Gadis Penjaga Gelas 2 by Halama Haris

“Maaf mengejutkanmu, Rang.” Suara yang serak itu mengguratkan penyesalan yang dalam, lelaki jangkung bernama Rang itu menyadarinya. Pastilah wanita tua di hadapannya sedang teringat luka di masa lalunya.

“Tidak nyonya! Tidak…aku akan ke desa seberang mencari tepung, kuusahakan sebelum matahari bersumbu di Puncak Suar aku kembali.” Seperti hendak mengalihkan pembicaraan, Rang bercerocos dengan meyakinkan. Lelaki jangkung itu berbalik dan melangkah pergi.

“Rang! Bawalah minuman dan roti ini. Ganjal perutmu dulu.” Suaranya serak dan lirih. Rang patuh dan kembali, menunggu di depan pintu. Lisa Barain masuk ke dalam dan tidak beberapa lama ia keluar kembali, disodorkannya minuman yang di bungkuskan dalam sebuah kantung. Rang menerimanya dengan hormat lalu kembali melangkah menuju pelabuhan. Semakin menjauh, tubuh jangkung Rang kembali menghilang di keramaian kota pelabuhan Daghana.

Lisa Barain masuk dan kembali menutup pintu kaca. Ia berbalik dan memandang kursi tempat pemuda bernama Ahmad duduk tadinya. Ia tergagap, gelas keristal itu masih di sana dengan air yang telah tandas setengah. Seketika itu juga bunyi dentingan logam dan besi beradu dengan sengit. Lisa memutar tubuhnya, menerawang dari balik pintu kaca, bayangan di luar sana terlihat menakutkan. Dua orang bergelut dalam pertempuran mempertaruhkan nyawa. Dua pedang terhunus dengan nyalang.

Tubuh Lisa bergetar, ia memandangi telapak dan punggung tangannya. Tak ada keriput, yang ada justru sebaliknya, jari jemari yang lentik, punggung tangan yang putih memendar dengan urat halus dan lembut. Lisa membuka pintu kaca di hadapannya dengan cepat. Kericuhan benar-benar terjadi di jalan. Para pedagang, pelancong, penduduk terlihat waspada dan wanita-wanita terlihat histeris. Dua buah pedang itu terhunus sempurna di masing-masing tangan yang menggenggamnya. Jalan telah membuka ruang bertarung antara pemuda dan lelaki hitam itu.

AARGH! Lelaki kekar berkulit hitam menyerang pemuda bernama Ahmad. Tusukan pedang ditepisnya dengan pedang. Sabetan, tusukan, ayunan terus bergantian saling membalas. Bunyi dentingan itu beradu nyaring dan nyalang. Kedua sosok itu saling membalas dengan lihai, Pemuda bernama Ahmad berhasil memutuskan kalung perak di tubuh lelaki hitam bernama Karim. Lisa Barain menggenggam tangannya erat-erat. Mata coklatnya bergetar penuh ketakutan. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun berlarian ke arahnya dari arah pelabuhan.

“Nyonya! Ikut aku!” Anak laki-laki itu menarik paksa pergelangan tangan Lisa Barain, membuat tubuh gadis itu patuh dan bergerak cepat. Sekarang ia berlari bersama anak laki-laki itu menuju pelabuhan.

“Siapa kau? Ada apa ini.” Lisa Bertanya dengan gagap. Anak laki-laki itu melepas tangan Lisa.

“Ikut saja, kalau tidak, bisa bahaya! Cepat! Nyonya harus segera sembunyi!” Satu meter di hadapan Lisa, anak laki-laki itu tiba-tiba menikung ke dalam gang di balik Bangunan penjual pernak-pernik besi. Lisa mengikutinya. Sekarang tubuh anak laki-laki itu menempel di tembok, sementara Lisa mengatur nafasnya yang terengah-engah.

“Apa yang kau lakukan? Apa yang berbahaya?” Lisa terlihat ingin tahu, tetapi anak di sampingnya tidak menghiraukan dan sekarang mengintip ke arah kericuhan tadi. Cukup jauh dan masih dalam keributan yang mencekam.

“Semoga Tuan Ahmad bisa menghalanginya.” Tubuh anak laki-laki itu melorot turun, sekarang ia duduk bersandar. Lisa mengamatinya dengan seksama, anak itu tidak asing baginya, tubuhnya kurus, baju coklatnya tertutup kain hitam khas negeri timur, celananya berkantung dengan kancing perak, dan kaki kecilnya terbungkus sepatu kain berkelas.

“Rang?” Tebakan lisa membuat anak laki-laki itu terhenyak. Ia memandang tidak percaya pada gadis yang masih berdiri di sampingnya. “Bagaimana Nyonya tahu namaku?” Lisa menelan ludah. Beberapa lama anak itu terdiam, ia lalu bangkit dengan cepat. “Hah sudah tidak penting! Akan kujelaskan…” Anak laki-laki itu menghentikan kalimatnya, tiba-tiba ia mendorong tubuh Lisa untuk lebih dalam masuk ke dalam gang. Beberapa petugas pelabuhan berlarian dari arah pelabuhan dengan cepat menuju pusat keributan.

“…namaku memang Rang, Nyonya Barain. Morang Balbaria. Aku pelayan di dapur kapal Tuan Ahmad. Orang berkulit hitam bernama Karim itu adalah pengawal kapal harta kerajaan yang sengaja datang ke Kota Pelabuhan Daghana ini.” Wajah Rang kecil terlihat serius dengan perkataannya.

“Siapa Ahmad? Kapal Harta? Apa maksudmu!?”

“Nyonya belum mengenalnya? Dua hari yang lalu Pangeran datang ke Toko Gelas milikmu, dia menitipkan sebuah kotak beharga pada Nyonya yang akan diambilnya hari ini.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Rang! Ahmad, pangeran?” Lisa menarik selendang di bahunya, digenggamnya dengan erat bersama kebingungannya yang membuncah.

“Kenapa anda menangis? Sekarang dimana kotak itu nyonya? Beri tahu aku.” Lisa menggeleng dengan getir. Dalam sekejap bayangan kotak kecil di dalam kamarnya terlintas, gelas keristal yang digunakannya untuk menjamu Pemuda bernama Ahmad terbayang sempurna.

“Gelas itu masih di talam tokoku!”

“Ya! Itu dia! gelas keristal di dalam kotak kecil itulah yang dititipkan Tuan Ahmad pada Nyonya Barain dua hari yang lalu. Itu gelas keristal yang akan digunakan Pengawal Kapal Harta bernama Karim untuk membunuh Sultan Fasyad, raja kami!”

“Sultan!?” Lisa tersentak sedangkan Rang terdiam karenanya.

“Kapal istana satu minggu yang lalu berangkat untuk berniaga ke Kota Pelabuhan Daghana ini. Dan tiga hari yang lalu, pangeran mengetahui rencana jahat Karim untuk membunuh Sultan Fasyad. Pangeran tahu rencana itu dan bagaimana cara Karim akan membunuhnya. Pengeran menyampaikan semuanya pada Sultan, tapi Sultan lebih percaya pada Karim yang telah lama mengabdi pada Kapal Harta Istana.

Satu-satunya cara adalah dengan membawa senjata pembunuh itu ke hadapan Sultan, pangeran berhasil mengambilnya dari Karim dan menyembunyikannya jauh dari kapal istana, tinggal menunggu waktu untuk membawanya ke hadapan Sultan.”

“Dimana senjatanya!?” Lisa membuncah tak percaya dengan cerita Rang si pelayan kecil.

“Gelas keristal di dalam kotak kecil itu adalah senjatanya!” Rang berucap dengan lirih dan takut. Lisa terbelalak.

“Bagaimana mungkin gelas keristal itu adalah senjata mematikan. Itu hanya gelas! Ceritamu seperti dongeng, Rang! Jangan main-main!” Lisa Barain terlihat kalap dan kesal pada anak laki-laki di hadapannya.

“Aku tidak bohong, Nyonya Barain. Gelas itu dibuat dari keristal posinta yang akan bersenyawa dan melarutkan racun pada benda cair yang dimasukkan ke dalamnya. Untuk itulah Pangeran datang dua hari yang lalu dan mengantarkannya pada Nyonya. Meminta Nyonya untuk menjaganya dengan hati-hati karena Nyonya adalah orang yang paling dipercaya oleh Pangeran sejak pertama kali dia menginjakkan kakinya di Kota Pelabuhan ini.”

Lisa Barain terhisap ke dalam ingatannya, di benaknya terngiang sebuah kalimat yang samar, perlahan berdengung, lalu semakin jelas, “Lisa…Barain…maukah kau menjadi bagian dari hidupku. Menikahlah denganku dan akan kubawa kau berlayar ke sebuah tempat yang akan menyatukan kita sampai nanti di negeri abadi…” Bayangan Ahmad terbias sempurna, perlahan berpendar dan menampilkan sosok pemuda itu berdiri di ambang pintu Toko Gelas miliknya.

“Maaf jika kesannya kurang nyaman untukmu. Sekali lagi terima kasih, salam untukmu, Lisa.” Ingatan tentang Pangeran Ahmad mulai bermunculan.

“Nyonya, Nyonya, dimana Kotak itu. Tunjukkan padaku biar aku yang mengambilnya.” Hentakan tangan kurus Rang menyadarkan Lisa Barain dari lamunanya.

Kotak? Gelas keristal beracun? Lisa kembali memasuki pikirannya yang berputar dan menerobos waktu. “Satu hal…Aku suka gelas-gelas itu, khususnya yang kau gunakan untuk menyuguhkanku air minum itu.”

Tubuh Lisa Barain luluh, sendi-sendi di tubuhnya seperti lepas dari porosnya. Sekarang gadis itu jatuh berlutut di hadapan Rang.

“Kenapa Nyonya Barain?”Air matanya tumpah dan tubuhnya tersungkur. Meratap penuh penyesalan. Sedangkan di tempat kericuhan terjadi, beberapa petugas pelabuhan telah mengamankan Karim sang Pengawal Kapal Harta dan sebagian lagi mencoba mengamankan Pemuda bernama Ahmad yang tampaknya sudah tidak kuat berdir.

Pedang terlepas dari tangannya, tubuhnya rebah, matanya memerah, anggota tubuhnya hampir lumpuh total terkecuali pandangan dan bibirnya yang masih bergetar dan bergumam. Dalam pandangannya, hiruk-pikuk penuh keheranan terjadi di sekitarnya. Jauh di ujung jalan menuju pelabuhan sosok seorang gadis yang begitu dikenalnya berlari histeris diiringi oleh pelayannya yang bernama Rang. Gadis itu jatuh berlutut penuh penyesalan di dekat tubuh sang pangeran yang terbaring. Ia tersenyum pada Lisa.

Lisa Barain menatap perih pada pemuda yang tersenyum di hadapannya. Sosok seorang Pangeran yang berjanji membawanya berlayar sekarang terbujur tak berdaya karena racun yang disuguhkan tangannya. Gadis itu membekap wajahnya penuh penyesalan, ia memasuki bayangan masa lalu hanya untuk membunuh kekasihnya.

“Nyonya! Nyonya Barain! Nyonya!” tangan Rang menyentuh bahu Lisa.

Lisa Barain menoleh dengan mata coklatnya yang mulai sembab. Sosok Rang yang jangkung kini berdiri di sampingnya. Dipandanginya kembali tempat tubuh Pangeran Ahmad berbaring, tak ada sesuatu apapun di sana. “Kau sudah kembali, Rang. Maaf, lagi-lagi kau menemukanku di tempat ini…” Rang membeku, ada kegamangan di benaknya.

“Tidak masalah, Nyonya. Itu takdir, bagitu pula aku yang bertahan di sini atas takdirku. Dan aku mengerti arti tatapan Tuan Ahmad padaku terakhir kali, aku harus menjaga Nyonya dan gelas itu. Mungkin saja Karim kembali dan mengancam nyawa Nyonya.” Lisa Barain bangkit dan mendongak pada langit Kota Pelabuhan Daghana, titik-titik air berjatuhan dari langit. Semakin berirama dan deras mengguyur wanita tua dan lelaki jangkung itu dalam penjara waktu Kota Daghana.

SELESAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s