Oh Ikhwan

Oh.. Ikhwan
Walaupun tidak terlalu rupawan
Alias modal tampang pas-pasan
Tetep aja tebar senyuman

Oh.. Ikhwan
Gayanya sih bisa ketebak dan ketahuan
Jenggot melambai, baju koko & mata kaki keliatan
Kalo ngomong pake ane, antum, afwan-afwan

Oh.. Ikhwan
Sudah banyak yang bertebaran
Ada di masjid, kampus bahkan perkantoran
Sering kali ada yang getol nyari penghasilan
Ngga taunya nyari modal buat walimahan

Oh.. Ikhwan
Kalo lagi aksi, semangatnya nggak diragukan
Pekikan takbir selalu di kumandangkan
Ngomong2… kamar dikosan kok berantakan?
(Aduh.. pulang jangan lupa diberesin Wan!)

Oh.. Ikhwan
Sepekan sekali ikut kajian
Hujan dan badai nggak jadi halangan
Juga ngga ketinggalan tiap acara kepartaian
(Tapi.. cuci dulu tuh baju rendeman..!)

Oh.. Ikhwan
Pagi-pagi jarang sarapan
Alesannya males masak atau belum dapet kiriman
Akhirnya kena sakit magh sama panuan
( Kok yang terakhir nggak nyambung Wan! Peace dah!)

Oh.. Ikhwan
Jarang banget yang mata duitan
Demi dakwah, hati ikhlas tanpa harap imbalan
Walau kerasa, nih perut keroncongan
( Sabar ya Wan!)

Oh.. Ikhwan
Anehnya kalau lagi jalan
Ngukurin tanah ape nyari duit jatoh sih wan?
Ooohh.. ternyata dia lagi jaga pandangan!!
(Lanjutkan Wan!)

Ikhwan… ikhwan….
Lucunya kalo ada akhwat berpapasan
Langsung minggir! Nunduk, acuh tak acuh kaya musuhan
( Mantabs Wan!!! Asal jangan bener2 musuhan ya Wan! )

Ikhwan… ikhwan…
Uniknya kalo lagi rapat gabungan
Pake pembatas alias hijab biar nggak bisa lirik-lirikan
Sering juga rapatnya peke SMSan
Kadang SMSnya malem2 sambil bangunin tahajudan
Upppss.. Yang ini cuma sesama ikhwan kan..??!!!

Oh.. Ikhwan
Badannya ade yang keker mirip binaragawan
Oh ternyata dia instruktur kepanduan
Biar di keroyok sama preman
Kagak bakal panggil bantuan

Oh.. Ikhwan
Jarang juga yang suka jajan
Mendingan nabung buat masa depan
Sekarang duitnya sudah banyak dalam celengan
(Eh, itu utang dibayar dulu Wan!)

Oh.. Ikhwan
Merasa sepi di tengah keramaian
Merindukan hadirnya bidadari penyemangat iman
Temen sekosan terasa sudah membosankan
Ditambah bisikan-bisikan setan yang kedengeran
Hemmm.. Istigfar Wan!

Oh.. Ikhwan
Pengen dapet istri yang wajahnya mirip artis di iklan
Yang nggak malu-maluin kalo diajak kondangan
Terus mulutnya yang nggak rame kaya petasan
Tiap 3 hari khatam Al Quran
Kelompok yang dibina udah lebih dar 20an
Setia sampe mati dan nggak mata duitan
Dan… setuju aja kalau suami mau cari istri tambahan

Oh.. Ikhwan

Tapi, seringnya harapan tidak sesuai kenyataan
Abis, nyari istri yang sempurna gitu kan kagak gampangan!
Apalagi kalo modalnya serba pas-pasan
Ya.. Murobbi juga nyariinnya bakal itung-itungan
Sabar deh Wan! Percaya aja sama yang Maha Rahman!

Oh.. Ikhwan
Nggak sengaja, liat ukhti minta bantuan
Jatoh dari motor masuk paretan
Hati berdebar mungkin ada harapan
Eeehh… taunya si Ukhti istrinya temen satu Liqo’an
(Gubrak..!! sungguh kasihan )

Huuhhh… Dasar Ikhwan!!!
Afwan ya Wan!!
yang nulis juga ikhwan…^^

Dikutip Dari: Ust.fathur rahman

Note:
Afwan jiddan untuk para ikhwan..
yang merasa kurang berkenan…
Ini pun udah pake editan..
Jangan melemah hai manusia pilihan..
…Peace for All…

Allahu Akbar!!!!!!!

Iklan

Pesona

Aku terpaku menatap sosok yang sama lagi, seseorang yang berwajah bullet, cool, dengan gaya yang ya, lumayan cuek.

Hari ini ospek mahasiswa baru, aku meluncur dengan si hijau black motor bebek milikku. Aku memang bukan Mahasiswa lagi di kampus hijau ini, hanya saja aku ingin menikmati kembali tontonan yang disuguhkan kampus secara gratis. OPPS ,begitu akrabnya seremoni penyambutan MaBa ini.

Sampai di parkiran aku melangkah menuju sebuah teras, yang disana telah ada seorang rekan yang aku kenal, melambai-lambaikan tangan memintaku menuju ke tempatnya. Setelah say hello dan mulai mengobrol ringan sembari menikmati nostalgia, akupun duduk bersender pada sebuah beton penyangga bangunan putih yang dulunya adalah tempatku menimba dan membagi ilmu. Kuperhatikan lalu lintas mondar mandir Maba yang manut saja disuruh meminta tanda tangan panitia.

Terkenang saat dulu, ketika aku harus memohon-mohon meminta tanda tangan panitia, push up harus kami terima saat tanda tangan kurang dari target. Muak rasanya mengingatnya. Terkenang juga saat mereka mengerubini aku untuk meminta tanda tangan yang dari semuanya hampir tidak ada yang dapat menulis nama lengkapku dengan benar. Geli bila mengingatnya, akan tertoreh senyum simetris dari mulutku.

Lama bengong memperhatikan mondar mandir anak-anak maba. Mataku tertuju pada satu sosok yang sering membuatku penasaran, sosok cool, dengan sifat cuek indahnya melintas di depanku. Entah sengaja atau tidak mataku tak lelah mengikuti tubuh yang terlihat letih, dengan pakaian ospek lusuhnya namun tetap cool bagiku. Dia mendekat ke arahku tanpa sedikitpun melihat pada mataku yang sedari tadi menatapnya.

Dan ya, dia duduk di bawah teras tempatku hanya untuk meminta tanda tangan seorang panitia yang kebetulan duduk di bawah teras tempatku bertumpu. Sekali lagi, entah sengaja atau tidak, mataku tak letih menatap tubuh itu. Walau wajah manisnya menatap ke arahku, sejenak, hanya sejenak. Sejenak melihatku berharap jawaban yang dia inginkan. Seingatku, saat itu dy bertanya tentang nama lengkap panitia yang ingin dy mintai tanda tangannya. Ah.. sesal rasanya aku tak mengetahui siapa nama lengkap panitia itu.  Yang tidak lain adalah patnerku saat kami sama-sama meng-ospek 2 tahun yang lalu.

Sesal rasanya tak dapat membantu adik yang tak mau hilang dari mataku. Sejenak, ya hanya sejenak dia menatapku. Dan segera berbalik menunduk lagi setelah tau nama lengkap pemilik tanda sang tangan. Apapun namanya, aku suka. Ya aku suka melihat gaya anak itu. Saat itu yang terlintas adalah bagaimana caranya agar aku bisa berteman dengannya. Tidak lebih, karena aku tidak berminat untuk lebih. Hanya teman atau, aku berharap aku bisa menjadi kakak perempuannya. Itu saja.

Namun bagiku itu hanya hayalan kelas teri, mana bisa aku dekat dengan seorang maba saat aku sudah tidak memiliki rutinitas di kampus hijau ini. Entahlah, aku tak mau repot dengan harapan-harapan Blank On. Kuputuskan untuk melangkah kaki ke mushola kampus untuk menemani seorang sahabat yang berhajat untuk menunaikan sholat magrib.

Selepas itu aku pulang, wajah si cool (aku memanggilnya, ya sosok sejenis itu aku bilang cool) terlintas hanya sesaat. Setelahnya aku lupa. Karena aku disibukkan dengan aktifitas baruku. Dunia kerja.

Hari ini, aku kembali menekan gas motosku dengan kecepatan yang lumayan lah bagi perempuan sepertiku. Aku buru-buru ke kampus, untuk dapat menyaksikan acara pembantaian (ujian seminar) seorang sahabat. Namun nihil, aku tak dapat menikmati tontonan gratis lainnya dari kampus karena tontonan itu telah usai. Berkumpul dengan mereka yang kami katakan puing-puing angkatan kami membuatku sedikit terhibur dari rasa kecewa.

Tak lama kami memutuskan untuk beranjak untuk mencari pendamai bagi perut kami masing-masing. Lewat di parkiran, aku, tepatnya mataku entah sengaja atau tidak kembali menangkap sosok cool yang 2 hari lalu kulihat juga di tempat ini.

Aku terdiam, bukan karena aku kehilangan kata-kata, namun karena memang tak ada yang harus ku ungkap. Kuperhatikan stylenya hari ini. Dan ya, aku terpesona dengannya. Gaya cueknya yang tidak sembarang cuek, gaya cueknya yang beda yang aku suka, kembali terlintas di hayalanku.

Akankah kita akan berteman suatu saat nanti ? bisakah kita menjadi saudara? Aku ingin menjadi kakak perempuanmu, dan aku ingin kamu menjadi adik perempuanku yang manis. Ya, entah siapa namanya, aku telah terpukau dengan seorang gadis cuek tapi manis dan masih polos itu.

Obsesi memiliki saudara perempuan, aku sudah memiliki banyak, namun tak ada salahnya kan kalau aku ingin menambah saudara lebih banyak lagi.

End.