Gadis Penjaga Gelas 1 by Halama Haris

Kapal-kapal besar pembawa barang dagang telah merapat ke dermaga. Beberapa telah menurunkan sauh dan sisanya masih mengapung sembari menurunkan layar kapal. Sebagian besar kapal tersebut adalah kapal para saudagar dari timur, pada musim dagang ini biasanya mereka membawa sutra, permadani, kerajinan, dan berbagai jenis benda menarik lainnya untuk diperdagangkan di tempat yang mereka singgahi.

Pertengahan musim dagang menjadi pasar paling menguntungkan bagi Kota Pelabuhan Daghana. Hiruk-pikuk para saudagar yang baru kembali dari negeri timur sangat menggiurkan pedagang pribumi. Tidak sedikit dari mereka melakukan barter dan transaksi karena tertarik dengan barang baru yang dibawa para saudagar dari pelayarannya. Namun tidak banyak pula dari mereka yang memperhatikan bangunan kecil di ujung gang. Sebuah bangunan berwarna coklat dengan aktifitas yang sepi.

Satu-satunya Pintu kaca dengan bingkai dari kayu pinus milik bangunan itu berderit. Seorang wanita tua berkerudung coklat keluar dengan langkah yang ringkih. Keranjang bambu di tangannya tertutup sempurna oleh kain bercorak kehijauan. Pertama dia berdiri mematung mengamati ujung jalan kota pelabuhan yang mengarah ke dermaga, seperti ada sesuatu yang dinantinya. Ia menggumal bibir, mengalihkan pandangannya pada keramaian lalu-lalang manusia di jalan yang sama namun mengarah menuju pasar pelabuhan. Langkahnya yang ringkih bergerak menuju tempat itu.

“Nyonya Barain! Tunggu…” Suara berat seorang lelaki menahan langkahnya. Ia menoleh. Sosok lelaki jangkung dengan tubuh yang kurus melangkah dengan landai ke arah tempatnya mematung.

“Anda mau ke pasar? Biar aku saja, kebetulan aku akan membeli tepung untuk siang ini.” Wanita tua itu memandang lelaki jangkung dengan dingin.

“Jangan selalu bersikap seperti ini Rang. Aku bisa pergi sendiri.” Wanita tua itu berbalik dan hendak melanjutkan langkahnya sampai lelaki jangkung bernama Rang mencoba berjalan sejajar dengannya.

“Aku tidak bermaksud menyinggungmu Nyonya Barain, tapi…ini sudah tugasku.”

Langkah wanita tua itu berhenti. Rang terdiam sejenak, ada kebimbangan karena kalimat yang diucapkannya tadi. Perlahan lelaki jangkung itu mengambil keranjang bambu di tangan Wanita tua itu, tanpa adanya sinyal penolakan keranjang itu sudah berpindah tangan.

“Nyonya tunggu saja di rumah, aku kembali setengah jam lagi.” Rang tersenyum dan melangkah cepat menyusir jalan meninggalkan wanita tua itu.

Mata coklat wanita tua itu memandang sosok jangkung yang semakin menjauh, membaur diantara keramaian lalu-lalang aktifitas kota pelabuhan Daghana. Tubuhnya yang layu berbalik dan melangkah kembali ke bangunan coklat. Belum sempurna pintu bangunan itu dibuka, pandangannya kembali melekat pada jalan menuju pelabuhan. Jalan yang mengingatkannya pada memory masa lalu, dimana penjara waktu dan jiwa miliknya mulai berdiri.

Tiba-tiba, jauh di ujung jalan menuju pelabuhan terlihat seorang pemuda berlari dengan ketakutannya. Wajahnya penuh peluh, raut wajahnya penuh keletihan, kemeja khas miliknya basah oleh keringat. Pemuda itu mendekat, semakin dekat.

Sembari mengatur nafas, pemuda itu mencoba menegakkan tubuhnya. “Aku bisa minta segelas air?”

Mata coklat itu mengerjap-ngerjap dengan getaran rasa yang aneh. Ia menelan ludah. Ia sadar, ini kejadian yang sama dengan kejadian empat puluh tahun yang lalu. Ia hampir tergagap dan tak tahu akan berucap apa.

“Boleh, masuklah.” Ia terkejut, tak ada suara serak dan ringkih. Yang terdengar di telinganya adalah suara lembut, rendah dan teduh. Pikirannya berputar dengan kebingungan sampai akhirnya ia menarik kembali pintu kaca bangunan coklat miliknya. Mata coklatnya terbelalak. Bayangan yang terpantul di pintu kaca bukan bayangan seorang wanita ringkih dan layu. Bayangan itu bayangan seorang gadis sembilan belas tahun, segar dan ceria. Sesuatu yang aneh tengah terjadi.

“Maaf, kenapa? Aku mohon, aku butuh air segera!”

“Ma..maafkan. Iya, silahkan masuk.” Pintu berderit, gadis itu melangkah dengan kebingungan di benaknya. Ia melintasi ruangan depan dengan menunduk gugup, ragu dan takut untuk menoleh pada pemuda di belakangnya. Dengan segenap keberanian yang terhimpun ia berbalik.

Pemuda itu baru saja masuk ketika pandangan mereka bertaut. Jelas ia mengenal wajah tirus itu, mata hitam pekat yang teduh, rambut hitam berombak. Tubuhnya bergetar, pemuda yang dikenalnnya itu datang lagi, ia kembali. Di sudut matanya mulai dihinggapi embun bersamaan dengan getar halus di dalam jiwanya. Harmonis.

“Mm..ee..silahkan duduk dulu.” Gadis itu berbalik dengan kikuk dan melangkah masuk ke dalam ruangan bertirai.

Pemuda itu menempati kursi ruangan yang terbuat dari kayu kokoh, dipandanginya hiasan yang terukir artistik di sekeliling meja di hadapannya. Dipandanginya ornament yang menghiasi dinding, lukisan kota pelabuhan Daghana terbingkai sempurna di dekat lemari kaca, rak-rak kaca berisi gelas indah menarik perhatiannya.

Sementara itu, di dalam dapur gadis itu masih tercenung dengan kejadian aneh yang dialaminya. Terlintas pertanyaan di benaknya, apakah Sang Pencipta memberikan waktu untuk berpihak padanya?

Ia terhenyak, air yang dituangkan ke dalam gelas melimpah di tangannya. Gadis itu menggigit bibir, ia hampir menangis. Terlintas sesuatu di benaknya yang membuat gelas berisi air itu diletakkannya dengan cepat. Ia segera beranjak masuk ke dalam kamarnya, membuka lemari kayu berukir, sebuah kotak kecil ada di sana. Dikeluarkannya kotak kecil yang tampak khusus dan tidak semua orang tahu apa isinya. Dibukanya perlahan, ia menggumal bibir dengan mantap. Sebuah gelas kristal dipegangnya dengan mantap, entah ada sesuatu hal yang membuatnya merasa Pemuda di ruang depan begitu dekat dengan gelas di tangannya.

Di ruang depan, pemuda itu sudah berdiri dan mengamati gelas-gelas yang berjajar di dalam rak-rak kaca. Tangannya bersilang di depan dada, terlihat serius dan menikmati tindakannya. Wajar jika gelas-gelas kaca yang menarik dipandang memenuhi ruangan itu, karena hanya di tempat itu lah Toko yang menjual gelas-gelas kaca dari seluruh dunia di perdagangkan.

“Ini minumnya.” Suara lembut itu mengejutkannya, gadis itu sudah kembali dengan talakan berisi segelas air di tangannya. Tangan pemuda itu meraih segelas air yang disodorkan padanya.

Pemuda itu terdiam sejenak. “Maaf kalau aku mengganggu?”

Gadis itu terhenyak. Ia menelan ludah dan menunduk. Talakan di tangannya akan jatuh apabila pemuda itu tidak beranjak dari hadapannya. Sekarang pemuda itu duduk di kursi kayu, ia menegak air setelah terlihat mulutnya bergumam sesuatu. Belum sempurna air di dalam gelas tandas, pemuda itu memandang gelas di tangannya dengan mengernyitkan alis.

“Maaf. Apa sebelumnya aku pernah ke tempat ini? dan sepertinya aku mengenalmu…” Pemuda itu meletakkan gelas di tangannya ke atas meja, dalam benaknya ada kegamangan dan keanehan. Waktu bergulir tapi tak ada jawaban dari gadis itu.

“Aku, Ahmad. Kapalku berlabuh tiga hari yang lalu di dermaga.” Si Pemuda berharap gadis masih mengingatnya, ia merasa gadis di hadapannya benar-benar berubah. Dia berharap gadis itu akan memperkenalan dirinya dan mau berbicara jika dia melakukannya terlebih dahulu. Ia menunggu.

“Aku, Lisa…Lisa Barain.”

Pintu kaca berderit cepat dan keras, memotong keinginan pemuda itu untuk mengobrol lebih lama. Seorang lelaki bertubuh kekar, kulitnya hitam legam, berseragam parlente, dan dilehernya melingkar kalung perak yang berkilau.

“Sudah kuduga! Kau di sini rupanya. Kita selesaikan ini semua.” Lelaki hitam itu menarik sesuatu di samping pinggangnya, bunyi logam yang bergesek terdengar jelas. Kilatan dipinggangnya itu membuat Lisa Barain terkejut. Pedang!

“Tunggu! Tidak di sini, Karim! Di luar…” Lelaki hitam yang bernama Karim itu tertawa terbahak-bahak. Tersenyum culas, dengan terkekeh membuka pintu kaca dan melangkah keluar.

“Maafkan tentang ini, Lisa…Terima kasih minumannya.” Pemuda bernama Ahmad itu bangkit dari kursi, berbalik dan melangkah keluar. Belum sempat tangannya membuka pintu, ia menoleh.

“Satu hal…Aku suka gelas-gelas itu, khususnya yang kau gunakan untuk menyuguhkanku air minum itu.” Ahmad menunjuk ke arah meja tempat gelas kristal berisi setengah air minum yang belum tandas.

Lisa memandang pemuda yang masih berdiri di depan pintunya, “Maaf jika kesannya kurang nyaman untukmu. Sekali lagi terima kasih, salam untukmu, Lisa.” Pintu ditariknya dengan perlahan, tubuh pemuda itu bergerak keluar, bunyi gesekan logam yang sama terdengar, pemuda itu menarik sesuatu di samping pinggangnya dan Lisa Barain melihat kilatan dari sedikit celah pintu yang mulai tertutup. Pedang!

Lisa Barain berdiri kaku, kata terakhir dari pemuda bernama Ahmad itu tidak dimengertinya. Ia merasa aneh, pemuda tadi begitu dekat baginya namun ada suatu ruang yang membatasi dirinya dan pemuda itu. Dan entah kejadian apa yang akan terjadi di luar, namun yang jelas sekarang mata coklat miliknya telah berkaca-kaca, air mata perlahan berlinang di pipi putihnya. Ia berlari ke arah pintu, membukanya dengan cepat. “Hentikan Ahmad!”

Waktu serasa berhenti seketika. Setiap orang yang berlalu-lalang di jalan itu menoleh ke arahnya. Di hadapannya telah berdiri lelaki jangkung dengan keranjang bambu di tangannya. “Maaf, aku kembali lebih cepat Nyonya Barain. Belanjaanmu sudah kubelikan dan ternyata tepung gandum sudah habis, jadi sekarang aku harus ke desa seberang untuk mencarinya.” Seperti ingin mengalihkan pembicaraan Rang menyodorkan keranjang yang telah berisi beberapa potong roti dan bahan masakan yang biasa dibeli oleh wanita tua dihadapannya.

Lisa Barain terhenyak tak percaya, ia menoleh pada pintu kaca. Bayangan di dalam kaca itu adalah seorang wanita tua berusia enam puluh tahun lebih. Kemana gadis tadi. Pandangannya menyisir ujung jalan kota pelabuhan yang diisi oleh para pejalan kaki. Tak ada kericuhan, tak ada suara pedang beradu, hanya ketenangan para saudagar dan obrolan para pelancong yang terdengar. Wanita tua itu tertawa kecil….

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s