Menjadi Cinta Terlarang

Menjadi Cinta Terlarang

Semilir hembusan angin tertiup manja pada wajahku dibalik jendela, di luar sana rintik-rintik gerimis mulai berkejaran. Suara merdu dari ringtone hape ku berbunyi, “Ad’Tino calling”

“Assalamu’alaikum Tino, ada apa ?”

“Wa’alaikumsalam kak’Diya, Mama masuk Rumah Sakit lagi, kali ini butuh darah 8 kantong”

“Astagfirullah, ya Tino, sekarang aku ke RS”

Kusambar jaket ungu kesayangan, dan meluncur ke Rumah Sakit.

***

Tubuhnya kurus, bisa dibilang kulit membaluti tulang. Rambut yang mulai menipis karena rontok. Muncul bintik kemerahan dikulitnya yang semakin lama bertambah banyak. Ketika kudekati tubuh itu, dia tersenyum teduh memandangku. Kuraih tangannya dan kukecup.

“Gimana keadaan tante ?”

“Ya beginilah, Alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup”

Jawaban tanteku, istri dari Om, adik Ayahku. Sekaligus Mama dari orang yang selama ini aku taksir, sepupuku Vino kakaknya Tino. Tante kini terbaring lemah karena Leukemia yang menggerogoti tubuhnya. Sudah berbulan-bulan, namun tante belum diberi ijin untuk sembuh oleh-NYA. Entah sudah berapa banyak waktu, materi yang harus dikorbankan keluarganya. Tapi kembali lagi, yang menentukan hanyalah DIA Sang Maha Penentu.

Malam itu, Tino memintaku untuk menginap di Rumah Sakit karena kakaknya Vino tak bisa menemaninya. Tapi tak bisa kupenuhi, karena seabrek kerjaan yang harus aku selesaikan. Ada rasa marah ketika aku mengetahui alasan sepele Vino tidak bisa menemani Mamanya yang sakit. Hanya karena ada acara teman kampusnya, sejenis syukuran. Entahlah, perasaanku bercampur aduk, antara marah dan cemburu. Aku marah karena dia lebih mementingkan acara Dilla temannya daripada Mamanya. Dan aku cemburu karena Dilla.

***

Tiba di rumah, aku hempaskan tubuh di atas kasur empuk kamarku yang dominan berwarna ungu kesukaanku. Tak sempat bercerita pada Bunda, aku lelap dalam tidurku. Tengah malam handphone ku berdering, terlihat di layarnya, Tino memanggil. Ada sedikit khawatir di hatiku.

“Assalamu’alaikum, kak’Diya Mama telah pergi, dipanggil kembali oleh-NYA”

Sesak dadaku mendengar kalimat itu terlontar.

“Innalillahiwainnailaihi rojiun, sabar d’, yang ikhlas ya. Sebentar aku ke rumah sakit”

Telepon terputus, dan aku melaju ke Rumah Sakit bersama Bunda. Di Rumah Sakit, sudah ramai orang. Kulihat mata Tino sembab, namun, dia masih sempat tersenyum melihat kedatanganku. Senyum yang membuatku getir. Kudekati wajah kaku itu, kucium dahinya. Terasa dingin. Kulihat Tino yang duduk di shofa menangis lagi. Bunda masih ditepi ranjang tempat jasad tante terbaring. Kudekati Tino, kutepuk-tepuk pundaknya dan berharap ada kelegaan padanya. Air mataku ikut meleleh. Kuperhatikan ruangan, aku tersadar tak ada Vino disana.

“Vino mana Tino, belum datang??”

“Dia tadi pergi jemput kak’Dilla, katanya mau ikut nganterin jasad Mama ke rumah.”

Hatiku meletup-letup, cemburu kembali menggelayuti. Segera kutepis rasa itu, karena bukan saatnya aku harus cemburu. Di saat suasana duka seperti ini.

***

Langit mendung, gerimis pun menemani pemakaman jenazah tante. Aku masih berdiri disamping Tino. Air matanya tak henti. Aku terharu, dan memaksaku untuk menangis juga. Ya, karena aku benci menangis. Kulihat diseberang sana, Dilla membelai rambut Vino yang juga tak hentinya menangis. Sejujurnya aku ingin di posisi itu, sebagaimana Vino ada disampingku dulu saat kondisi yang hampir sama, saat Ayahku meninggal. Dia yang menguatkanku, membelai kepalaku dan membisikkan kata-kata untuk meneguhkan aku kembali. Kini disaat kami bertukar posisi di kondisi yang sama. Aku tak bisa melakukan apa yang pernah dia lakukan dulu. Disampingnya ada Dilla, dan mungkin hanya Dilla yang mampu membuatnya tenang. Aku tak ingin lagi cemburu. Aku bosan jika harus terus terganggu dengan rasa itu. Aku juga akan bahagia jika dia bahagia dengan Dilla. Sejenak mata kami bertemu. Sejenak, karena segera kupalingkan wajah menatap makam yang masih basah.

“Tino, kalo butuh apa-apa, bilang saja. Aku usahakan bantu”

“Ya kak, makasi. Makasi juga atas bantuannya selama ini. Udah mau jagain Mama selama sakit. Aku tak bisa membalasnya, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kakak”

Sekilas percakapan kami saat beriringan berjalan pulang. Kupandangi langit mendung. Semendung hatiku yang telah kehilangan tante. Semendung hatiku yang mengharuskan aku mulai melupakan Vino. Aku relakan dia dengan Dilla.

***

Dua pekan meninggalnya tante, Dua pekan itu juga aku tak pernah kontak langsung dengan Tino. Aku terpaksa sibuk dengan pekerjaan yang selama ini aku sampingkan untuk menemani Tante. Hingga sampai handphone ku berdering.

Kak’Diya lagi dimana ? Sibuk enggak ? jalan-jalan yuk, Kak Vino sibuk urusin Kak Dilla daripada adiknya. Mumet. Ketemu di tempat favorit aku ya.

Sms Tino baru saja kubaca, sebenarnya aku sangat malas beranjak dari tempat dudukku dengan buku yang seperempat bagian lagi akan kuselesaikan. Perpustakaan kota ini adalah tempat yang paling nyaman bagiku. Tapi aku tak tega juga menolak permintaan seepupu yang sudah seperti adik kandungku itu. Dia pasti tak akan mau jika aku memintanya ke perpustakaan saja, karena tempat ini adalah salah satu tempat yang membosankan baginya. Kalaupun mau pasti itu karena terpaksa. Aku balas sms nya.

Okey, aku akan kesana 15 menit lagi.

Kurapikan buku-buku itu kembali ke peraduannya, aku raih ransel dan meluncur menuju pantai, tempat favorit yang dia maksud. Sepuluh menit aku sudah di tepi pantai. Tak sulit menemukan orang yang sangat aku kenal. Yang aku lihat hanya tampak belakang badannya yang tegap. Walaupun dia 2 tahun dibawahku, tingginya lebih 10 centimeter dariku. Aku mendekat, kuucap salam yang diikuti jawaban darinya. Aku duduk di sampingnya. Dan memulai pembicaraan.

Mumet kenapa Tino?”

“Biasa kak, lagi butuh temen. Kak Vino atau Papa sibuk dengan urusannya masing-masing. Kak, aku beberapa hari ini kepikiran terus sama seseorang. Aku enggak tau mengapa, kangen aja rasanya. Satu pekan ini aku berusaha sekuat tenaga untuk tak menghubunginya. Berharap dia yang menghubungiku, tapi ternyata dia begitu sibuk sampai tak ada waktu untuk sekedar menanyakan kabarku. Hingga akhirnya aku mengalah pada pertahananku. Dan menghubunginya tadi.”

“waw, kau sedang jatuh cinta no? ehm… cewek mana yang telah membuat hatimu itu jatuh ? Temen Kuliah ? Mifta? Sarah? Atau Vanny?”

Ku absen satu-satu nama cewek yang kira-kira dia taksir. Aku bisa tau nama-nama itu ketika mereka bergantian datang menjenguk Tante dulu.dan gelengan kepala yang aku dapatkan sebagai pernyataan bukan darinya.

“terus siapa ? kan tiada dusta antara kita, hehe..”

“Memang, tapi aku belum siap kak’Diya tau siapa dia. Aku juga belum mengungkapkannya ke dia, aku takut ketika dia tau, dia akan menjauhiku. Aku menyayaginya, dan tak mau kehilangannya.”

“Lalu,, kau akan terus diam memendam sendiri? Bagaimana mungkin Tino tau perasaannya kalau Tino gak ungkapin? Atau emang mengalah sebelum berperang. Tenang aja Tino, Cuma cewek idiot yang nolak tino. Hehe..”

“Aku tau perasaannya, dia juga menyanyangiku, tapi rasa sayangnya…”

Kata-kata Tino terputus karena ada bapak-bapak yang datang menawarkan kami barang jualannya.

“permisi, mau menawarkan gelang seni daerah ini, ada juga beraneka assesoris perempuan lainnya. Cocok ne buat ceweknya mas.”

“Cewek aku? Ow ya dong, cewekku suka warna ungu, aku ambil yang ini, bagaimana cantik? Kau suka?” Kata Tino berlagak romantis. Dengan tersenyum aku balas guyonannya.

“aku akan selalu suka pilihanmu”

Gelang ungu bercorak putih itu pun terbeli juga. Tino memakaikan gelang itu di tanganku. Gelang yang cantik, cantik karena warnanya ungu. Kesukaaanku. Bapak itu pamit pergi, namun ada kata lucu yang dia ucapkan sebelum pergi.

“Kalian serasi, cowoknya ganteng, ceweknya cantik. Kalian mirip, matanya mirip sekali, sepertinya jodoh. Bapak doakan hubungan kalian baik-baik saja”

“Amiiiiiinnnnn” jawab Tino.

Aku dan Tino berpandangan, aku tertawa ngakak namun dia tetap tersenyum.

“Ya ialah mirip, orang sepupuan. Malah beneran bapak itu mikir kita pacaran Tino” kataku masih setengah tertawa.

Tino, tak menjawab, dia hanya senyum. Yang mulai terlihat senyum misterius bagiku. Biasanya dia heboh jika ada hal-hal konyol seperti tadi terjadi. Aku mulai terdiam, mungkin dia masih kepikiran dengan cewek yang dia taksir. Kupalingkan wajah ke arah senja yang mulai merah. Teringat pada sosok yang sangat menyukai warna merah, Vino. Sosok yang kini tidak seperti dulu lagi, hatinya mungkin telah sepenuhnya terisi oleh Dilla. Aku akan berusaha menghilangkan rasa yang bertepuk sebelah ini. Karena tak akan ada bunyi jika tangan yang satunya tak ikut bertepuk. Aku akan mengikhlaskannya.

“Kak, lebih baik aku jujur sebelum terlambat. Karena aku tau, ada yang juga sangat mencintai dia.” Perkataan Tino membuyarkan lamunanku.

“Yep, bener itu No” Jawabku seadaanya.

Kulihat gurat senyum itu makin merekah diwajahnya. Entahlah, akupun bahagia melihatnya bahagia. Aku berharap cewek yang dia taksir tak menolaknya. Karena aku tak ingin adik sepupuku sakit hati. Cukup dia sedih kehilangan salah satu orang yang dicintainya, Mamanya. Kami pun beranjak pulang, langit makin mulai menampakkan senja. Tentu dengan motor masing-masing, kulihat dari kaca spion Tino mengiringi dibelakangku. Kami berpisah di persimpangan. Tangannya melambai ketika dia harus belok kiri, aku masih harus terdiam karena lampu hijau belum juga menyala.

***

Tiga hari berturut-turut aku mendapatkan bunga mawar ungu tergeletak segar di depan pintu rumahku,tepatnya di atas keset bertuliskan “welcome”. Aku sangat suka, namun yang tak kusuka adalah caranya yang pengecut.

“Seandainya dia tau, aku lebih menghargai pemberian bunga beserta akarnya. Sudahlah yang tau itu hanya Vino. Dan sudah pasti ini bukan dari Vino” aku membatin. Aku mengambil mawar segar itu dan kuletakkan di dalam gelas yang telah terisi air. Hari ke empat mulai beda. Aku menerima mawar indah yang masih segar lengkap dengan akar dan vas mungilnya. Ada 3 tangkai bunga ungu yang rata-rata masih kuncup. Seolah sang pengirim rahasia itu menbaca pikiranku kemarin. Masih sibuk dengan rasa penasaran, kuraih mawar ungu itu dan kuletakkan di pelataran depan kamarku. Ada bisikan lembut dari pikiran yang sebenarnya sudah aku benam. Berharap ada vino disana, karena hanya Vino yang tau bahwa aku lebih suka bunga yang lengkap dengan akar dan pohonnya. Kembali lagi aku harus menepisnya, karena itu tak mungkin. “Sudahlah ya,kau sudah berjanji merelakan Vino untuk Dilla”. Kembali membatin.

Nada yang sangat kukenal mulai terdengar, hape ku berdering.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam, kak Diya, hari ini sibuk ?”

“lumayan, kenapa no?”

“abis magrib, temenin aku beli boneka buat cewek yang aku taksir. Rencananya malam ini aku mau ungkapin perasaanku, bisa ?”

“Owh, okey..akan selalu bisa untuk adikku yang satu nie”

“aku harap begitu, tidak ada kata tidak,hehe..jam 8 aku jemput ya kak?”

“yep…I will wait for u”

Telpon terputus setelah ucapan salam darinya.

***

Kuselesaikan 3 ayat terakhir surat Al-Kahfi, saat Tino datang dengan senyumnya yang kian merekah. 10 menit untuk siap-siap dan kami pun melaju menuju toko boneka.

“kalo yang ini bagaimana kak ?”

“wow, cantik No.”

Tanpa menanggapi komentarku lagi, Tino berjalan ke arah kasir dan membayarnya. Puas rasanya melihat dia tersenyum bahagia karena hatinya yang penuh ditumbuhi bunga. Namun aku harus tetap kecewa karena sampai saat ini aku tidak tau siapa cewek yang dia taksir.

“Kalau sudah waktunya, kak Diya akan tau, tunggu saja. Malam ini boneka ini akan sudah ada pada pemiliknya”

Jawaban yang selalu sama akan kuterima saat aku menanyakan hal yang sama pula. Tepat pukul 9 malam aku menyelesaikan sholat dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang harus aku tunda sejak magrib tadi. Paginya aku terbangun dalam kondisi tidak biasanya, karena tertidur di atas meja kerjaku.

***

Jam 3 Pagi aku terbangun dengan sedikit linglung, kepalaku pusing. Bisa jadi karena posisi tidur yang tidak sempurna. Saat bangun menuju kamar mandi, aku menatap sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Kuperhatikan benda ungu di hadapanku, dan tersadar yang aku tatap itu apa. Hatiku tidak karuan, kaget, takut, dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kupastikan lagi otakku tidak sedang pusing, sehingga retinaku tidak salah menangkap bayangan di hadapanku. Tersungkur, itulah yang terjadi. Hatiku perih menatap boneka warna ungu yang baru beberapa jam lalu dibeli Tino untuk cewek yang dia taksir.

“Tidak mungkin aku, ini tidak mungkin. Dia pasti lupa membawa pulang”

Kupenuhi otak dengan peemikiran positif, bahkan lebih tepatnya penyangkalan atas kenyataan yang harus aku hadapi. Aku berjanji, tidak akan ada lagi kesedihan pada Tino. Namun, akan terlanggar ketika ucapan penolakan itu harus terlontar. Karena hatiku belum bisa berpaling ke lain hati. Aku sering memaksa hati untuk menyingkirkan Vino dari posisinya, tapi itu sungguh sulit. Jika aku menerima dan menjalani hubungan ini, aku pastikan itu akan lebih menyiksa dia, saat dia tau penerimaan ini berasas belas kasihan. Hal ini sangat berat bagiku, aku menyayanginya layaknya adik kandung. Kulalui  sepertiga malam terakhir ini dengan bermunajat pada-Nya. Ketenangan itu mulai mengalir.

***

Bagaimana? Jawaban apa yang aku dapatkan?

Sms Tino yang dari satu jam lalu belum juga aku balas. Dilema. Namun harus segera kuselesaikan. Aku putuskan untuk menceritakan hal ini pada bunda. Aku ingin pendapat terbaik itu bisa aku dapat darinya.

“Ada kabar gembira yang ingin bunda sampaikan nak”

Kalimat Bunda megurung niatku untuk meminta pendapatnya. Kutatap wajahnya yang merona bahagia. Aku duduk disampingnya, terdiam menanti lanjutan kalimat itu. Kabar bahagia apa yang membuat Bunda tak seperti biasanya.

“Ada seseorang yang berniat suci, ada yang melamar Bunda nak, bagaimana menurutmu?”

Kaget. Sejujurnya aku tak siap memiliki pengganti ayah di rumah ini, namun melihat kebahagiaan itu terpancar dari wajah sang bunda. Akupun mengiyakan.

“Siapa orangnya bun? Bapak baru untuk Diya ?”

“Sementara, Bunda belum bisa kasitau, nanti malam kita akan bertemu. Jadi kosongkan agendamu habis magrib. InsyaAllah kamu akan setuju. Dan kamu akan cepat menyayanginya”

Akan cepat menyayanginya? Kalimat Bunda terngiang di benakku. Maksudnya apa. Aku kembali terganggu dengan pertanyaan Tino yang belum sempat aku balas. Ketukan pintu diiringi salam lembut sang pemilik tangan membuyarkan lamunanku. Aku beranjak ke arah pintu. Dan..

“Dilla??? Tumben, ada apa nie ? masuk dulu La”

Wajah pucat Dilla hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. 5 menit kemudian, aku suguhkan segelas es jeruk. Dan berniat menanyakan kembali maksud kedatangannya. Namun, tanpa aku minta dia sudah mengerti apa yang aku pikirkan.

“Aku mencintai dia, awalnya aku berharap dia pun begitu. Tapi aku salah, sedikitpun hatinya tak pernah ada untukku. Hatinya tetap pada satu nama. Selama ini perhatiannya padaku hanya berlandas belas kasihan. Kasiahan pada seorang wanita yang lemah, penyakitan. Hanya rasa kasihan. Tidak lebih.”

“Maksudnya apa La’? kamu sakit apa ?”

“Dia hanya cinta sama kamu Ya’, Vino hanya mencintaimu. Selama ini kamu salah paham. Dia tidak pernah bisa mencintaiku. Dia hanya kasihan padaku, karena aku sama seperti mamanya. Aku kena leukemia Ya’.”

Terdiam. Entah apa yang salah dengan hari ini. Hari yang dirangkai penuh dengan kejutan. Satu sisi ada kebahagiaan yang mengalir. Cintaku selama ini tak bertepuk sebelah tangan. Namun sisi lain aku perihatin melihat kondisi Dilla yang kini di depanku berwajah pucat dengan wajah tirusnya yang menampakkan cekungan yang semakin memperlihatkan betapa kurusnya dia. Tino, Vino, Dilla. Mereka bertiga kini menciptakan berbagai rasa. Kebingungan melanda. Saat aku dengan Vino, aka nada 2 hati yang tersakiti. Tino dan Dilla. Begitupula saat aku dengan Tino, aku dan Vino yang akan tersakiti.

“Rabbi, tolong aku, aku tidak tau harus bagaimana. Tunjukkan aku jalan untuk semua masalah hati ini Ya Allah”. Batinku memohon.

***

Pukul 19.00 Bunda mengajakku keluar untuk menemui seseorang yang telah berhasil membuat Bunda menyisihkan sebagian hatinya untuk pria itu. Hatiku yang masih galau dengan kejadian hari ini mampu membuat hilang rasa penasaranku. 20 menit kemudian kami sampai di sebuah resto. Mataku menangkap sosok yang sangat tak asing. 3 tubuh tegap itu sangat aku kenal. Nalarku semakin tak bisa menerima saat Bunda memperkenalkan dia adalah calon ayah baru bagiku. Hatiku lebur rasanya, karena yang aku tatap kini adalah Om, ayah dari dia yang kucintai dan mencintaiku.

“Tante, Diyya??”

“Kak Diyya??”

Hampir serempak Vino dan Tino menyebut namaku, kutatap mereka. Yang sama tak kalah terkejutnya denganku. Vino, yang aku cinta kini tak ada harapan lagi. Tino yang aku sanyangi kini harus kecewa karena dia tak memerlukan jawaban lagi dariku. Aku pusing, otakku tak mampu berpikir menerima kenyataan yang begitu memaksa ini. Lambat laun wajah mereka semakin samar kulihat. Dan gelap hatiku berbisik. Inilah jawaban atas doaku, Dia Maha Adil, karena kini semua yang tersakiti. Cinta segitiga kami menjadi terlarang. Dan tak ada yang menang!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s