia ucapkan sebelum pergi.

“Kalian serasi, cowoknya ganteng, ceweknya cantik. Kalian mirip, matanya mirip sekali, sepertinya jodoh. Bapak doakan hubungan kalian baik-baik saja”

“Amiiiiiinnnnn” jawab Tino.

Aku dan Tino berpandangan, aku tertawa ngakak namun dia tetap tersenyum.

“Ya ialah mirip, orang sepupuan. Malah beneran bapak itu mikir kita pacaran Tino” kataku masih setengah tertawa.

Tino, tak menjawab, dia hanya senyum. Yang mulai terlihat senyum misterius bagiku. Biasanya dia heboh jika ada hal-hal konyol seperti tadi terjadi. Aku mulai terdiam, mungkin dia masih kepikiran dengan cewek yang dia taksir. Kupalingkan wajah ke arah senja yang mulai merah. Teringat pada sosok yang sangat menyukai warna merah, Vino. Sosok yang kini tidak seperti dulu lagi, hatinya mungkin telah sepenuhnya terisi oleh Dilla. Aku akan berusaha menghilangkan rasa yang bertepuk sebelah ini. Karena tak akan ada bunyi jika tangan yang satunya tak ikut bertepuk. Aku akan mengikhlaskannya.

“Kak, lebih baik aku jujur sebelum terlambat. Karena aku tau, ada yang juga sangat mencintai dia.” Perkataan Tino membuyarkan lamunanku.

“Yep, bener itu No” Jawabku seadaanya.

Kulihat gurat senyum itu makin merekah diwajahnya. Entahlah, akupun bahagia melihatnya bahagia. Aku berharap cewek yang dia taksir tak menolaknya. Karena aku tak ingin adik sepupuku sakit hati. Cukup dia sedih kehilangan salah satu orang yang dicintainya, Mamanya. Kami pun beranjak pulang, langit makin mulai menampakkan senja. Tentu dengan motor masing-masing, kulihat dari kaca spion Tino mengiringi dibelakangku. Kami berpisah di persimpangan. Tangannya melambai ketika dia harus belok kiri, aku masih harus terdiam karena lampu hijau belum juga menyala.

***

Tiga hari berturut-turut aku mendapatkan bunga mawar ungu tergeletak segar di depan pintu rumahku,tepatnya di atas keset bertuliskan “welcome”. Aku sangat suka, namun yang tak kusuka adalah caranya yang pengecut.

“Seandainya dia tau, aku lebih menghargai pemberian bunga beserta akarnya. Sudahlah yang tau itu hanya Vino. Dan sudah pasti ini bukan dari Vino” aku membatin. Aku mengambil mawar segar itu dan kuletakkan di dalam gelas yang telah terisi air. Hari ke empat mulai beda. Aku menerima mawar indah yang masih segar lengkap dengan akar dan vas mungilnya. Ada 3 tangkai bunga ungu yang rata-rata masih kuncup. Seolah sang pengirim rahasia itu menbaca pikiranku kemarin. Masih sibuk dengan rasa penasaran, kuraih mawar ungu itu dan kuletakkan di pelataran depan kamarku. Ada bisikan lembut dari pikiran yang sebenarnya sudah aku benam. Berharap ada vino disana, karena hanya Vino yang tau bahwa aku lebih suka bunga yang lengkap dengan akar dan pohonnya. Kembali lagi aku harus menepisnya, karena itu tak mungkin. “Sudahlah ya,kau sudah berjanji merelakan Vino untuk Dilla”. Kembali membatin.

Nada yang sangat kukenal mulai terdengar, hape ku berdering.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam, kak Diya, hari ini sibuk ?”

“lumayan, kenapa no?”

“abis magrib, temenin aku beli boneka buat cewek yang aku taksir. Rencananya malam ini aku mau ungkapin perasaanku, bisa ?”

“Owh, okey..akan selalu bisa untuk adikku yang satu nie”

“aku harap begitu, tidak ada kata tidak,hehe..jam 8 aku jemput ya kak?”

“yep…I will wait for u”

Telpon terputus setelah ucapan salam darinya.

***

Kuselesaikan 3 ayat terakhir surat Al-Kahfi, saat Tino datang dengan senyumnya yang kian merekah. 10 menit untuk siap-siap dan kami pun melaju menuju toko boneka.

“kalo yang ini bagaimana kak ?”

“wow, cantik No.”

Tanpa menanggapi komentarku lagi, Tino berjalan ke arah kasir dan membayarnya. Puas rasanya melihat dia tersenyum bahagia karena hatinya yang penuh ditumbuhi bunga. Namun aku harus tetap kecewa karena sampai saat ini aku tidak tau siapa cewek yang dia taksir.

“Kalau sudah waktunya, kak Diya akan tau, tunggu saja. Malam ini boneka ini akan sudah ada pada pemiliknya”

Jawaban yang selalu sama akan kuterima saat aku menanyakan hal yang sama pula. Tepat pukul 9 malam aku menyelesaikan sholat dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang harus aku tunda sejak magrib tadi. Paginya aku terbangun dalam kondisi tidak biasanya, karena tertidur di atas meja kerjaku.

***

Jam 3 Pagi aku terbangun dengan sedikit linglung, kepalaku pusing. Bisa jadi karena posisi tidur yang tidak sempurna. Saat bangun menuju kamar mandi, aku menatap sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Kuperhatikan benda ungu di hadapanku, dan tersadar yang aku tatap itu apa. Hatiku tidak karuan, kaget, takut, dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kupastikan lagi otakku tidak sedang pusing, sehingga retinaku tidak salah menangkap bayangan di hadapanku. Tersungkur, itulah yang terjadi. Hatiku perih menatap boneka warna ungu yang baru beberapa jam lalu dibeli Tino untuk cewek yang dia taksir.

“Tidak mungkin aku, ini tidak mungkin. Dia pasti lupa membawa pulang”

Kupenuhi otak dengan peemikiran positif, bahkan lebih tepatnya penyangkalan atas kenyataan yang harus aku hadapi. Aku berjanji, tidak akan ada lagi kesedihan pada Tino. Namun, akan terlanggar ketika ucapan penolakan itu harus terlontar. Karena hatiku belum bisa berpaling ke lain hati. Aku sering memaksa hati untuk menyingkirkan Vino dari posisinya, tapi itu sungguh sulit. Jika aku menerima dan menjalani hubungan ini, aku pastikan itu akan lebih menyiksa dia, saat dia tau penerimaan ini berasas belas kasihan. Hal ini sangat berat bagiku, aku menyayanginya layaknya adik kandung. Kulalui  sepertiga malam terakhir ini dengan bermunajat pada-Nya. Ketenangan itu mulai mengalir.

***

Bagaimana? Jawaban apa yang aku dapatkan?

Sms Tino yang dari satu jam lalu belum juga aku balas. Dilema. Namun harus segera kuselesaikan. Aku putuskan untuk menceritakan hal ini pada bunda. Aku ingin pendapat terbaik itu bisa aku dapat darinya.

“Ada kabar gembira yang ingin bunda sampaikan nak”

Kalimat Bunda megurung niatku untuk meminta pendapatnya. Kutatap wajahnya yang merona bahagia. Aku duduk disampingnya, terdiam menanti lanjutan kalimat itu. Kabar bahagia apa yang membuat Bunda tak seperti biasanya.

“Ada seseorang yang berniat suci, ada yang melamar Bunda nak, bagaimana menurutmu?”

Kaget. Sejujurnya aku tak siap memiliki pengganti ayah di rumah ini, namun melihat kebahagiaan itu terpancar dari wajah sang bunda. Akupun mengiyakan.

“Siapa orangnya bun? Bapak baru untuk Diya ?”

“Sementara, Bunda belum bisa kasitau, nanti malam kita akan bertemu. Jadi kosongkan agendamu habis magrib. InsyaAllah kamu akan setuju. Dan kamu akan cepat menyayanginya”

Akan cepat menyayanginya? Kalimat Bunda terngiang di benakku. Maksudnya apa. Aku kembali terganggu dengan pertanyaan Tino yang belum sempat aku balas. Ketukan pintu diiringi salam lembut sang pemilik tangan membuyarkan lamunanku. Aku beranjak ke arah pintu. Dan..

“Dilla??? Tumben, ada apa nie ? masuk dulu La”

Wajah pucat Dilla hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. 5 menit kemudian, aku suguhkan segelas es jeruk. Dan berniat menanyakan kembali maksud kedatangannya. Namun, tanpa aku minta dia sudah mengerti apa yang aku pikirkan.

“Aku mencintai dia, awalnya aku berharap dia pun begitu. Tapi aku salah, sedikitpun hatinya tak pernah ada untukku. Hatinya tetap pada satu nama. Selama ini perhatiannya padaku hanya berlandas belas kasihan. Kasiahan pada seorang wanita yang lemah, penyakitan. Hanya rasa kasihan. Tidak lebih.”

“Maksudnya apa La’? kamu sakit apa ?”

“Dia hanya cinta sama kamu Ya’, Vino hanya mencintaimu. Selama ini kamu salah paham. Dia tidak pernah bisa mencintaiku. Dia hanya kasihan padaku, karena aku sama seperti mamanya. Aku kena leukemia Ya’.”

Terdiam. Entah apa yang salah dengan hari ini. Hari yang dirangkai penuh dengan kejutan. Satu sisi ada kebahagiaan yang mengalir. Cintaku selama ini tak bertepuk sebelah tangan. Namun sisi lain aku perihatin melihat kondisi Dilla yang kini di depanku berwajah pucat dengan wajah tirusnya yang menampakkan cekungan yang semakin memperlihatkan betapa kurusnya dia. Tino, Vino, Dilla. Mereka bertiga kini menciptakan berbagai rasa. Kebingungan melanda. Saat aku dengan Vino, aka nada 2 hati yang tersakiti. Tino dan Dilla. Begitupula saat aku dengan Tino, aku dan Vino yang akan tersakiti.

“Rabbi, tolong aku, aku tidak tau harus bagaimana. Tunjukkan aku jalan untuk semua masalah hati ini Ya Allah”. Batinku memohon.

***

Pukul 19.00 Bunda mengajakku keluar untuk menemui seseorang yang telah berhasil membuat Bunda menyisihkan sebagian hatinya untuk pria itu. Hatiku yang masih galau dengan kejadian hari ini mampu membuat hilang rasa penasaranku. 20 menit kemudian kami sampai di sebuah resto. Mataku menangkap sosok yang sangat tak asing. 3 tubuh tegap itu sangat aku kenal. Nalarku semakin tak bisa menerima saat Bunda memperkenalkan dia adalah calon ayah baru bagiku. Hatiku lebur rasanya, karena yang aku tatap kini adalah Om, ayah dari dia yang kucintai dan mencintaiku.

“Tante, Diyya??”

“Kak Diyya??”

Hampir serempak Vino dan Tino menyebut namaku, kutatap mereka. Yang sama tak kalah terkejutnya denganku. Vino, yang aku cinta kini tak ada harapan lagi. Tino yang aku sanyangi kini harus kecewa karena dia tak memerlukan jawaban lagi dariku. Aku pusing, otakku tak mampu berpikir menerima kenyataan yang begitu memaksa ini. Lambat laun wajah mereka semakin samar kulihat. Dan gelap hatiku berbisik. Inilah jawaban atas doaku, Dia Maha Adil, karena kini semua yang tersakiti. Cinta segitiga kami menjadi terlarang. Dan tak ada yang menang!!!

Galau ?? Buruan Move On !!!

Kita pasti udah gak asing lagi sama satu kata yang sering banget diucap sama anak remaja jaman sekarang (yang gak tau kata ini di ragukan keremajaannya.. Lho? 😀 ). Faktanya, kita sering banget melihat  status fb remaja bertemakan “Galau”. Begitu juga dengan di twitter, hastag “galau” per hari bisa sampai ratusan loh..

Guys, galau itu sendiri ada banyak macamnya. Galau karena kerjaan, galau karena keluarga, galau karena masalah cinta. Galau yang terakhir ini yang paling banyak menyerang remaja kayak kita-kita ini guys (yang tau usia penulis gak pake protes yak :D). Galau karena masalah cinta ini biasanya terjadi kalo manusia terlalu mencintai pasangannya melebihi cintanya kepada Sang Pencipta Cinta. Nah loh, ngaku gak. Oke, kita mulai pembahasan seriusnya.

Sebagian orang mengalami kegalauan hati yang begitu hebat saat ditimpa masalah, khususnya terkait asmara dan percintaan. Padahal, terus terjebak dalam keterpurukan justru berbahaya, karena berpotensi ke berbagai hal buruk. Padahal lagi guys, 1 menit kita bersedih sama dengan 60 detik kita telah menunda merasakan kebahagiaan. Dalam Qur’an Allah berfirman “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40). Bagi mereka yang merasa stuck, ada baiknya segera menemukan jalan untuk bangkit alias Move On. Nah, how to get it ??? berikut 4 tips untuk Move On dari kegalauan, check it out J

  1. Sabar

Guys, tau gak ? Rasululloh pertama kali yang dilakukan ketika di hadapi cobaan yang tiada henti adalah tetap menjaga jiwanya pada  bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaranlah seseorang lebih bisa menghadapi step by step ujiannya. Dan ingat, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar (Al-Baqarah :153). So buat kau yang abis di putusin pacarnya, kemudian kamu bersabar, InsyaAllah kamu bakalan mendapat gantinya yang lebih baik. Yups, pacar kamu yang selingkuhin kamu bisa jadi diganti sama seorang laki-laki yang lebih siap menjadi suami kamu (pesen buat cewek nih J).

#BuruanMoveOn

  1. Adukan semuanya kepada Allah

Guys, selain dengan bersabar, Rasululloh juga mengadu kepada Allah ketika ditimpa musibah yang berat. Harusnya kita yang mengaku sebagai

ummatnya Nabi Muhammad juga mengikuti beliau. Jadi ketika ada masalah, mengadulah pada Allah (jangan ngadu di fesbuk doank), karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk. Seperti dalam ayat yang sering banget kita ucapkan waktu sholat, “Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

#BuruanMoveOn

  1. Positive thingking (posting)

Posting sangat membantu kita buat mengatasi rasa galau yang melanda. Guys, kita harus yakin bahwa segala yang terjadi di dunia ini sudah ada yang mengaturnya. Dan berpikir positiflah bahwa apa yang terjadi pasti ada mutiara hikmah dibaliknya. Bukankah Janji Allah nyata bahwa setiap kesulitan, sesudahnya aka nada kemudahan (QS Al-Insyirah : 5-6).

#BuruanMoveOn

  1. Mengingat Allah (Dzikrullah)

Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. Sering banget kita denger kalimat itu guys. Tapi, terkadang kita lalai dalam praktiknya. Mau makan, ingat pacar. Mau tidur ingat pacar. Mau mandi ingat pacar. Terus ingat Allah nya kapan?? Jadi wajar aja kalo ada yang sampai kena sindroom galau tingkat nasional, jarang ingat Allah sih. Guys, cobalah dalam setiap apapun yang kita lakukan kita senantiasa selalu mengingat Allah. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

#BuruanMoveOn

Finally, we arrive at the final discussion.. ^o^)//

 Masih mau buang waktu buat galau ?? harusnya sh gak, karena kita sudah tau kiat-liat buat Move On. Jangan galau, Allah bersama kita..

Salam ukhuwah Intan a Lilium