LANGIT, Sampaikan Maafku

LANGIT ,sampaikan Maafku

Langit tak lagi bersahabat. Tapi langit dengan jelasnya melukiskan apa yang aku rasakan. Tangisannya yang tiada henti menjadi keadaanku kini. Aku terpuruk dikesendirian meratapi apa yang kudengar 2 jam lalu. Tatapanku dari balik jendela tak terarah pada apapun yang tanpak, tatapan kosong karena jiwaku melayang, terbayang terpisah dari yang tersayang. Terngiang kata yang tak diinginkan terdengar.

“Broken Home”

Entah apapun yang mereka pikir dengan ucapan itu, bagiku adalah belati yang telah mencacah habis hatiku. Sewajarnya, aku layaknya tak sesakit ini, karena hal ini telah terdengar di pembahasan kedua orang  tuaku akhir-akhir ini. Namun tetap saja, petir yang dari tadi bergemuruh terasa menyambar alam sadarku mendengar kabar pilu via telepon 2 jam lalu. Kebencian itu mulai menghampiri, meminta ijinku untuk kutempatkan di salah satu ruang hatiku, ruang yang dulunya bersemayam yang tersayang, yang terhebat, yang terdekat, “Ayah”.

Dari kamar mungilku, samar-samar hingga terdengar jelas suara adzan dzuhur sahut-menyahut. Aku bangun dari keletihan menahan perihnya goresan di hatiku. Untuk memperbaharui wudu’, kubuka mukena yang dari tadi kukenakan duha sebelum kabar itu menghantamku. Sedikit kesejukan mengaliri hati ketika air wudu dengan lembut menyentuh wajahku. Sujud sembahku pada-NYA ditemani tetesan bening dari mataku.

***

Matahari kian beranjak pergi, langit menampakkan warna merah saga. Seolah memberi kabar tentang malam yang gelap akan datang, gelap tapi damai bagiku, dikesepian hatiku. Handphoneku bordering lagi, entah berapa sms dan telepon yang kuabaikan, terakhir dan sampai saat ini ada satu nama yang muncul di layar handphoneku “My Dad Lovely”. Dan seperti yang lainnya, panggilan itu pun hanya akan menjadi Misscall di Call Log handphoneku. Kebencian itu telah tertancap di hatiku, dan aku tak tahu kapan aku kan sanggup untuk mencabutnya. Walau di keheningan bathinku, masih enggan membuang gelar tersayang bagi ayah. Tersayang, karena aku juga merasakan menjadi yang tersayang bagi ayah. Ayah akan lebih memprioritaskan kebutuhanku dari pada ke tiga saudaraku lainnya.

***

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Lantunan ayat suci Al-Insyirah itu menyejukan qolbu yang telah terbakar amarah, kufahami artinya dan kurenungi, Tuhan tidak akan menguji aku melebihi kemampuanku, dan akan selalu terselip pertolongan disetiap ujian-Nya. Aku khatamkan juz 30 malam itu dan setelahnya, aku terlelap dalam damainya malam.

***

13 hari kehidupan tanpa suara ayah, sangat menyiksaku.

Telingaku mendengar suara tangisan yang terdengar tidak hanya dari satu orang, mataku mencari dan aku beranjak keluar dari kamarku. Kupastikan bahwa aku ada dirumah, bukan dikos-kosanku. Di ruang tamu yang biasanya ada shofa lengkap dengan meja dan bunga lily kesanganku diatasnya kini tak lagi ada, yang kulihat hanyalah keramaian orang, mulai membaca sesuatu yang tak asing lagi bagiku, surah Al-Kahfi. Mereka duduk melingkar dan hatiku berdegup ketika melihat sosok yang terbaring terselimuti kain panjang tertutup dari bagian kepala hingga kaki. Wajahnnya tak dapat kulihat, kesedihan mendalam mulai mendatangiku, kupandangi sekeliling. Ibu dan ketiga saudaraku lainnya tenggelam dalam tangis pilu. Mataku mulai mencari ayah, hanya untuk memastikan, siapa dibalik kain panjang itu. Dan hatiku menjerit ketika aku tak menemukan ayah di ruangan itu.

Tak ada yang dapat aku ucap, mulutku bungkam. Air mata yang mengalir bahkan aku tidak tau kapan mulai terjatuh. Aku mendekati ibuku, kupeluk dia dan saudaraku. Namun hanya kehampaan yang aku dapat, aku bagaikan memeluk udara, bahkan tanganku tak bisa hanya sekedar mengusap air mata ibuku. Aku heran, dengan apa yang terjadi. Keanehan yang tak bisa ku jangkau dengan logika. Aku semakin tak mengerti dengan semua keadaan ini, dan suara keras yang begitu menggangu makin terdengar jelas.

“Astagfirullah”

Aku terbangun dari mimpi yang sangat tidak ku inginkan.  Ku matikan alarm di hp ku, jam 03.16 wita. Beranjak wudu, dan mulai larut dalam sujud panjang. Kutumpahkan semua beban yang aku rasakan, karena hanya Dia tempat bersandar. Kerinduan yang sangat pada Ayah aku adukan pada-NYA, kerinduan yang mulai meluluhkan kebencian yang aku tancapkan. Tekadku bulat, aku akan menghubungi ayah setelah subuh nanti. Meskipun hanya dengan suaranya, aku berharap dapat mengobati sedikit kerinduan.

Diseberang sana terdengar suara yang tidak kuinginkan menyahut lewat telepon.

“haloo,, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Aku ingin bicara dengan ayah, tidak denganmu”

“owh,, ternyata si anak emas yang telah mengecewakan ayahnya”

“Apa maksudmu ?”

“Kamu terlambat, ayahmu marah besar karena kamu telah mengacuhkan setiap teleponnya, lalu sekarang untuk apa kamu menghubungi ayahmu ? dia sudah tak ingin mendengar namamu kusebut. kau tak lebih ibaratnya malin kundang dimata ayahmu sekarang. Jangan pernah menghubungi kami lagi. Kami sudah bahagia tanpa kalian anak-anaknya”

Telepon kumatikan, perih hatiku mendengar cercaan dari wanita yang telah menghancurkan kehidupan keluarga kami. Luka hati yang telah berdarah, seakan ditambah lagi dengan hujaman belati. Kupandangi langit yang tak nampak indah birunya. Langit mendung, hujan yang deras akan segera mengalir menyusul derasnya darah di luka bathinku.

Tak peduli dengan tatapan aneh teman-teman di kos yang melihat  mataku sembab. Aku berjalan menyusuri koridor dan sekarang aku telah nekat menembus hujan dengan motorku tanpa pelindung jas hujan atau sejenisnya. Kubiarkan hujan membasahi dan terus mengalir tubuhku, aku tiba di tepi pantai masih ditemani hujan. Kutatapi deburan ombak menggulung dihadapanku. Berharap ada sedikit obat untuk luka yang makin terbuka lebar. Lama, tanpa peduli dengan dingin yang kian menusuk tubuh kurusku, menembus kulit, merayapi ulu hati. Aku rasakan langit berputar dan meski telah puas melepas hujan, langit mendung kini benar-benar gelap. Kegelapan menyelimuti.

***

“Esta, bangun,, Ta.. Bangun”

Mataku mulai menemukan adanya cahaya, terhirup wangi misik yang khas menusuk hidung, dan aku tersadar kembali.

“Alhamdulillah, kamu kenapa ta merelakan diri ujan-ujanan ngelamun di tepi pantai, untung tadi ada deni yang nemuin kamu dan mengantarmu”

Aku hanya dapat menjawab dengan senyuman, memandang wajah fitri dan deni yang masih menyisakan kekhawatiran. Mulutku masih kaku untuk bergerak, lidahku kelu untuk berucap, namun hangatnya kamar mungilku mampu menentramkan jiwa yang kenyataannya memang memberontak dengan keadaan ini.

***

Entah apa yang terjadi, dua hari ini seakan-akan mendung begitu mencintai langit, seolah menjadi sepasang kekasih yang tak terpisah. Hari ini aku merasakan sesuatu yang aneh, perasaanku mengatakan, akan ada sesuatu yang hilang, entah apapun itu. Tapi bagiku waktu itu tidak lama lagi, makin mendekat dan mendekat. Hp ku berbunyi, ada satu pesan dari sepupuku Arni.

“Ta, ayah sakit. Sekarang beliau tidak sadarkan diri di Rumah Sakit. Aku harap kau menanggalkan kebencianmu, sebagaimana yang ibu tirimu katakan. Ayah merindukanmu, bahkan di alam bawah sadarnya dia masih menyebut namamu. Pulanglah Ta, kumohon.”

Aku tersentak, pikiranku kacau. Tanpa berpikir panjang, aku raih ransel dan jaket mengendarai motorku untuk pulang menemui ayah, akan kupeluk dan kusampaikan bahwa aku tak akan dapat membencinya selama yang beliau pikirkan. Sepanjang perjalanan hanya terbayang wajah ayah. Sesekali aku menatap langit yang tak lagi biru, lirih kuberucap agar langit dapat menyapaikan permohonan maafku untuk ayah. Entah mengapa pikirku, aku tidak akan dapat meminta maaf pada ayah secara langsung. 80 Km/H kecepatan yang menurutku masih kurang dan kurasa akan memperlambat pertemuanku dengan ayah. Masih setengah dari perjalanan yang sudah aku lalui. Kecepatan aku naikkan, tanpa peduli hujan yang mulai rintik dan kian deras menghujamiku. Pikiranku hanya terisi dengan satu kalimat,

“Maafkan, Esta ayah”

“Maafkan, Esta”

“Esta mencintai ayah, sebagaimana yang Allah inginkan”

Tiba-tiba wajah ayah begitu jelas di depanku, disampingnya ada ibu dan ketiga saudaraku, mereka tersenyum memandangku. Seakan mereka telah ikhlas memaafkan setiap kesalahanku, seikhlas langit yang melepas hujan. Wajah ayah sangat jelas didepanku, tersenyum memberi dan menerima maafku, seperti tak ada hijab antara kami. Lirihku mulai berucap kembali.

“Esta minta maaf, Esta mencintai kalian. Maafkan Esta”

“Maafkan, Esta”

Dan ,,

DUAAAAAARRRRRRRRRRR…………..

Hantaman begitu keras aku rasakan,

Aku terpelanting begitu jauh, kepalaku membentur benda keras, dan hujan membasahi warna merah yang begitu kukenal mengalir dari kepalaku. Kulihat mereka mengerubuniku. Entah darimana, ada suara yang sangat halus dan lembut dan sangat kukenal membisikkan kalimat ditelingaku, tanpa diminta lidahku pun mengikuti setiap kalimat-kalimat indah itu. Kak Winar, kakakku yang telah meninggal bertahun-tahun lalu, kini begitu jelas di depanku menuntunku untuk berjalan mengikutinya. Tangannya begitu lembut mengajakku.

Mulutku tak henti melirihkan syahadat walau aku rasakan sesuatu dari tubuhku ditarik begitu kuat, sangat sakit, tak pernah kurasakan sakit sesakit ini. Akupun berharap dikesakitanku agar tak ada lagi orang yang mendapati rasa sakit ini. Tertarik dari ubun-ubunku begitu kuat, terasa bertaut antara betis kiri dan kanan begitu sakit, seolah setiap sendiku terputus, hatiku terbelah, jantungku meledak, otakku pecah. Dan akhirnya kurasakan sesuatu itu telah terpisah dari ragaku. Sesaat kemudian kedamaianpun menghampiriku.

Terlukiskan senyum terindah  untuk yang terakhir dari wajah manisnya. Sarlian Esta Sathira.

Inspiration : ketika mati lebih indah terbayang.darah cinta

Sepekan “like a magic”

 

            “Assalam, Nurhasanah, Siti Robiatun, Intan Ardiani L. diminta kesediaan sebagai delegasi dari KAPMEPI untuk mengikuti TOT Menpora di BALI. Syarat dan tugas lainnya akan menyusul, Edi”

Senyum, ekspresi membaca pesan singkat dari pak Edi. Terbayang pesona bali, teman-teman baru, pengalaman dan tentunya ilmu baru.

“Waalaikumsalam, InsyaAllah saya siap, owh ya, nama saya Ardliani Intan L. .”

Sms balasan tanda sepakat pun terkirim satu paket dengan protes nama yang seringkali salah dan terbalik. Enam hari berlalu untuk mengurus seabrek syarat yang harus diselesaikan. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu keberangkatan  menuju Bali, hingga pergantian delegasi menjadi Sanita dan Titin menggantikan Nurhasanah dan Siti Robiatun. Keterangan, kak Titin kusebut dia, seorang calon ibu karena saat ini sedang hamil sekitar 3 bulan.

            Senin, 14 November 2011

“Sanniiiiiiiiiiii……..buruaaann..” teriakan semangat 45 ku meluncur begitu saja, susah membedakan itu teriakan rasa dongkol atau takut ditinggal rombongan gara-gara es em es ancaman dari pak Edi yang akan meninggalkan kami jika kami datang lewat diatas jam 8 teng. Kulirik jam tangan yang nempel di pergelangan tangan kiriku. “ hmm, 10 menit sampe di nusra” aku membatin. Tak lama aku dan Sani tiba di Nusra, tempat kami mengikrarkan janji untuk berkumpul bersama menuju Bandara Internasional Lombok (BIL).

Selang beberapa menit, angkutan umum bermerk bluebird pun datang dan meluncur membawa kami menuju BIL. 45 menit setelah itu kami tiba di BIL, check-in dan menunggu kedatangan burung raksasa yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Ngurah Rai. Bukan Indonesia jika tidak delay, seringkali kalimat itu terdengar di telinga ini. Setelah bosan menunggu akhirnya yang dinanti datang juga, kami pun beriringan.

Sepintas kulihat gerak kak Titin yang begitu kewalahan membawa barang, sengaja tak segera kubantu berharap pasukan bernama laki-laki dari kelompok kami dengan sigap membantu membara barang beliau. Ternyata meleset, mereka sibuk menikmati langkah mereka tanpa memberi sedikit ruang simpati untuk kak Titin. “Ini orang punya empati dikit kek, huft” aku membatin sambil meraih ransel Kak Titin.

“ Kak, sini saya bawakan.”

Dengan sedikit penolakan dan pemaksaan dariku jadilah dua ransel yang lumayan berisi(lebih sopan ketimbang berat, hihi) nempel ditubuhku. Tiba di depan tangga pesawat, aku mulai kebingungan. Tangga yang begitu kecil menurutku, bagaimana naiknya dengan kondisi bawa ransel 2 begini (silahkan, dibayangkan kecilnya pesawat ber merk WINGS dan dibayangkan juga tangganya sekalian J ).

Sejenak mematung di depan tangga, seorang laki-laki tiba-tiba mengeluarkan kata-kata melegakan. Setelah dari tadi laki-laki yang juga rombongan kami cuek bebek, akhirnya penawaran bantuan pun terlontar.

“sini ranselnya satu”

Kalimat irit yang cukup membantu pikirku. Segera kuserahkan, dan bergegas masuk. Sekitar pukul 12 kami tiba, seperti biasa sanita langsung jepret sana sini dengan camdig di tangannya. Menunggu sebentar, kami pun melaju menuju hotel good way dengan bantuan mobil travel. 15 menit kami sudah di lobi hotel, registrasi, pembagian kamar, dan jadilah aku satu kamar dengan Kak Titin. Karena beliau dalam kondisi yang agak lemah, kami disatukan dari peserta yang diacak provinsinya.

Tiba di kamar, kami merapikan pakaian, sholat, dan bergegas menuju ballroom lokasi acara. Tiba di ballroom, kami makan siang dan dilanjutkan dengan gladi kotor plus bersih sekalian. Pembukaan acara ToT dimulai sekitar pukul 16.30 Wita. Acara berlangsung seru, di ikuti malamnya dengan pemilihan pak lurah dan bu lurah. Acara selesai sekitar pukul 23.30 Wita, kembali ke kamar untuk menghempaskan diri ke bad cover. Sebelumnya kuhampiri Kak Titin yang terbaring lemah, beliau hanya sempat mengikuti acara pembukaan dan kembali di kamar. Aku tak berani membangunkannya, kupandangi wajah perempuan yang begitu kukagumi karena kesabarannya. “aku ingin menjadi tangguh sepertimu kak” batinku. Karena kondisi yang kian melemah, pada hari Rabu Kak Titin harus pulang setelah di jemput suaminya.

15-19 November 2011

Hari-hari yang penuh dengan materi, penuh cerita. Setiap paginya diawali dengan olahraga bersama. Jam 05.30 harus kumpul di depan lobi hotel (yang datang tepat waktu pasti nemu beberapa peserta yang ontime juga tiduran di shofa lobi hotel). Olahraga diawali dengan peregangan otot, kemudian jogging, dan ditutup dengan permainan yang berbeda setiap harinya. Salah satu permainan paling berkesan adalah permainan barongsai, yaitu permainan kepala menangkap ekor (yang gak tau sabar ye, kepanjangan kalo mesti di jelasin , hahay).

Selesai olahraga, kami kembali ke kamar masing-masing, mandi, siap-siap, sarapan dan kembali mengikuti materi. Momen sarapan, makan siang, makan malam, dan coffe break adalah saat-saat dimana kami mengakrabkan diri dengan peserta lainnya yang datang dari 8 provinsi lainnya. Setiap materi biasanya diawali dengan ice breaking dan pengantar dari Mc dan Moderator. Materi yang disampaikan sangat bagus dan sudah pastilah bermanfaat, beberapa materi itu diantaranya kebijakan nasional kepemudaan, islah KNPI, national security belt, strategi pembangunan karakter, solidaritas dan peran pemuda, Ansos, heart intelligence dan banyak lagi ilmu yang lainnya. Pada ice breaking materi pertama kami dibagi kedalam kelompok yang harus kami cari dengan gumaman nada, setelah nyasar di tiga kelompok jadilah aku berkumpul dengan komunitas Koesbini.

Tak ada gading yang tak retak, terkadang ada materi yang membuat bulu mata sedikit berat sehingga otak berfikir untuk menyudahi saja (red : tidur). Saat-saat rawan seperti ini biasanya aku siasati dengan cara memperhatikan keadaan peserta lainnya, terngiang sebuah kalimat seorang teman “jika kamu mengantuk saat menerima materi maka perhatikan orang yang mengantuk disekelilingmu”. Memperhatikan mereka yang senasib denganku, kadang ada yang  kelopak matanya turun naik dengan sangat lamban, ada yang anguk-angukan, ada yang bola matanya putih semua dan kondisi lainnya yang cukup menghibur.

Ini akan terus berlangsung jika aku mulai mengantuk, tentunya satu hal yang harus diperhatikan, jangan sampai orang yang anda amati mengetahui kalau dia diamati (whehe). Pernah suatu ketika aku mengamati seorang peserta (yang belakangan aku tahu dia kandidat dari Kalimantan) tertidur dengan lelapnya, sangat lelap bahkan. Posisi duduknya arah jam 8 di belakangku, aku menunggu saat-saat dia terbangun dengan kagetnya dan aku akan siap-siap menertawakannya. Dan saat itu tiba, dia terbangun dan langsung memandangku. Niat yang tadinya kukumpulkan untuk tertawa menjadi urung karena kepergok. Melesat membalik badan kedepan dan pura-pura focus ke materi, yang sebenarnya menahan rasa malu ketauan memperhatikannya (hihihi). “mungkin dy juga malu ketauan tidur saat materi ” pikiran positif untuk menghibur diri 😀 .

20 November 2011

Hari ini tidak lagi menjadi hari-hari penerimaan materi, bukan juga saatnya mencari korban keganasan materi (red: orang ngantuk). Hari ini fulltime untuk rekreasi, diawali outbond ke pantai Jimbaran Nusadua Bali. Di pantai ini kami bermain sepuasnya. Dikomandoi oleh Mas Agung Widodo, permaianan dimulai dengan ice breaking perkenalan, lanjut dengan games kecil kemudian intinya yaitu combat. Game combat ini memaksa kami menjadi dua kubu, berperang memperebutkan bola masing-masing yang harus dipertahankan. Sekitar pukul 11.00 wita kami menyudahi permainan dan kembali ke hotel, mandi, makan siang dan melanjutkan perjalanan.

Berikutnya kami menuju pusat oleh-oleh di bali yaitu Krisna Shop. Tak ada yang lain yang menarik selain gelang-gelang unik yang berjejer di depan, memilih beberapa yang sesuai dengan hati, dan beberapa barang lainnya yang diniatkan jadi oleh-oleh untuk kerabat di Lombok. Perjalanan selanjutnya, kami menuju pantai uluwatu, pantai ini merupakan tempat pura terbesar di Bali. Setelah puas jeprat- jepret , kami kembali meninggalkan lokasi yang penuh dengan makhluk bernama monyet. Perjalanan berikutnya menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK), pusat kebudayaan Bali yang sangat exotic. Bangunannya yang penuh dengan cerita sejarah. Setelah perasaan puas terpenuhi oleh indahnya lokasi ini, sekitar pukul 19.30 wita, kami kembali ke hotel. Mandi, makan dan lanjut dengan malam inagurasi. Dari masing-masing provinsi  harus menampilkan kebudayaannya sendiri.

Kami dari provinsi NTB, menampilkan video visit Lombok-sumbawa. Senam sasambo, dan nyanyian daerah sasak. Jujur, baru kali ini aku harus melakoni senam yang lebih pantes disebut tarian itu di depan ratusan orang. Rasanya memang untuk malam itu saja aku harus membuat error program di otak yang mempunyai tugas menimbulkan rasa malu. Inagurasi terus berlanjut sampai jam 03.00 wita pagi. Tapi sekitar pukul 01.00 aku pamit (sebenarnya minggat) dari ballroom menuju kamar untuk memberi waktu bagi mata untuk terpejam.

21 November 2012

Hari terakhir aku harus menatap mereka, sahabat-sahabatku yang datang dari berbagai provinsi. Setelah sarapan, kami memasuki ruangan kembali untuk mengikuti serangkaian agenda penutupan dari training. Agenda penutupan berlangsung dengan lancar. Walaupun beberapa peserta ada yang tertidur pulas. Agenda penutupan diakhiri dengan saling berjabat tangan, ada haru yang menyelinap tanpa izin saat agenda salam yang lebih mirip halal bihalal.

“kapan lagi aku bisa bertemu kalian, masih adakah kesempatan kedua kita berjumpa kembali” kalimat yang selalu terucap dalam hati saat menjabat tangan mereka. Sekitar pukul 12.00 wita kami pasukan NTB cek-out dan menuju bis yang akan mengantar kami ke bandara Ngurah-Rai. Di dalam bis, ternyata kami satu bis dengan peserta yang memergoki aku saat aku memperhatikan dia tidur saat materi. Senyum, hanya itu expresiku mengingat kejadian unik dan lucu itu. Dalam perjalanan satu harapan yang terucap dalam hati,

“semoga kita kembali bertemu dalam suasana yang lebih indah, di dunia ini atau di akhirat kelak” J

Inspirated by : someone like you, my “same identity”

Pesona

Aku terpaku menatap sosok yang sama lagi, seseorang yang berwajah bullet, cool, dengan gaya yang ya, lumayan cuek.

Hari ini ospek mahasiswa baru, aku meluncur dengan si hijau black motor bebek milikku. Aku memang bukan Mahasiswa lagi di kampus hijau ini, hanya saja aku ingin menikmati kembali tontonan yang disuguhkan kampus secara gratis. OPPS ,begitu akrabnya seremoni penyambutan MaBa ini.

Sampai di parkiran aku melangkah menuju sebuah teras, yang disana telah ada seorang rekan yang aku kenal, melambai-lambaikan tangan memintaku menuju ke tempatnya. Setelah say hello dan mulai mengobrol ringan sembari menikmati nostalgia, akupun duduk bersender pada sebuah beton penyangga bangunan putih yang dulunya adalah tempatku menimba dan membagi ilmu. Kuperhatikan lalu lintas mondar mandir Maba yang manut saja disuruh meminta tanda tangan panitia.

Terkenang saat dulu, ketika aku harus memohon-mohon meminta tanda tangan panitia, push up harus kami terima saat tanda tangan kurang dari target. Muak rasanya mengingatnya. Terkenang juga saat mereka mengerubini aku untuk meminta tanda tangan yang dari semuanya hampir tidak ada yang dapat menulis nama lengkapku dengan benar. Geli bila mengingatnya, akan tertoreh senyum simetris dari mulutku.

Lama bengong memperhatikan mondar mandir anak-anak maba. Mataku tertuju pada satu sosok yang sering membuatku penasaran, sosok cool, dengan sifat cuek indahnya melintas di depanku. Entah sengaja atau tidak mataku tak lelah mengikuti tubuh yang terlihat letih, dengan pakaian ospek lusuhnya namun tetap cool bagiku. Dia mendekat ke arahku tanpa sedikitpun melihat pada mataku yang sedari tadi menatapnya.

Dan ya, dia duduk di bawah teras tempatku hanya untuk meminta tanda tangan seorang panitia yang kebetulan duduk di bawah teras tempatku bertumpu. Sekali lagi, entah sengaja atau tidak, mataku tak letih menatap tubuh itu. Walau wajah manisnya menatap ke arahku, sejenak, hanya sejenak. Sejenak melihatku berharap jawaban yang dia inginkan. Seingatku, saat itu dy bertanya tentang nama lengkap panitia yang ingin dy mintai tanda tangannya. Ah.. sesal rasanya aku tak mengetahui siapa nama lengkap panitia itu.  Yang tidak lain adalah patnerku saat kami sama-sama meng-ospek 2 tahun yang lalu.

Sesal rasanya tak dapat membantu adik yang tak mau hilang dari mataku. Sejenak, ya hanya sejenak dia menatapku. Dan segera berbalik menunduk lagi setelah tau nama lengkap pemilik tanda sang tangan. Apapun namanya, aku suka. Ya aku suka melihat gaya anak itu. Saat itu yang terlintas adalah bagaimana caranya agar aku bisa berteman dengannya. Tidak lebih, karena aku tidak berminat untuk lebih. Hanya teman atau, aku berharap aku bisa menjadi kakak perempuannya. Itu saja.

Namun bagiku itu hanya hayalan kelas teri, mana bisa aku dekat dengan seorang maba saat aku sudah tidak memiliki rutinitas di kampus hijau ini. Entahlah, aku tak mau repot dengan harapan-harapan Blank On. Kuputuskan untuk melangkah kaki ke mushola kampus untuk menemani seorang sahabat yang berhajat untuk menunaikan sholat magrib.

Selepas itu aku pulang, wajah si cool (aku memanggilnya, ya sosok sejenis itu aku bilang cool) terlintas hanya sesaat. Setelahnya aku lupa. Karena aku disibukkan dengan aktifitas baruku. Dunia kerja.

Hari ini, aku kembali menekan gas motosku dengan kecepatan yang lumayan lah bagi perempuan sepertiku. Aku buru-buru ke kampus, untuk dapat menyaksikan acara pembantaian (ujian seminar) seorang sahabat. Namun nihil, aku tak dapat menikmati tontonan gratis lainnya dari kampus karena tontonan itu telah usai. Berkumpul dengan mereka yang kami katakan puing-puing angkatan kami membuatku sedikit terhibur dari rasa kecewa.

Tak lama kami memutuskan untuk beranjak untuk mencari pendamai bagi perut kami masing-masing. Lewat di parkiran, aku, tepatnya mataku entah sengaja atau tidak kembali menangkap sosok cool yang 2 hari lalu kulihat juga di tempat ini.

Aku terdiam, bukan karena aku kehilangan kata-kata, namun karena memang tak ada yang harus ku ungkap. Kuperhatikan stylenya hari ini. Dan ya, aku terpesona dengannya. Gaya cueknya yang tidak sembarang cuek, gaya cueknya yang beda yang aku suka, kembali terlintas di hayalanku.

Akankah kita akan berteman suatu saat nanti ? bisakah kita menjadi saudara? Aku ingin menjadi kakak perempuanmu, dan aku ingin kamu menjadi adik perempuanku yang manis. Ya, entah siapa namanya, aku telah terpukau dengan seorang gadis cuek tapi manis dan masih polos itu.

Obsesi memiliki saudara perempuan, aku sudah memiliki banyak, namun tak ada salahnya kan kalau aku ingin menambah saudara lebih banyak lagi.

End.