LANGIT, Sampaikan Maafku

LANGIT ,sampaikan Maafku

Langit tak lagi bersahabat. Tapi langit dengan jelasnya melukiskan apa yang aku rasakan. Tangisannya yang tiada henti menjadi keadaanku kini. Aku terpuruk dikesendirian meratapi apa yang kudengar 2 jam lalu. Tatapanku dari balik jendela tak terarah pada apapun yang tanpak, tatapan kosong karena jiwaku melayang, terbayang terpisah dari yang tersayang. Terngiang kata yang tak diinginkan terdengar.

“Broken Home”

Entah apapun yang mereka pikir dengan ucapan itu, bagiku adalah belati yang telah mencacah habis hatiku. Sewajarnya, aku layaknya tak sesakit ini, karena hal ini telah terdengar di pembahasan kedua orang  tuaku akhir-akhir ini. Namun tetap saja, petir yang dari tadi bergemuruh terasa menyambar alam sadarku mendengar kabar pilu via telepon 2 jam lalu. Kebencian itu mulai menghampiri, meminta ijinku untuk kutempatkan di salah satu ruang hatiku, ruang yang dulunya bersemayam yang tersayang, yang terhebat, yang terdekat, “Ayah”.

Dari kamar mungilku, samar-samar hingga terdengar jelas suara adzan dzuhur sahut-menyahut. Aku bangun dari keletihan menahan perihnya goresan di hatiku. Untuk memperbaharui wudu’, kubuka mukena yang dari tadi kukenakan duha sebelum kabar itu menghantamku. Sedikit kesejukan mengaliri hati ketika air wudu dengan lembut menyentuh wajahku. Sujud sembahku pada-NYA ditemani tetesan bening dari mataku.

***

Matahari kian beranjak pergi, langit menampakkan warna merah saga. Seolah memberi kabar tentang malam yang gelap akan datang, gelap tapi damai bagiku, dikesepian hatiku. Handphoneku bordering lagi, entah berapa sms dan telepon yang kuabaikan, terakhir dan sampai saat ini ada satu nama yang muncul di layar handphoneku “My Dad Lovely”. Dan seperti yang lainnya, panggilan itu pun hanya akan menjadi Misscall di Call Log handphoneku. Kebencian itu telah tertancap di hatiku, dan aku tak tahu kapan aku kan sanggup untuk mencabutnya. Walau di keheningan bathinku, masih enggan membuang gelar tersayang bagi ayah. Tersayang, karena aku juga merasakan menjadi yang tersayang bagi ayah. Ayah akan lebih memprioritaskan kebutuhanku dari pada ke tiga saudaraku lainnya.

***

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Lantunan ayat suci Al-Insyirah itu menyejukan qolbu yang telah terbakar amarah, kufahami artinya dan kurenungi, Tuhan tidak akan menguji aku melebihi kemampuanku, dan akan selalu terselip pertolongan disetiap ujian-Nya. Aku khatamkan juz 30 malam itu dan setelahnya, aku terlelap dalam damainya malam.

***

13 hari kehidupan tanpa suara ayah, sangat menyiksaku.

Telingaku mendengar suara tangisan yang terdengar tidak hanya dari satu orang, mataku mencari dan aku beranjak keluar dari kamarku. Kupastikan bahwa aku ada dirumah, bukan dikos-kosanku. Di ruang tamu yang biasanya ada shofa lengkap dengan meja dan bunga lily kesanganku diatasnya kini tak lagi ada, yang kulihat hanyalah keramaian orang, mulai membaca sesuatu yang tak asing lagi bagiku, surah Al-Kahfi. Mereka duduk melingkar dan hatiku berdegup ketika melihat sosok yang terbaring terselimuti kain panjang tertutup dari bagian kepala hingga kaki. Wajahnnya tak dapat kulihat, kesedihan mendalam mulai mendatangiku, kupandangi sekeliling. Ibu dan ketiga saudaraku lainnya tenggelam dalam tangis pilu. Mataku mulai mencari ayah, hanya untuk memastikan, siapa dibalik kain panjang itu. Dan hatiku menjerit ketika aku tak menemukan ayah di ruangan itu.

Tak ada yang dapat aku ucap, mulutku bungkam. Air mata yang mengalir bahkan aku tidak tau kapan mulai terjatuh. Aku mendekati ibuku, kupeluk dia dan saudaraku. Namun hanya kehampaan yang aku dapat, aku bagaikan memeluk udara, bahkan tanganku tak bisa hanya sekedar mengusap air mata ibuku. Aku heran, dengan apa yang terjadi. Keanehan yang tak bisa ku jangkau dengan logika. Aku semakin tak mengerti dengan semua keadaan ini, dan suara keras yang begitu menggangu makin terdengar jelas.

“Astagfirullah”

Aku terbangun dari mimpi yang sangat tidak ku inginkan.  Ku matikan alarm di hp ku, jam 03.16 wita. Beranjak wudu, dan mulai larut dalam sujud panjang. Kutumpahkan semua beban yang aku rasakan, karena hanya Dia tempat bersandar. Kerinduan yang sangat pada Ayah aku adukan pada-NYA, kerinduan yang mulai meluluhkan kebencian yang aku tancapkan. Tekadku bulat, aku akan menghubungi ayah setelah subuh nanti. Meskipun hanya dengan suaranya, aku berharap dapat mengobati sedikit kerinduan.

Diseberang sana terdengar suara yang tidak kuinginkan menyahut lewat telepon.

“haloo,, Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Aku ingin bicara dengan ayah, tidak denganmu”

“owh,, ternyata si anak emas yang telah mengecewakan ayahnya”

“Apa maksudmu ?”

“Kamu terlambat, ayahmu marah besar karena kamu telah mengacuhkan setiap teleponnya, lalu sekarang untuk apa kamu menghubungi ayahmu ? dia sudah tak ingin mendengar namamu kusebut. kau tak lebih ibaratnya malin kundang dimata ayahmu sekarang. Jangan pernah menghubungi kami lagi. Kami sudah bahagia tanpa kalian anak-anaknya”

Telepon kumatikan, perih hatiku mendengar cercaan dari wanita yang telah menghancurkan kehidupan keluarga kami. Luka hati yang telah berdarah, seakan ditambah lagi dengan hujaman belati. Kupandangi langit yang tak nampak indah birunya. Langit mendung, hujan yang deras akan segera mengalir menyusul derasnya darah di luka bathinku.

Tak peduli dengan tatapan aneh teman-teman di kos yang melihat  mataku sembab. Aku berjalan menyusuri koridor dan sekarang aku telah nekat menembus hujan dengan motorku tanpa pelindung jas hujan atau sejenisnya. Kubiarkan hujan membasahi dan terus mengalir tubuhku, aku tiba di tepi pantai masih ditemani hujan. Kutatapi deburan ombak menggulung dihadapanku. Berharap ada sedikit obat untuk luka yang makin terbuka lebar. Lama, tanpa peduli dengan dingin yang kian menusuk tubuh kurusku, menembus kulit, merayapi ulu hati. Aku rasakan langit berputar dan meski telah puas melepas hujan, langit mendung kini benar-benar gelap. Kegelapan menyelimuti.

***

“Esta, bangun,, Ta.. Bangun”

Mataku mulai menemukan adanya cahaya, terhirup wangi misik yang khas menusuk hidung, dan aku tersadar kembali.

“Alhamdulillah, kamu kenapa ta merelakan diri ujan-ujanan ngelamun di tepi pantai, untung tadi ada deni yang nemuin kamu dan mengantarmu”

Aku hanya dapat menjawab dengan senyuman, memandang wajah fitri dan deni yang masih menyisakan kekhawatiran. Mulutku masih kaku untuk bergerak, lidahku kelu untuk berucap, namun hangatnya kamar mungilku mampu menentramkan jiwa yang kenyataannya memang memberontak dengan keadaan ini.

***

Entah apa yang terjadi, dua hari ini seakan-akan mendung begitu mencintai langit, seolah menjadi sepasang kekasih yang tak terpisah. Hari ini aku merasakan sesuatu yang aneh, perasaanku mengatakan, akan ada sesuatu yang hilang, entah apapun itu. Tapi bagiku waktu itu tidak lama lagi, makin mendekat dan mendekat. Hp ku berbunyi, ada satu pesan dari sepupuku Arni.

“Ta, ayah sakit. Sekarang beliau tidak sadarkan diri di Rumah Sakit. Aku harap kau menanggalkan kebencianmu, sebagaimana yang ibu tirimu katakan. Ayah merindukanmu, bahkan di alam bawah sadarnya dia masih menyebut namamu. Pulanglah Ta, kumohon.”

Aku tersentak, pikiranku kacau. Tanpa berpikir panjang, aku raih ransel dan jaket mengendarai motorku untuk pulang menemui ayah, akan kupeluk dan kusampaikan bahwa aku tak akan dapat membencinya selama yang beliau pikirkan. Sepanjang perjalanan hanya terbayang wajah ayah. Sesekali aku menatap langit yang tak lagi biru, lirih kuberucap agar langit dapat menyapaikan permohonan maafku untuk ayah. Entah mengapa pikirku, aku tidak akan dapat meminta maaf pada ayah secara langsung. 80 Km/H kecepatan yang menurutku masih kurang dan kurasa akan memperlambat pertemuanku dengan ayah. Masih setengah dari perjalanan yang sudah aku lalui. Kecepatan aku naikkan, tanpa peduli hujan yang mulai rintik dan kian deras menghujamiku. Pikiranku hanya terisi dengan satu kalimat,

“Maafkan, Esta ayah”

“Maafkan, Esta”

“Esta mencintai ayah, sebagaimana yang Allah inginkan”

Tiba-tiba wajah ayah begitu jelas di depanku, disampingnya ada ibu dan ketiga saudaraku, mereka tersenyum memandangku. Seakan mereka telah ikhlas memaafkan setiap kesalahanku, seikhlas langit yang melepas hujan. Wajah ayah sangat jelas didepanku, tersenyum memberi dan menerima maafku, seperti tak ada hijab antara kami. Lirihku mulai berucap kembali.

“Esta minta maaf, Esta mencintai kalian. Maafkan Esta”

“Maafkan, Esta”

Dan ,,

DUAAAAAARRRRRRRRRRR…………..

Hantaman begitu keras aku rasakan,

Aku terpelanting begitu jauh, kepalaku membentur benda keras, dan hujan membasahi warna merah yang begitu kukenal mengalir dari kepalaku. Kulihat mereka mengerubuniku. Entah darimana, ada suara yang sangat halus dan lembut dan sangat kukenal membisikkan kalimat ditelingaku, tanpa diminta lidahku pun mengikuti setiap kalimat-kalimat indah itu. Kak Winar, kakakku yang telah meninggal bertahun-tahun lalu, kini begitu jelas di depanku menuntunku untuk berjalan mengikutinya. Tangannya begitu lembut mengajakku.

Mulutku tak henti melirihkan syahadat walau aku rasakan sesuatu dari tubuhku ditarik begitu kuat, sangat sakit, tak pernah kurasakan sakit sesakit ini. Akupun berharap dikesakitanku agar tak ada lagi orang yang mendapati rasa sakit ini. Tertarik dari ubun-ubunku begitu kuat, terasa bertaut antara betis kiri dan kanan begitu sakit, seolah setiap sendiku terputus, hatiku terbelah, jantungku meledak, otakku pecah. Dan akhirnya kurasakan sesuatu itu telah terpisah dari ragaku. Sesaat kemudian kedamaianpun menghampiriku.

Terlukiskan senyum terindah  untuk yang terakhir dari wajah manisnya. Sarlian Esta Sathira.

Inspiration : ketika mati lebih indah terbayang.darah cinta

Sepekan “like a magic”

 

            “Assalam, Nurhasanah, Siti Robiatun, Intan Ardiani L. diminta kesediaan sebagai delegasi dari KAPMEPI untuk mengikuti TOT Menpora di BALI. Syarat dan tugas lainnya akan menyusul, Edi”

Senyum, ekspresi membaca pesan singkat dari pak Edi. Terbayang pesona bali, teman-teman baru, pengalaman dan tentunya ilmu baru.

“Waalaikumsalam, InsyaAllah saya siap, owh ya, nama saya Ardliani Intan L. .”

Sms balasan tanda sepakat pun terkirim satu paket dengan protes nama yang seringkali salah dan terbalik. Enam hari berlalu untuk mengurus seabrek syarat yang harus diselesaikan. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu keberangkatan  menuju Bali, hingga pergantian delegasi menjadi Sanita dan Titin menggantikan Nurhasanah dan Siti Robiatun. Keterangan, kak Titin kusebut dia, seorang calon ibu karena saat ini sedang hamil sekitar 3 bulan.

            Senin, 14 November 2011

“Sanniiiiiiiiiiii……..buruaaann..” teriakan semangat 45 ku meluncur begitu saja, susah membedakan itu teriakan rasa dongkol atau takut ditinggal rombongan gara-gara es em es ancaman dari pak Edi yang akan meninggalkan kami jika kami datang lewat diatas jam 8 teng. Kulirik jam tangan yang nempel di pergelangan tangan kiriku. “ hmm, 10 menit sampe di nusra” aku membatin. Tak lama aku dan Sani tiba di Nusra, tempat kami mengikrarkan janji untuk berkumpul bersama menuju Bandara Internasional Lombok (BIL).

Selang beberapa menit, angkutan umum bermerk bluebird pun datang dan meluncur membawa kami menuju BIL. 45 menit setelah itu kami tiba di BIL, check-in dan menunggu kedatangan burung raksasa yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Ngurah Rai. Bukan Indonesia jika tidak delay, seringkali kalimat itu terdengar di telinga ini. Setelah bosan menunggu akhirnya yang dinanti datang juga, kami pun beriringan.

Sepintas kulihat gerak kak Titin yang begitu kewalahan membawa barang, sengaja tak segera kubantu berharap pasukan bernama laki-laki dari kelompok kami dengan sigap membantu membara barang beliau. Ternyata meleset, mereka sibuk menikmati langkah mereka tanpa memberi sedikit ruang simpati untuk kak Titin. “Ini orang punya empati dikit kek, huft” aku membatin sambil meraih ransel Kak Titin.

“ Kak, sini saya bawakan.”

Dengan sedikit penolakan dan pemaksaan dariku jadilah dua ransel yang lumayan berisi(lebih sopan ketimbang berat, hihi) nempel ditubuhku. Tiba di depan tangga pesawat, aku mulai kebingungan. Tangga yang begitu kecil menurutku, bagaimana naiknya dengan kondisi bawa ransel 2 begini (silahkan, dibayangkan kecilnya pesawat ber merk WINGS dan dibayangkan juga tangganya sekalian J ).

Sejenak mematung di depan tangga, seorang laki-laki tiba-tiba mengeluarkan kata-kata melegakan. Setelah dari tadi laki-laki yang juga rombongan kami cuek bebek, akhirnya penawaran bantuan pun terlontar.

“sini ranselnya satu”

Kalimat irit yang cukup membantu pikirku. Segera kuserahkan, dan bergegas masuk. Sekitar pukul 12 kami tiba, seperti biasa sanita langsung jepret sana sini dengan camdig di tangannya. Menunggu sebentar, kami pun melaju menuju hotel good way dengan bantuan mobil travel. 15 menit kami sudah di lobi hotel, registrasi, pembagian kamar, dan jadilah aku satu kamar dengan Kak Titin. Karena beliau dalam kondisi yang agak lemah, kami disatukan dari peserta yang diacak provinsinya.

Tiba di kamar, kami merapikan pakaian, sholat, dan bergegas menuju ballroom lokasi acara. Tiba di ballroom, kami makan siang dan dilanjutkan dengan gladi kotor plus bersih sekalian. Pembukaan acara ToT dimulai sekitar pukul 16.30 Wita. Acara berlangsung seru, di ikuti malamnya dengan pemilihan pak lurah dan bu lurah. Acara selesai sekitar pukul 23.30 Wita, kembali ke kamar untuk menghempaskan diri ke bad cover. Sebelumnya kuhampiri Kak Titin yang terbaring lemah, beliau hanya sempat mengikuti acara pembukaan dan kembali di kamar. Aku tak berani membangunkannya, kupandangi wajah perempuan yang begitu kukagumi karena kesabarannya. “aku ingin menjadi tangguh sepertimu kak” batinku. Karena kondisi yang kian melemah, pada hari Rabu Kak Titin harus pulang setelah di jemput suaminya.

15-19 November 2011

Hari-hari yang penuh dengan materi, penuh cerita. Setiap paginya diawali dengan olahraga bersama. Jam 05.30 harus kumpul di depan lobi hotel (yang datang tepat waktu pasti nemu beberapa peserta yang ontime juga tiduran di shofa lobi hotel). Olahraga diawali dengan peregangan otot, kemudian jogging, dan ditutup dengan permainan yang berbeda setiap harinya. Salah satu permainan paling berkesan adalah permainan barongsai, yaitu permainan kepala menangkap ekor (yang gak tau sabar ye, kepanjangan kalo mesti di jelasin , hahay).

Selesai olahraga, kami kembali ke kamar masing-masing, mandi, siap-siap, sarapan dan kembali mengikuti materi. Momen sarapan, makan siang, makan malam, dan coffe break adalah saat-saat dimana kami mengakrabkan diri dengan peserta lainnya yang datang dari 8 provinsi lainnya. Setiap materi biasanya diawali dengan ice breaking dan pengantar dari Mc dan Moderator. Materi yang disampaikan sangat bagus dan sudah pastilah bermanfaat, beberapa materi itu diantaranya kebijakan nasional kepemudaan, islah KNPI, national security belt, strategi pembangunan karakter, solidaritas dan peran pemuda, Ansos, heart intelligence dan banyak lagi ilmu yang lainnya. Pada ice breaking materi pertama kami dibagi kedalam kelompok yang harus kami cari dengan gumaman nada, setelah nyasar di tiga kelompok jadilah aku berkumpul dengan komunitas Koesbini.

Tak ada gading yang tak retak, terkadang ada materi yang membuat bulu mata sedikit berat sehingga otak berfikir untuk menyudahi saja (red : tidur). Saat-saat rawan seperti ini biasanya aku siasati dengan cara memperhatikan keadaan peserta lainnya, terngiang sebuah kalimat seorang teman “jika kamu mengantuk saat menerima materi maka perhatikan orang yang mengantuk disekelilingmu”. Memperhatikan mereka yang senasib denganku, kadang ada yang  kelopak matanya turun naik dengan sangat lamban, ada yang anguk-angukan, ada yang bola matanya putih semua dan kondisi lainnya yang cukup menghibur.

Ini akan terus berlangsung jika aku mulai mengantuk, tentunya satu hal yang harus diperhatikan, jangan sampai orang yang anda amati mengetahui kalau dia diamati (whehe). Pernah suatu ketika aku mengamati seorang peserta (yang belakangan aku tahu dia kandidat dari Kalimantan) tertidur dengan lelapnya, sangat lelap bahkan. Posisi duduknya arah jam 8 di belakangku, aku menunggu saat-saat dia terbangun dengan kagetnya dan aku akan siap-siap menertawakannya. Dan saat itu tiba, dia terbangun dan langsung memandangku. Niat yang tadinya kukumpulkan untuk tertawa menjadi urung karena kepergok. Melesat membalik badan kedepan dan pura-pura focus ke materi, yang sebenarnya menahan rasa malu ketauan memperhatikannya (hihihi). “mungkin dy juga malu ketauan tidur saat materi ” pikiran positif untuk menghibur diri 😀 .

20 November 2011

Hari ini tidak lagi menjadi hari-hari penerimaan materi, bukan juga saatnya mencari korban keganasan materi (red: orang ngantuk). Hari ini fulltime untuk rekreasi, diawali outbond ke pantai Jimbaran Nusadua Bali. Di pantai ini kami bermain sepuasnya. Dikomandoi oleh Mas Agung Widodo, permaianan dimulai dengan ice breaking perkenalan, lanjut dengan games kecil kemudian intinya yaitu combat. Game combat ini memaksa kami menjadi dua kubu, berperang memperebutkan bola masing-masing yang harus dipertahankan. Sekitar pukul 11.00 wita kami menyudahi permainan dan kembali ke hotel, mandi, makan siang dan melanjutkan perjalanan.

Berikutnya kami menuju pusat oleh-oleh di bali yaitu Krisna Shop. Tak ada yang lain yang menarik selain gelang-gelang unik yang berjejer di depan, memilih beberapa yang sesuai dengan hati, dan beberapa barang lainnya yang diniatkan jadi oleh-oleh untuk kerabat di Lombok. Perjalanan selanjutnya, kami menuju pantai uluwatu, pantai ini merupakan tempat pura terbesar di Bali. Setelah puas jeprat- jepret , kami kembali meninggalkan lokasi yang penuh dengan makhluk bernama monyet. Perjalanan berikutnya menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK), pusat kebudayaan Bali yang sangat exotic. Bangunannya yang penuh dengan cerita sejarah. Setelah perasaan puas terpenuhi oleh indahnya lokasi ini, sekitar pukul 19.30 wita, kami kembali ke hotel. Mandi, makan dan lanjut dengan malam inagurasi. Dari masing-masing provinsi  harus menampilkan kebudayaannya sendiri.

Kami dari provinsi NTB, menampilkan video visit Lombok-sumbawa. Senam sasambo, dan nyanyian daerah sasak. Jujur, baru kali ini aku harus melakoni senam yang lebih pantes disebut tarian itu di depan ratusan orang. Rasanya memang untuk malam itu saja aku harus membuat error program di otak yang mempunyai tugas menimbulkan rasa malu. Inagurasi terus berlanjut sampai jam 03.00 wita pagi. Tapi sekitar pukul 01.00 aku pamit (sebenarnya minggat) dari ballroom menuju kamar untuk memberi waktu bagi mata untuk terpejam.

21 November 2012

Hari terakhir aku harus menatap mereka, sahabat-sahabatku yang datang dari berbagai provinsi. Setelah sarapan, kami memasuki ruangan kembali untuk mengikuti serangkaian agenda penutupan dari training. Agenda penutupan berlangsung dengan lancar. Walaupun beberapa peserta ada yang tertidur pulas. Agenda penutupan diakhiri dengan saling berjabat tangan, ada haru yang menyelinap tanpa izin saat agenda salam yang lebih mirip halal bihalal.

“kapan lagi aku bisa bertemu kalian, masih adakah kesempatan kedua kita berjumpa kembali” kalimat yang selalu terucap dalam hati saat menjabat tangan mereka. Sekitar pukul 12.00 wita kami pasukan NTB cek-out dan menuju bis yang akan mengantar kami ke bandara Ngurah-Rai. Di dalam bis, ternyata kami satu bis dengan peserta yang memergoki aku saat aku memperhatikan dia tidur saat materi. Senyum, hanya itu expresiku mengingat kejadian unik dan lucu itu. Dalam perjalanan satu harapan yang terucap dalam hati,

“semoga kita kembali bertemu dalam suasana yang lebih indah, di dunia ini atau di akhirat kelak” J

Inspirated by : someone like you, my “same identity”

Pesona

Aku terpaku menatap sosok yang sama lagi, seseorang yang berwajah bullet, cool, dengan gaya yang ya, lumayan cuek.

Hari ini ospek mahasiswa baru, aku meluncur dengan si hijau black motor bebek milikku. Aku memang bukan Mahasiswa lagi di kampus hijau ini, hanya saja aku ingin menikmati kembali tontonan yang disuguhkan kampus secara gratis. OPPS ,begitu akrabnya seremoni penyambutan MaBa ini.

Sampai di parkiran aku melangkah menuju sebuah teras, yang disana telah ada seorang rekan yang aku kenal, melambai-lambaikan tangan memintaku menuju ke tempatnya. Setelah say hello dan mulai mengobrol ringan sembari menikmati nostalgia, akupun duduk bersender pada sebuah beton penyangga bangunan putih yang dulunya adalah tempatku menimba dan membagi ilmu. Kuperhatikan lalu lintas mondar mandir Maba yang manut saja disuruh meminta tanda tangan panitia.

Terkenang saat dulu, ketika aku harus memohon-mohon meminta tanda tangan panitia, push up harus kami terima saat tanda tangan kurang dari target. Muak rasanya mengingatnya. Terkenang juga saat mereka mengerubini aku untuk meminta tanda tangan yang dari semuanya hampir tidak ada yang dapat menulis nama lengkapku dengan benar. Geli bila mengingatnya, akan tertoreh senyum simetris dari mulutku.

Lama bengong memperhatikan mondar mandir anak-anak maba. Mataku tertuju pada satu sosok yang sering membuatku penasaran, sosok cool, dengan sifat cuek indahnya melintas di depanku. Entah sengaja atau tidak mataku tak lelah mengikuti tubuh yang terlihat letih, dengan pakaian ospek lusuhnya namun tetap cool bagiku. Dia mendekat ke arahku tanpa sedikitpun melihat pada mataku yang sedari tadi menatapnya.

Dan ya, dia duduk di bawah teras tempatku hanya untuk meminta tanda tangan seorang panitia yang kebetulan duduk di bawah teras tempatku bertumpu. Sekali lagi, entah sengaja atau tidak, mataku tak letih menatap tubuh itu. Walau wajah manisnya menatap ke arahku, sejenak, hanya sejenak. Sejenak melihatku berharap jawaban yang dia inginkan. Seingatku, saat itu dy bertanya tentang nama lengkap panitia yang ingin dy mintai tanda tangannya. Ah.. sesal rasanya aku tak mengetahui siapa nama lengkap panitia itu.  Yang tidak lain adalah patnerku saat kami sama-sama meng-ospek 2 tahun yang lalu.

Sesal rasanya tak dapat membantu adik yang tak mau hilang dari mataku. Sejenak, ya hanya sejenak dia menatapku. Dan segera berbalik menunduk lagi setelah tau nama lengkap pemilik tanda sang tangan. Apapun namanya, aku suka. Ya aku suka melihat gaya anak itu. Saat itu yang terlintas adalah bagaimana caranya agar aku bisa berteman dengannya. Tidak lebih, karena aku tidak berminat untuk lebih. Hanya teman atau, aku berharap aku bisa menjadi kakak perempuannya. Itu saja.

Namun bagiku itu hanya hayalan kelas teri, mana bisa aku dekat dengan seorang maba saat aku sudah tidak memiliki rutinitas di kampus hijau ini. Entahlah, aku tak mau repot dengan harapan-harapan Blank On. Kuputuskan untuk melangkah kaki ke mushola kampus untuk menemani seorang sahabat yang berhajat untuk menunaikan sholat magrib.

Selepas itu aku pulang, wajah si cool (aku memanggilnya, ya sosok sejenis itu aku bilang cool) terlintas hanya sesaat. Setelahnya aku lupa. Karena aku disibukkan dengan aktifitas baruku. Dunia kerja.

Hari ini, aku kembali menekan gas motosku dengan kecepatan yang lumayan lah bagi perempuan sepertiku. Aku buru-buru ke kampus, untuk dapat menyaksikan acara pembantaian (ujian seminar) seorang sahabat. Namun nihil, aku tak dapat menikmati tontonan gratis lainnya dari kampus karena tontonan itu telah usai. Berkumpul dengan mereka yang kami katakan puing-puing angkatan kami membuatku sedikit terhibur dari rasa kecewa.

Tak lama kami memutuskan untuk beranjak untuk mencari pendamai bagi perut kami masing-masing. Lewat di parkiran, aku, tepatnya mataku entah sengaja atau tidak kembali menangkap sosok cool yang 2 hari lalu kulihat juga di tempat ini.

Aku terdiam, bukan karena aku kehilangan kata-kata, namun karena memang tak ada yang harus ku ungkap. Kuperhatikan stylenya hari ini. Dan ya, aku terpesona dengannya. Gaya cueknya yang tidak sembarang cuek, gaya cueknya yang beda yang aku suka, kembali terlintas di hayalanku.

Akankah kita akan berteman suatu saat nanti ? bisakah kita menjadi saudara? Aku ingin menjadi kakak perempuanmu, dan aku ingin kamu menjadi adik perempuanku yang manis. Ya, entah siapa namanya, aku telah terpukau dengan seorang gadis cuek tapi manis dan masih polos itu.

Obsesi memiliki saudara perempuan, aku sudah memiliki banyak, namun tak ada salahnya kan kalau aku ingin menambah saudara lebih banyak lagi.

End.

Menjadi Cinta Terlarang

Menjadi Cinta Terlarang

Semilir hembusan angin tertiup manja pada wajahku dibalik jendela, di luar sana rintik-rintik gerimis mulai berkejaran. Suara merdu dari ringtone hape ku berbunyi, “Ad’Tino calling”

“Assalamu’alaikum Tino, ada apa ?”

“Wa’alaikumsalam kak’Diya, Mama masuk Rumah Sakit lagi, kali ini butuh darah 8 kantong”

“Astagfirullah, ya Tino, sekarang aku ke RS”

Kusambar jaket ungu kesayangan, dan meluncur ke Rumah Sakit.

***

Tubuhnya kurus, bisa dibilang kulit membaluti tulang. Rambut yang mulai menipis karena rontok. Muncul bintik kemerahan dikulitnya yang semakin lama bertambah banyak. Ketika kudekati tubuh itu, dia tersenyum teduh memandangku. Kuraih tangannya dan kukecup.

“Gimana keadaan tante ?”

“Ya beginilah, Alhamdulillah masih diberi kesempatan hidup”

Jawaban tanteku, istri dari Om, adik Ayahku. Sekaligus Mama dari orang yang selama ini aku taksir, sepupuku Vino kakaknya Tino. Tante kini terbaring lemah karena Leukemia yang menggerogoti tubuhnya. Sudah berbulan-bulan, namun tante belum diberi ijin untuk sembuh oleh-NYA. Entah sudah berapa banyak waktu, materi yang harus dikorbankan keluarganya. Tapi kembali lagi, yang menentukan hanyalah DIA Sang Maha Penentu.

Malam itu, Tino memintaku untuk menginap di Rumah Sakit karena kakaknya Vino tak bisa menemaninya. Tapi tak bisa kupenuhi, karena seabrek kerjaan yang harus aku selesaikan. Ada rasa marah ketika aku mengetahui alasan sepele Vino tidak bisa menemani Mamanya yang sakit. Hanya karena ada acara teman kampusnya, sejenis syukuran. Entahlah, perasaanku bercampur aduk, antara marah dan cemburu. Aku marah karena dia lebih mementingkan acara Dilla temannya daripada Mamanya. Dan aku cemburu karena Dilla.

***

Tiba di rumah, aku hempaskan tubuh di atas kasur empuk kamarku yang dominan berwarna ungu kesukaanku. Tak sempat bercerita pada Bunda, aku lelap dalam tidurku. Tengah malam handphone ku berdering, terlihat di layarnya, Tino memanggil. Ada sedikit khawatir di hatiku.

“Assalamu’alaikum, kak’Diya Mama telah pergi, dipanggil kembali oleh-NYA”

Sesak dadaku mendengar kalimat itu terlontar.

“Innalillahiwainnailaihi rojiun, sabar d’, yang ikhlas ya. Sebentar aku ke rumah sakit”

Telepon terputus, dan aku melaju ke Rumah Sakit bersama Bunda. Di Rumah Sakit, sudah ramai orang. Kulihat mata Tino sembab, namun, dia masih sempat tersenyum melihat kedatanganku. Senyum yang membuatku getir. Kudekati wajah kaku itu, kucium dahinya. Terasa dingin. Kulihat Tino yang duduk di shofa menangis lagi. Bunda masih ditepi ranjang tempat jasad tante terbaring. Kudekati Tino, kutepuk-tepuk pundaknya dan berharap ada kelegaan padanya. Air mataku ikut meleleh. Kuperhatikan ruangan, aku tersadar tak ada Vino disana.

“Vino mana Tino, belum datang??”

“Dia tadi pergi jemput kak’Dilla, katanya mau ikut nganterin jasad Mama ke rumah.”

Hatiku meletup-letup, cemburu kembali menggelayuti. Segera kutepis rasa itu, karena bukan saatnya aku harus cemburu. Di saat suasana duka seperti ini.

***

Langit mendung, gerimis pun menemani pemakaman jenazah tante. Aku masih berdiri disamping Tino. Air matanya tak henti. Aku terharu, dan memaksaku untuk menangis juga. Ya, karena aku benci menangis. Kulihat diseberang sana, Dilla membelai rambut Vino yang juga tak hentinya menangis. Sejujurnya aku ingin di posisi itu, sebagaimana Vino ada disampingku dulu saat kondisi yang hampir sama, saat Ayahku meninggal. Dia yang menguatkanku, membelai kepalaku dan membisikkan kata-kata untuk meneguhkan aku kembali. Kini disaat kami bertukar posisi di kondisi yang sama. Aku tak bisa melakukan apa yang pernah dia lakukan dulu. Disampingnya ada Dilla, dan mungkin hanya Dilla yang mampu membuatnya tenang. Aku tak ingin lagi cemburu. Aku bosan jika harus terus terganggu dengan rasa itu. Aku juga akan bahagia jika dia bahagia dengan Dilla. Sejenak mata kami bertemu. Sejenak, karena segera kupalingkan wajah menatap makam yang masih basah.

“Tino, kalo butuh apa-apa, bilang saja. Aku usahakan bantu”

“Ya kak, makasi. Makasi juga atas bantuannya selama ini. Udah mau jagain Mama selama sakit. Aku tak bisa membalasnya, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kakak”

Sekilas percakapan kami saat beriringan berjalan pulang. Kupandangi langit mendung. Semendung hatiku yang telah kehilangan tante. Semendung hatiku yang mengharuskan aku mulai melupakan Vino. Aku relakan dia dengan Dilla.

***

Dua pekan meninggalnya tante, Dua pekan itu juga aku tak pernah kontak langsung dengan Tino. Aku terpaksa sibuk dengan pekerjaan yang selama ini aku sampingkan untuk menemani Tante. Hingga sampai handphone ku berdering.

Kak’Diya lagi dimana ? Sibuk enggak ? jalan-jalan yuk, Kak Vino sibuk urusin Kak Dilla daripada adiknya. Mumet. Ketemu di tempat favorit aku ya.

Sms Tino baru saja kubaca, sebenarnya aku sangat malas beranjak dari tempat dudukku dengan buku yang seperempat bagian lagi akan kuselesaikan. Perpustakaan kota ini adalah tempat yang paling nyaman bagiku. Tapi aku tak tega juga menolak permintaan seepupu yang sudah seperti adik kandungku itu. Dia pasti tak akan mau jika aku memintanya ke perpustakaan saja, karena tempat ini adalah salah satu tempat yang membosankan baginya. Kalaupun mau pasti itu karena terpaksa. Aku balas sms nya.

Okey, aku akan kesana 15 menit lagi.

Kurapikan buku-buku itu kembali ke peraduannya, aku raih ransel dan meluncur menuju pantai, tempat favorit yang dia maksud. Sepuluh menit aku sudah di tepi pantai. Tak sulit menemukan orang yang sangat aku kenal. Yang aku lihat hanya tampak belakang badannya yang tegap. Walaupun dia 2 tahun dibawahku, tingginya lebih 10 centimeter dariku. Aku mendekat, kuucap salam yang diikuti jawaban darinya. Aku duduk di sampingnya. Dan memulai pembicaraan.

Mumet kenapa Tino?”

“Biasa kak, lagi butuh temen. Kak Vino atau Papa sibuk dengan urusannya masing-masing. Kak, aku beberapa hari ini kepikiran terus sama seseorang. Aku enggak tau mengapa, kangen aja rasanya. Satu pekan ini aku berusaha sekuat tenaga untuk tak menghubunginya. Berharap dia yang menghubungiku, tapi ternyata dia begitu sibuk sampai tak ada waktu untuk sekedar menanyakan kabarku. Hingga akhirnya aku mengalah pada pertahananku. Dan menghubunginya tadi.”

“waw, kau sedang jatuh cinta no? ehm… cewek mana yang telah membuat hatimu itu jatuh ? Temen Kuliah ? Mifta? Sarah? Atau Vanny?”

Ku absen satu-satu nama cewek yang kira-kira dia taksir. Aku bisa tau nama-nama itu ketika mereka bergantian datang menjenguk Tante dulu.dan gelengan kepala yang aku dapatkan sebagai pernyataan bukan darinya.

“terus siapa ? kan tiada dusta antara kita, hehe..”

“Memang, tapi aku belum siap kak’Diya tau siapa dia. Aku juga belum mengungkapkannya ke dia, aku takut ketika dia tau, dia akan menjauhiku. Aku menyayaginya, dan tak mau kehilangannya.”

“Lalu,, kau akan terus diam memendam sendiri? Bagaimana mungkin Tino tau perasaannya kalau Tino gak ungkapin? Atau emang mengalah sebelum berperang. Tenang aja Tino, Cuma cewek idiot yang nolak tino. Hehe..”

“Aku tau perasaannya, dia juga menyanyangiku, tapi rasa sayangnya…”

Kata-kata Tino terputus karena ada bapak-bapak yang datang menawarkan kami barang jualannya.

“permisi, mau menawarkan gelang seni daerah ini, ada juga beraneka assesoris perempuan lainnya. Cocok ne buat ceweknya mas.”

“Cewek aku? Ow ya dong, cewekku suka warna ungu, aku ambil yang ini, bagaimana cantik? Kau suka?” Kata Tino berlagak romantis. Dengan tersenyum aku balas guyonannya.

“aku akan selalu suka pilihanmu”

Gelang ungu bercorak putih itu pun terbeli juga. Tino memakaikan gelang itu di tanganku. Gelang yang cantik, cantik karena warnanya ungu. Kesukaaanku. Bapak itu pamit pergi, namun ada kata lucu yang dia ucapkan sebelum pergi.

“Kalian serasi, cowoknya ganteng, ceweknya cantik. Kalian mirip, matanya mirip sekali, sepertinya jodoh. Bapak doakan hubungan kalian baik-baik saja”

“Amiiiiiinnnnn” jawab Tino.

Aku dan Tino berpandangan, aku tertawa ngakak namun dia tetap tersenyum.

“Ya ialah mirip, orang sepupuan. Malah beneran bapak itu mikir kita pacaran Tino” kataku masih setengah tertawa.

Tino, tak menjawab, dia hanya senyum. Yang mulai terlihat senyum misterius bagiku. Biasanya dia heboh jika ada hal-hal konyol seperti tadi terjadi. Aku mulai terdiam, mungkin dia masih kepikiran dengan cewek yang dia taksir. Kupalingkan wajah ke arah senja yang mulai merah. Teringat pada sosok yang sangat menyukai warna merah, Vino. Sosok yang kini tidak seperti dulu lagi, hatinya mungkin telah sepenuhnya terisi oleh Dilla. Aku akan berusaha menghilangkan rasa yang bertepuk sebelah ini. Karena tak akan ada bunyi jika tangan yang satunya tak ikut bertepuk. Aku akan mengikhlaskannya.

“Kak, lebih baik aku jujur sebelum terlambat. Karena aku tau, ada yang juga sangat mencintai dia.” Perkataan Tino membuyarkan lamunanku.

“Yep, bener itu No” Jawabku seadaanya.

Kulihat gurat senyum itu makin merekah diwajahnya. Entahlah, akupun bahagia melihatnya bahagia. Aku berharap cewek yang dia taksir tak menolaknya. Karena aku tak ingin adik sepupuku sakit hati. Cukup dia sedih kehilangan salah satu orang yang dicintainya, Mamanya. Kami pun beranjak pulang, langit makin mulai menampakkan senja. Tentu dengan motor masing-masing, kulihat dari kaca spion Tino mengiringi dibelakangku. Kami berpisah di persimpangan. Tangannya melambai ketika dia harus belok kiri, aku masih harus terdiam karena lampu hijau belum juga menyala.

***

Tiga hari berturut-turut aku mendapatkan bunga mawar ungu tergeletak segar di depan pintu rumahku,tepatnya di atas keset bertuliskan “welcome”. Aku sangat suka, namun yang tak kusuka adalah caranya yang pengecut.

“Seandainya dia tau, aku lebih menghargai pemberian bunga beserta akarnya. Sudahlah yang tau itu hanya Vino. Dan sudah pasti ini bukan dari Vino” aku membatin. Aku mengambil mawar segar itu dan kuletakkan di dalam gelas yang telah terisi air. Hari ke empat mulai beda. Aku menerima mawar indah yang masih segar lengkap dengan akar dan vas mungilnya. Ada 3 tangkai bunga ungu yang rata-rata masih kuncup. Seolah sang pengirim rahasia itu menbaca pikiranku kemarin. Masih sibuk dengan rasa penasaran, kuraih mawar ungu itu dan kuletakkan di pelataran depan kamarku. Ada bisikan lembut dari pikiran yang sebenarnya sudah aku benam. Berharap ada vino disana, karena hanya Vino yang tau bahwa aku lebih suka bunga yang lengkap dengan akar dan pohonnya. Kembali lagi aku harus menepisnya, karena itu tak mungkin. “Sudahlah ya,kau sudah berjanji merelakan Vino untuk Dilla”. Kembali membatin.

Nada yang sangat kukenal mulai terdengar, hape ku berdering.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam, kak Diya, hari ini sibuk ?”

“lumayan, kenapa no?”

“abis magrib, temenin aku beli boneka buat cewek yang aku taksir. Rencananya malam ini aku mau ungkapin perasaanku, bisa ?”

“Owh, okey..akan selalu bisa untuk adikku yang satu nie”

“aku harap begitu, tidak ada kata tidak,hehe..jam 8 aku jemput ya kak?”

“yep…I will wait for u”

Telpon terputus setelah ucapan salam darinya.

***

Kuselesaikan 3 ayat terakhir surat Al-Kahfi, saat Tino datang dengan senyumnya yang kian merekah. 10 menit untuk siap-siap dan kami pun melaju menuju toko boneka.

“kalo yang ini bagaimana kak ?”

“wow, cantik No.”

Tanpa menanggapi komentarku lagi, Tino berjalan ke arah kasir dan membayarnya. Puas rasanya melihat dia tersenyum bahagia karena hatinya yang penuh ditumbuhi bunga. Namun aku harus tetap kecewa karena sampai saat ini aku tidak tau siapa cewek yang dia taksir.

“Kalau sudah waktunya, kak Diya akan tau, tunggu saja. Malam ini boneka ini akan sudah ada pada pemiliknya”

Jawaban yang selalu sama akan kuterima saat aku menanyakan hal yang sama pula. Tepat pukul 9 malam aku menyelesaikan sholat dan kembali berkutat dengan pekerjaan yang harus aku tunda sejak magrib tadi. Paginya aku terbangun dalam kondisi tidak biasanya, karena tertidur di atas meja kerjaku.

***

Jam 3 Pagi aku terbangun dengan sedikit linglung, kepalaku pusing. Bisa jadi karena posisi tidur yang tidak sempurna. Saat bangun menuju kamar mandi, aku menatap sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Kuperhatikan benda ungu di hadapanku, dan tersadar yang aku tatap itu apa. Hatiku tidak karuan, kaget, takut, dan tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kupastikan lagi otakku tidak sedang pusing, sehingga retinaku tidak salah menangkap bayangan di hadapanku. Tersungkur, itulah yang terjadi. Hatiku perih menatap boneka warna ungu yang baru beberapa jam lalu dibeli Tino untuk cewek yang dia taksir.

“Tidak mungkin aku, ini tidak mungkin. Dia pasti lupa membawa pulang”

Kupenuhi otak dengan peemikiran positif, bahkan lebih tepatnya penyangkalan atas kenyataan yang harus aku hadapi. Aku berjanji, tidak akan ada lagi kesedihan pada Tino. Namun, akan terlanggar ketika ucapan penolakan itu harus terlontar. Karena hatiku belum bisa berpaling ke lain hati. Aku sering memaksa hati untuk menyingkirkan Vino dari posisinya, tapi itu sungguh sulit. Jika aku menerima dan menjalani hubungan ini, aku pastikan itu akan lebih menyiksa dia, saat dia tau penerimaan ini berasas belas kasihan. Hal ini sangat berat bagiku, aku menyayanginya layaknya adik kandung. Kulalui  sepertiga malam terakhir ini dengan bermunajat pada-Nya. Ketenangan itu mulai mengalir.

***

Bagaimana? Jawaban apa yang aku dapatkan?

Sms Tino yang dari satu jam lalu belum juga aku balas. Dilema. Namun harus segera kuselesaikan. Aku putuskan untuk menceritakan hal ini pada bunda. Aku ingin pendapat terbaik itu bisa aku dapat darinya.

“Ada kabar gembira yang ingin bunda sampaikan nak”

Kalimat Bunda megurung niatku untuk meminta pendapatnya. Kutatap wajahnya yang merona bahagia. Aku duduk disampingnya, terdiam menanti lanjutan kalimat itu. Kabar bahagia apa yang membuat Bunda tak seperti biasanya.

“Ada seseorang yang berniat suci, ada yang melamar Bunda nak, bagaimana menurutmu?”

Kaget. Sejujurnya aku tak siap memiliki pengganti ayah di rumah ini, namun melihat kebahagiaan itu terpancar dari wajah sang bunda. Akupun mengiyakan.

“Siapa orangnya bun? Bapak baru untuk Diya ?”

“Sementara, Bunda belum bisa kasitau, nanti malam kita akan bertemu. Jadi kosongkan agendamu habis magrib. InsyaAllah kamu akan setuju. Dan kamu akan cepat menyayanginya”

Akan cepat menyayanginya? Kalimat Bunda terngiang di benakku. Maksudnya apa. Aku kembali terganggu dengan pertanyaan Tino yang belum sempat aku balas. Ketukan pintu diiringi salam lembut sang pemilik tangan membuyarkan lamunanku. Aku beranjak ke arah pintu. Dan..

“Dilla??? Tumben, ada apa nie ? masuk dulu La”

Wajah pucat Dilla hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. 5 menit kemudian, aku suguhkan segelas es jeruk. Dan berniat menanyakan kembali maksud kedatangannya. Namun, tanpa aku minta dia sudah mengerti apa yang aku pikirkan.

“Aku mencintai dia, awalnya aku berharap dia pun begitu. Tapi aku salah, sedikitpun hatinya tak pernah ada untukku. Hatinya tetap pada satu nama. Selama ini perhatiannya padaku hanya berlandas belas kasihan. Kasiahan pada seorang wanita yang lemah, penyakitan. Hanya rasa kasihan. Tidak lebih.”

“Maksudnya apa La’? kamu sakit apa ?”

“Dia hanya cinta sama kamu Ya’, Vino hanya mencintaimu. Selama ini kamu salah paham. Dia tidak pernah bisa mencintaiku. Dia hanya kasihan padaku, karena aku sama seperti mamanya. Aku kena leukemia Ya’.”

Terdiam. Entah apa yang salah dengan hari ini. Hari yang dirangkai penuh dengan kejutan. Satu sisi ada kebahagiaan yang mengalir. Cintaku selama ini tak bertepuk sebelah tangan. Namun sisi lain aku perihatin melihat kondisi Dilla yang kini di depanku berwajah pucat dengan wajah tirusnya yang menampakkan cekungan yang semakin memperlihatkan betapa kurusnya dia. Tino, Vino, Dilla. Mereka bertiga kini menciptakan berbagai rasa. Kebingungan melanda. Saat aku dengan Vino, aka nada 2 hati yang tersakiti. Tino dan Dilla. Begitupula saat aku dengan Tino, aku dan Vino yang akan tersakiti.

“Rabbi, tolong aku, aku tidak tau harus bagaimana. Tunjukkan aku jalan untuk semua masalah hati ini Ya Allah”. Batinku memohon.

***

Pukul 19.00 Bunda mengajakku keluar untuk menemui seseorang yang telah berhasil membuat Bunda menyisihkan sebagian hatinya untuk pria itu. Hatiku yang masih galau dengan kejadian hari ini mampu membuat hilang rasa penasaranku. 20 menit kemudian kami sampai di sebuah resto. Mataku menangkap sosok yang sangat tak asing. 3 tubuh tegap itu sangat aku kenal. Nalarku semakin tak bisa menerima saat Bunda memperkenalkan dia adalah calon ayah baru bagiku. Hatiku lebur rasanya, karena yang aku tatap kini adalah Om, ayah dari dia yang kucintai dan mencintaiku.

“Tante, Diyya??”

“Kak Diyya??”

Hampir serempak Vino dan Tino menyebut namaku, kutatap mereka. Yang sama tak kalah terkejutnya denganku. Vino, yang aku cinta kini tak ada harapan lagi. Tino yang aku sanyangi kini harus kecewa karena dia tak memerlukan jawaban lagi dariku. Aku pusing, otakku tak mampu berpikir menerima kenyataan yang begitu memaksa ini. Lambat laun wajah mereka semakin samar kulihat. Dan gelap hatiku berbisik. Inilah jawaban atas doaku, Dia Maha Adil, karena kini semua yang tersakiti. Cinta segitiga kami menjadi terlarang. Dan tak ada yang menang!!!

memo.memo

KHOHOHO ~(^O^)”__

Malam ini malam ke 27 Ramadhan, aku dan kakak ku namanya k’ana , hanya berdua di wisma kami yang tercinta “wisma Mufida”. Karena personil mufida lainnya sudah pergi meninggalkan kami lebih dulu. Eitsss…. Jangan buru-buru mengucap “Innalillahi…..”

Karena mereka masih sehat wal’afiat… nunul,iza,maman,hur,lina, cancan dan k’zury sudah pulang kampong… mudik mode:On .

Sedang si mantdja Cycy,, beberapa waktu lalu berpindah ke lain hati…. (pindah kos maksudnya). Jadilah nasib kami berdua yang tersisa. Satunya masih sibuk dengan rutinitas mengajarnya. Satunya lagi masih sibuk dengan kejar target skripsi.

Aktifitas kammi berdua malam itu berbeda. K’ana masih setia mengejar target tilawahnya. Dan aku berkutat di depan laptop, sambil merangkai beberapa siluet bangun dasar dan sesekali menghubungkannya dengan garis. Hal ini aku kerjakan melaui file yang kusimpan dengan nama folder “my visio love”( bermaksud untuk mencintai visio karena deadline menyelesaikan desain system, desain form, dll =_=!).

Sesekali kammi memperhatikan suara para Remus yang tadarussan tepat disamping wisma kammi. Heran karena malam ini kesalahan mereka lumayan tingkat tinggi ,,, satu ayat sampai di ulang sekitar 5 kali. Hal ini lumayan menarik perhatian kami..

Namun beberapa saat kemudian,,, mulailah kami mendengar suara-suara yang tidak biasa. Suara langkah kaki, dan pintu lemari plastic di kamarnya lina dibuka. “Degggggg……” kami pun mulai merasa agak takut (padahal sebenarnya takut maximal). K’ana yang sudah menyelesaikan tilawahnya pun mengundurkan niat keluar karena suara-suara itu. Kami mulai berpikir yang aneh-aneh. Isi pikiran kami saat itu selalu berawal dari kata “jangan-jangan…………………..”

Akhirnya aku beranikan diri bertanya rada teriak “Siapaaaaaaa…….. kucing ato malinggg” berharap itu kucing…. namun

Tak ada jawaban….. sepi……..

Membuang rasa penasaran kammi, k’ana memberanikan diri untuk keluar melihat situasi. Dengan ikhlas ku ucap padanya “kak, saya konci kamar ya, ikhlas kok, tar kalo ada apa-apa saya akan menyelamatkan diri dan mencari pertolongan”(lebay maxx)..

“Gak sopan…” hehe…. Jawaban ka kana yang menanggapi candaanku agar tidak membuat suasana makin mencekam.

“Dek, kok lampu garasi mati ????” pertanyaan kak ana membuatku kaget. . lampu itu tidak biasanya mati.

Neeeeeeeehhhh…. Dag dig dug geduldagdig….

Aku pun ikut keluar dan tidaaaaaaakkkkkkkkk…

Aku baru menyadari kalo lampu garasi emang aku yang matiin, gara-gara terinspirasi ide nya cycy untuk mematikan lampu garasi dengan alasan tiiiiiiiiiiiiitttttttttt….heehe

……………. Kammi pun lega,,,

o ya untuk suara langkah kaki, dan pintu lemari,,,,

itu hanya ketakutan berlebih karena sebenarnya ada seekor kucing yang senantiasa istiqomah menjaga wisma dan terkadang melahap bekal sahur kami.

Aku, cycy, dan ka ana pernah menjadi korban keserakahan si kuckuc … untungnya kami tinggal di wisma..soo..Ummmmmmmm

Tak ada special dari note ini… hanya keinginan yang kuat untuk say helo pada seluruh penghuni MUFIDA…

Keinginan yang kuat meminta keikhlasan hati untuk memaafkan setiap khilaf diantara qita. Minal aidin wal faidzin… selamat menyambut idul fitri…..

Louph u 4ever sista… (special to k’ana, k’zury, cancan, cycy, lina, hur, maman, nunul, iza dan aku sendiri TaNtan ^__^)V

 

#isengiseng.upload’catatanlamma’diblog.mengisiKeboringanMemandangiSangVisio.Uffftttt#spacy.bermasalah

tiGa tiGa

Lembaran buku kubuka satu per satu hingga kutemukan daftar isi. Kucari judul yang kira-kira memang menarik untuk dibaca, dan akhirnya, mataku tertuju pada satu judul.

“Tiga Tiga”.

Penasaran dengan judul yang mencantumkan angka faforitku tersebut, jari tanganku mulai menari mencari halaman tempat cerita itu bersemayam, kutemukan dan mulai kubaca.

****

TIGA TIGA

Maret 2002

“Salsabila Nindya Putri, M.Kom”.

Hari ini gelar itu aku dapatkan juga, obsesi untuk menyelesaikan S2 di usia 25 tahun tercapai sudah. Hal ini tidak bisa kudapatkan dengan mudah karena begitu banyak yang harus dikorbankan atau mungkin terlalaikan. Dalam kesibukan menempuh Strata dua aku sering absen mengikuti majelis ta’lim atau sejenisnya yang biasanya rutin aku ikuti pada saat perkuliahan Strata satu dulu. Juga dalam hal pernikahan, aku harus rela melepaskan orang yang membuatku jatuh hati untuk menempuh kesuksesanku saat ini. Aku masih ingat 2 tahun lalu kekeh mempertahankan untuk melanjutkan studi dengan resiko menolak lamaran Ustad Mugni yang baru menyelesaikan S2 nya di madinah. Sejujurnya aku memang jatuh hati pada kelembutan hatinya, kerapian dan bersihnya penampilannya, juga yang paling membuat aku tertarik adalah kesolehan yang ada padanya. Benar-benar laki-laki impianku selama ini, namun obsesiku untuk menyelesaikan S2 sebelum menikah lebih kuat dan lebih menarik bagiku.

“Kan bisa sambilan nak, kuliah sekalian nikah malah lebih enak, ada yang memotivasi untuk segera selesai”

Begitu saran sekaligus permintaan yang diungkapkan oleh ibu. Akan tetapi, aku sudah bisa memprediksikan bahwa menjadi seorang istri pasti akan mengganggu kuliahku. Belum lagi jika aku hamil, bisa jadi kuliah yang aku jalani harus tertunda lama karenanya. Terlintas dibenakku, seandainya Ustad Mugni mau menunggu sampai aku menyelesaikan strata duaku. Tapi itu hanyalah pemikiran yang konyol karena aku harus menelan pil pahit kekecewaan dan merasakan sedikit patah hati ketika 3 bulan setelahnya Ustad Mugni menikah dengan seorang gadis saliha yang tidak jauh berbeda denganku. Kami sama-sama berjilbab, faham agama, dan sama-sama menyandang gelar sarjana. Tapi itulah jodoh, semua sudah digariskan oleh-NYA.

Aku mulai merencanakan masa depan, dengan gelar magister yang kusandang pekerjaan yang layak dengan mudah kudapatkan. Aku kini bekerja sebagai dosen di salah satu Universitas terkemuka di Praya, Lombok Tengah. Aku sangat menikmati duniaku menjadi wanita karir. Segala kesibukan yang aku dapatkan di dunia kerja membuatku makin mencintai profesiku sebagai dosen. Ini akan berlangsung lama, kontrak kerja yang aku tanda tangani tertanggal sampai 03 April 2005.

Di tengah-tengah kesibukanku, orang tua selalu mengingatkanku untuk mempertimbangkan Amran, laki-laki yang satu bulan ini berniat melamarku. Namun, yang ini aku tolak lagi dengan alasan aku harus focus pada pekerjaanku, padahal jauh dalam hatiku, aku menolak karena dia hanya berstatus S1 dan belum memiliki penghasilan yang tetap. Yang aku tau Amran lebih terkenal dengan jiwa bisnisnya dari pada sebagai seorang Mahasiswa. Saat ini dia sedang melakoni pekerjaan sebagai penjual baju, buku dan sejenisnya secara keliling. Orang tuaku memaklumi alasan kefokusanku, walau kulihat ada gurat kekecewaan di wajahnya.

Namun inilah aku, aku menginginkan seorang pendamping yang memang sekufu atau layak denganku. Aku sering memikirkan sesuatu dengan berpatokan pada pendapat orang. Apa kata orang nantinya jika aku yang bergelar Magister dan sudah mendapatkan pekerjaan yang layak menikah dengan seorang yang baru lulus Strata satu dan belum memiliki penghasilan tetap. Aku tidak akan sanggup melihat tatapan aneh atau gunjingan tetangga sekitar nantinya. Itu pikirku.

Maret 2005

Karena kesuksesanku melakoni dunia kerja, aku mendapatkan beasiswa S3 ke Jepang dari yayasan. Secara otomatis masa kerjaku akan diperpanjang di kampus ini. Bahagia yang memuncak aku rasakan, sampai di rumah aku mengabarkan berita bahagia ini pada orang tua, namun diluar dugaan. Orang tuaku malah merasa berat merelakanku untuk ke negeri sakura itu, karena lagi-lagi pada saat yang bersamaan aku harus mempertimbangkan lamaran dari seorang laki-laki yang memang sangat mapan. Pak Hendra sudah menyandang gelar S3 nya, memiliki sebuah perusahaan advertiser di Ibu Kota Negara ini, Jakarta. Akan tetapi yang membuatku berpikir untuk menolak lamarannya adalah statusnya yang kini menduda dengan dua orang anak.

“ Sabila, ibu dan bapakmu ini sudah tua, ingin rasanya melihatmu memiliki pendamping hidup dan melahirkan cucu-cucu kami sebelum kami meninggal”

Kata-kata Ayah membuat hatiku tergetar, namun kali ini aku mantabkan untuk lebih memilih studi karena aku memang tidak bisa menerima status maritalnya. Tidak adil rasanya aku yang masih gadis menikah dengan duda beranak dua. Kembali orang tuaku harus menelan pahitnya pil kekecewaan. Aku berangkat ke Jepang masih dengan menyisakan gurat kekecewaan di wajah orangtuaku.

Namun, segala kesibukan yang aku hadapi di negeri Sakura membuatku mulai melupakan kesedihan orang tua yang tergambar jelas di memori otakku tadinya. Aku benar-benar mengejar setiap deadline tugas dalam perkuliahanku. Bahkan tidak jarang aku pulang larut untuk menyelesaikan tugas kuliah, entah dengan teman-temanku atau aku sendiri. Kebiasaan tahajjud dan duha yang selama ini aku pertahankan sesibuk-sibuknya saat menempuh Strata dua sudah mulai aku lalaikan. Bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku bangun di sepertiga malam untuk bermunajat pada-NYA.

Tidak hanya itu, lebih miris lagi, aku sudah jarang membaca ayat-ayat cinta yang telah dituliskan dalam Al-Qur’an oleh Sang Maha Pemilik Cinta. Dulunya, aku bisa khatam satu kali dalam satu bulan. Kini, 1 lembar pun mungkin tidak tercapai. Saat ini yang bisa aku banggakan hanyalah shalat yang memang tidak pernah aku tinggalkan, dan selembar kain yang selalu menutup rambutku. Ya, aku masih mempertahankan jilbab yang aku kenakan.

September 2007

Studi S3 telah kuselesaikan dengan lancar, dengan demikian aku pulang dan disambut dengan kenaikan jabatanku di kampus. Lekat aku amati wajah orang tua yang ternyata sudah semakin banyak kerut-kerut tanda ketuaan. Ada sedikit sesal mengingat permintaan mereka agar aku segera mengakhiri masa lajangku. Sejujurnya di dalam hati, aku pun mulai resah mengingat usiaku yang sudah menapaki kepala tiga sejak 3 bulan yang lalu. Aku pun bertekat akan segera mengakhiri masa lajangku. Akan kubuka hati bagi siapa saja dia yang mau menjadi pendamping hidupku. Tentunya kriteria laki-laki soleh harus ada padanya, karena aku tidak ingin menikah karena buru-buru, sehingga memilih dengan gampang siapapun itu. Aku tidak ingin seperti isi dalam sebuah kisah yang pernah aku baca. Ibaratnya seorang penumpang yang menunggu bis. Ketika bis yang pertama datang, bis yang bagus, jalurnya benar namun ditolak karena tidak ada AC. Kemudian bis yang kedua datang ditolak lagi walaupun jalurnya benar tapi melihat tampilannya yang sangat sederhana. Dan akhirnya waktu telah mengisyaratkan keterlambatan sehingga  ada bis yang datang tampa mempertimbangkan jelek atau tidaknya, ber AC atau tidaknya si penumpang memilih dan tersadar di tengah jalan bahwa jalur bis yang ia tumpangi adalah jalur yang berbeda dengan yang diingininya.

Aku memang tak perduli dia duda atau tidak, dia kaya atau miskin, atau ada tidaknya gelar yang mengikuti namanya. Aku tidak perduli, cukup dia bisa menjadi imam dalam hidupku. Cukup dia faham agama. Namun, disaat keinginan untuk menikah itu datang. Justru sang Arjuna tidak juga menampakan batang hidungnya. Tiada yang datang melamarku, aku makin merasakan keresahan di hari-hariku. Penyesalan mulai merambat di relung-relung hatiku. Aku tau kehidupan Ustad Mugni yang kini bahagia dengan dua orang anak, walaupun kini mereka tidak tinggal di kota yang sama denganku. Karena yang aku dengar, Ustad Mugni pindah sekeluarga ke Madinah. Ustad Mugni melanjutkan studi Strata tiganya mendalami ilmu hadist dan istrinya sudah menyandang gelar Magister untuk ilmu Fiqih shalat. Andai wanita itu adalah aku.

Kemudian pikiranku beralih pada Amran, laki-laki yang dulunya aku tolak karena gelarnya. Saat ini dia hidup bahagia dengan istri dan ke 3 putranya. Amran memang masih bertahan di gelar Sarjana nya. Namun dia telah berhasil mendidik istrinya yang sekarang sudah menyelesaikan Strata tiganya. Amran kini memiliki sebuah toko perlengkapan islami yang cukup besar dan memiliki cabang di berbagai kota. Penyesalan itu semakin menghantui hari-hariku. Kembali pikiranku melayang pada yang selanjutnya, Pak Hendra. Yang sama dengan yang lainnya. Hidup bahagia dengan keluarganya, yang aku tau pak Hendra menikahi gadis berusia 22 tahun, cantik dan saliha tentunya.

Bangun di sepertiga malam yang sudah lama aku tinggalkan, kini aku kerjakan lagi. Aku sampaikan penyesalanku pada-NYA Sang Maha Terkasih. Aku berharap ada sedikit keajaiban, menikah dengan sesegera mungkin. Aku khawatir dengan kondisi Ayah yang kian memburuk. Aku ingin disisa hidupnya, dia bisa merasakan kebahagiaan melihat dan menjadi wali dipernikahanku. Doaku malam demi malam aku panjatkan.

Januari 2008

Doaku akhirnya terjawab juga, dua pekan lagi atau tepatnya 23 Januari 2008, aku akan mengakhiri masa lajangku dengan seorang laki-laki yang dilihat dari prilakunya memang soleh. Wira seorang Magister pendidikan yang sekarang menjadi dosen pengajar di salah satu sekolah tinggi di daerah Dempasar, Bali. Kebahagiaan terpancar tidak hanya dari wajahku, namun juga dari tatapan kedua orang tuaku. Keadaan Ayahku mulai membaik, bahkan terlihat lebih segar dari pada sebelumnya.

Semua persiapan telah diatur sedemikian detail, undangan segera dicetak. Pernikahan yang mewah pun akan segera terlaksana dalam satu pekan lagi. Hari berganti hari, bunga-bunga yang menghiasi pelataran rumahku seolah mengisyaratkan hatiku yang sedang merekah. Akad itu memang belum di ucapkan, tapi kuncup-kuncup bunga cinta itu kian mekar. 3 hari lagi pernikahan membuat hatiku semakin tidak karuan. Bahagia, haru, dan sedikit ketakutan muncul. Entah rasa takut untuk apa, aku tidak mengerti. Namun segera kutepis dengan melantunkan ayat-ayat suci penyejuk hati.

Sore ini, tepat sehari sebelum pernikahan kami. Wira tiba di bandara Selaparang, ia datang ditemani adiknya Bayu dan akan langsung meluncur ke daerah tengah di Lombok ini. Sebelumnya Ayah pernah menyarankan agar Wira datang jauh-jauh hari bersama keluarganya yang memang dari satu pekan sudah disini, tapi kesibukannya yang hanya mendapat cuti satu pekan dia manfaatkan untuk satu pekan awal pernikahan kami. Aku dirumah menanti kedatangannya, walaupun tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya sampai akad itu besok. Menjelang Isya, kabar kedatangan Wira dan adiknya belum juga aku dapatkan, aku mulai resah. Kupandangi langit tak berbintang.

Tepat pukul 20.46 Wita aku sedikit lega dengan datangnya sepupuku yang aku minta untuk mencari tahu informasi. Namun rasa lega itu harus kulempar dan berganti jerit histeris. Kabar yang aku dapatkan, Wira dan adiknya Bayu mengalami kecelakaan sekitar pukul 19.50 tadi di daerah Jelantik kecamatan Jonggat. Kondisi hujan lebat yang membuat jalanan licin mengantar mobil yang ditumpangi jatuh melewati pagar pembatas jembatan. Wira meninggal dunia, sedangkan Bayu mengalami pendarahan hebat dan keadaaannya sedang kritis di larikan ke Rumah Sakit. Kesedihan yang mendalam membuatku tak sadarkan diri. Lama aku tersadar, dan ketika itu aku lihat wajah kedua orang tuaku sendu menatapku. Aku tahu, mereka juga pasti merasakan apa yang aku rasakan. Aku kembali menangis di pelukan mereka. Kurasakan air mata mereka mengalir di pundakku.

Juli 2010

            Tiga-tiga. Hari ini usiaku genap menapaki usia tiga puluh tiga. Ucapan ulang tahun aku dapatkan dari berbagai kerabat. Setiap ucapan dan doa yang mereka ucapkan aku amini dengan ketulusan dan kesungguhan hati. Dari sekian yang banyak yang memberi ucapan selamat, hampir semua mendoakan aku untuk segera menempuh hidup baru. Aku merenungi setiap kisahku dari tahun ke tahun. Begitu banyak ujian dan teguran yang aku dapatkan, evaluasi diri memang terus aku lakukan. Harapan untuk berkeluarga selalu ada pada diriku, walaupun harapan itu kian menipis.

Doa dan dukungan dari kedua orangtuaku adalah semangat terbesar. Aktifitasku sebagai dosen pengajar setelah kepergian Wira telah kutanggalkan, karena itu hanya mengingatkan aku pada kenangan-kenangan masa lalu tentang keangkuhanku. Aku lebih memilih menjadi guru ngaji di rumah dan lebih sering berkumpul dengan orang tuaku. Setelah magrib hari ini akan ada syukuran atas penambahan usiaku. Aku tidak suka kemegahan, jadi cukup dengan membaca surah Al-Kahfi bersama anak didikku yang kebanyakan dari mereka yatim lebih kupilih daripada mengadakan pesta yang mewah. Masakan terlezat yang dapat kusiapkan mulai tertata rapi di meja depan berdekatan dengan ruangan tempat kami mengaji.

Lantunan ayat-ayat Al-kahfi mulai terdengar. Air mata mengalir menghayati makna dari surah itu. Selesai mengaji salah satu dari anak didikku yang masih berusia 9 Tahun mengancungi tangan. Dan meminta ijinku agar dia memimpin doa. Senyuman diikuti anggukan kepalaku mengisyaratkan tanda setuju padanya.

“Bismillahirrahmanirrahim, Ya ALLAH ya Rabb semesta alam, aku memohon padaMU, berikanlah keridhoanMU pada setiap yang Ustadzah Sabila tempuh, begitu juga dengan kami”

“Amin…”

Suara anak-anak, kedua orang  tua dan aku sendiri serempak mengamini doa yang di ucapkan salah satu anak didikku. Begitu lengkap doa yang diucapkan, dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna. Hingga akhirnya tiba dipenghujung doa.

“Ya Allah, Rabb semesta alam, satu hal yang terakhir yang kami harapkan. Percepatlah jodoh untuk Ustadzah Sabila. Bila Engkau mengizinkan saat ini juga Ya Allah. Ya Allah kabulkanlah doa kami”

“Amiiiiiiiinnnnnnnn……”

Teriakan Amin itu lebih keras terdengar, aku tersenyum haru mendengar ucapan pengharapan terakhir dari anak yang polos. Sesaat setelahnya aku dengar suara lain dari seseorang ikut mengamini dari balik pintu depan yang memang terbuka lebar. Aku menoleh, dan disana tampak berdiri tegap seorang laki-laki yang kukenal. Wira, dia adalah Wira. Aku kaget, dan segera memalingkan wajah setelah sekian detik beradu mata dengannya. Lirihku mengucap pengampunan pada-NYA, wajah itu begitu mirip, bahkan naluriku mulai berkata bahwa Wira hidup kembali. Sebelum kedua orang tuaku mengucapkan sepatah kata. Laki-laki yang kutahu wajah Wira itu berucap.

“InsyaAllah doa ucapan terakhir tadi telah langsung dikabulkan oleh Allah. Karena jika diperkenankan, saya datang untuk melamar Sabila. Saya sangat mengharapkan kesanggupan dari bapak dan ibu, terutama Sabila”

Kalimat singkat namun mampu membuatku yang tadinya tertunduk, kaget hingga spontan mengangkat wajah lagi memandangi laki-laki yang masih tersenyum dan penuh kesungguhan itu. Tak ada ekspresi bergurau di wajah itu. Hatiku tergetar.

“Nak Bayu, benarkah yang bapak dengar ??? Nak Bayu tidak bergurau kan ?”

“Tidak sama sekali pak, saya tidak ada niat sedikitpun untuk bergurau. Sebenarnya dari satu tahun yang lalu saya sudah berniat melamar Sabila, tapi karena kondisi saya pasca kecelakaan yang harus benar-benar pulih membuat saya bertahan dan berharap Sabila belum ada yang melamar.”

Bayu ?? ternyata laki-laki yang mirip Wira ini Bayu adiknya. Aku tertegun, aku memang tidak pernah melihat wajahnya selama proses menuju pernikahan gagalku dengan Wira sebagaimana orang tuaku. Tapi aku tahu, bahwa Bayu tiga tahun lebih muda dariku. Tiga tahun adalah jarak yang lumayan bagiku, namun trauma dimasa lalu membuatku berpikir seratus kali untuk menolak lamaran ini. Terlebih latar belakang keluarga Wira  yang aku tau memang dari keluarga baik-baik dan faham agama. Kuarahkan pandangan pada orangtuaku yang sejak tadi menoleh mengharapkan jawaban penerimaan dariku. Masih dengan suara gugup tapi jelas dan tegas aku jawab.

“Bayu, jika memang tidak ada keraguan sedikitpun dihatimu, maka aku akan menerima lamaran darimu, tetapi dengan satu syarat. Aku ingin kita menikah malam ini juga, setelah sholat Isya. Karena aku tidak ingin kejadian dua tahun lalu terulang kembali. Bagaimana ??”

“Syarat itu akan saya terima dengan senang hati. Kita menikah malam ini juga. Di rumah ini, adik-adik, bapak, ibu dan para tetangga akan menjadi saksinya”

Kurasakan kebahagiaan terdalam mengalir di tiap sudut hatiku. Terlebih kebahagiaan yang terlukis di mata kedua orang tuaku. Malam itu akad yang jauh dari kemegahan, sangat sederhana namum penuh keberkahan berlangsung. Ijab qabul telah diucapkan, dan segala sesuatu yang haram telah menjadi halal bagi kami.

Tiga tiga, usia yang telah menggenapkan separuh agamaku.

SELESAI

Tampa kusadari Air mataku pun ikut mengalir membaca kisah Sabila. Begitu banyak pelajaran yang bisa ku petik dari cerita pendek Sabila. Aku mulai menghapus kriteria-kriteria suami impian yang telah kutulis dalam daftar hatiku. Hanya satu yang kusisakan, cukuplah dia bergelar taqwa di Mata Allah. J

Inspirasi : obrolan ringan wid R P R

~~(^__~)b~~

 

cerpen terbaruku … –__–)”

(*harap maklum, yang buat cerpen masih amatiran, jadi beginilah adanya)

 

Kucari Sejatinya Cinta

Aku Dini, seseorang mahasiswi semester pertama, telah lama mencari arti cinta sejati yang sebenarnya. Selama aku hidup aku telah mengalami kegagalan dalam hubungan percintaan sekitar 8 kali. Dan sekarang yang ke sembilan kalinya dengan laki-laki bernama Randy, yang aku rasakan sudah di ambang kegagalan lagi. Hubungan kami mulai menampakkan keretakan. Dan sekarang aku dalam posisi yang tidak jelas. Digantung.

Lepas dari permasalahan dalam hubungan asmaraku, sekarang aku telah resmi menjadi mahasiswi salah satu sekolah tinggi di kota ini. Dan hari ini hari pertamaku menginjakkan kaki di tempat kediamanku yang baru, Wisma Anggrek. Wisma ini di huni oleh 6 orang, dalam waktu yang singkat aku sudah dapat mengakrabkan diri dengan mereka berlima. Ina, Santi, Chyla, mba’Lilyana, dan mba’Diana Namun yang paling aku sukai seorang gadis yang umurnya 3 tahun di atasku. Mba’Lily, nama yang biasa kusebut untuknya. Mba’Lily gadis yang soleha, manis, baik dan ceria.

Waktupun bergulir. Tak terasa telah 3 Minggu aku tinggal di wisma ini, namun kedekatanku dengan mba’Lily layaknya sudah berbulan-bulan, akan tetapi ada satu hal yang belum aku ketahui darinya. Hingga suatu waktu kami berempat dari penghuni wisma kumpul di ruang tengah. Seperti biasa ada yang berkutat dengan Handphone atau laptop. Kulihat jempol mba’lily sibuk memainkan keypad HP nya. Kumulai mencairkan suasana yang sunyi.

“Mba’Lily, sms’an sama pacarnya ya ??” ucapku sedikit menggoda, kulihat dia mulai tersenyum, namun belum menjawabku.

“Mba’Lily tu jomblo tau…” Chyla mulai menimpali kata-kataku yang spontan aku balik bertanya keheranan.

“Mba’Lily gak pacaran ????????? Serius ?????”

“Ya din, gak laku-laku nie.. hehe” jawab mba’Lily seadanya.

“Dini gak percaya, masa mba’ jomblo dengan alasan gak laku,  paling mba’ aja yang pilih-pilih orangnya”

Tak ada jawaban. Hanya senyuman yang terukir kembali di wajah teduhnya. Dari segi fisiknya, dia lebih tinggi dariku, wajahnya juga lebih manis, apalagi dengan pakaian yang menutup rapat tubuhnya, semakin menambah ke anggunannya. Jadi menurutku, akan banyak yang suka. Bohong kalau mba’Lily bilang gak laku. Itulah sepintas yang kupikirkan. Seolah membaca pikiranku, mba’Lily menjawab kebimbanganku.

“Mba’ kan pegang prinsip pacaran setelah nikah din”

Jawaban mba’Lily membentuk lingkaran O di mulutku. Di kondisi seperti sekarang ini mba’Lily masih teguh memegang prinsip itu. Kondisi dengan lingkungan tempat kuliah mba’Lily, fakultas teknik yang kebanyakan cowok dan pergaulan yang tidak sekondusif di kampusku. Aku tau di fakultas mba’Lily yang menggunakan jilbab hanya sedikit, dari yang sedikit itu, hanya segelintir yang bisa memegang prinsip sepertinya. Hal ini aku tahu, ketika mba’Lily mengajakku mengikuti salah satu kajian di kampusnya. Berbeda dengan kampusku yang memang banyak seperti mba’Lily, pemegang prinsip non pacaran sebelum halal. Jadi akan mudah jika dia berpegang teguh pada prinsipnya. Kesendirian mba’Lily menghadapi tantangan di kampusnya membuatku salut pada sosok manis di depanku. Diam-diam aku mulai mengaguminya.

**********

Siang ini mentari begitu semangat memancarkan sinarnya. Aku jalan setengah berlari memasuki gerbang wisma. Ku ucap salam sambil mengetuk pintu. Jawaban lembut dari suara yang sangat kukenal segera membuka daun pintu yang tertutup rapat di depanku. Senyuman mba’Lily membuat keteduhan dihatiku. Segelas air putih mengaliri dahaga yang dari tadi kurasakan. Menyempurnakan keteduhan selepas senyum mba’Lily. Setelah berganti kostum, aku melangkah ke kamar mba’Lily, kulihat dia sedang asyik melantunkan ayat-ayat suci. Merasa bahwa pasti diijinkan, aku masuk dan duduk di belakangnya yang sedang tilawah. Suara itu begitu halus menyusupi relung hatiku, semakin lama suara itu semakin berat. Tak terlihat, namun bisa kupastikan dia menangis, perlahan air mataku ikut menetes.

Maha Benar Allah dengan segala FirmanNYA. Mba’Lily menyelesaikan tilawahnya. Dia rada kaget melihatku yang duduk manis di belakangnya.

“Mba setiap tilawah nangis ya ??”

“Enggak selalu Din, tadi itu Surat Al-Infitar tentang catatan dan balasan atas perbuatan manusia. Manusia seringkali ingkar terhadap nikmat Allah dan berujung pada mengerjakan hal-hal yang tidak Allah sukai padahal nikmat Allah berupa pertolongan dari-NYA seringkali ada untuk hamba-NYA. Mba’ juga termasuk makhluk yang lemah, tidak akan kuat menghadapi godaan dan ujian ini kecuali dengan pertolonganNYA. Makanya Mba’ malu kalau berbuat yang tidak sesuai syari’at agama. Mba begitu sering hampir tergelincir ke perangkap syaitan. Tapi Alhamdulillah, Pertolongan Allah selalu ada untuk menarik mba’ ke jalan yang diRidhoi-NYA”.

Diskusi kami lumayan panjang, sampai akhirnya dia menyodoriku sebuah buku agenda.

“kalau dinda masih ingin tau selengkapnya, boleh baca agendanya mba’, disitu isinya tentang begitu seringnya pertolongan Allah itu datang untuk mba’. Mba’ mau ke kampus dulu, selesai baca simpan ditempat semula, dan isinya jangan dibeberkan, hanya untuk Dini. Cey cantik”

Anggukan kepalaku mengiringi kepergiannya. Penasaran, aku mulai membuka halaman dalam agenda tersebut. Dan ternyata, agenda itu layaknya buku diary. Ada banyak cerita tentang mba’Lily di dalamnya. Aku tenggelam dalam cerita-cerita itu.

****

Matahari kian meredup, suara adzan membangunkanku dari dunia Mba’Lily. Akupun beranjak pergi, sholat Ashar dan setelahnya akan ku lanjutkan membaca kisah yang memang tinggal beberapa halaman saja. 10 menit kemudian aku kembali memegang agenda itu, hingga akupun sampai pada halaman terakhir, kuperhatikan sejenak. Layaknya yang terlihat itu adalah ringkasan dari kesemua, jika dalam sebuah karya tulis seperti Skripsi. Halaman yang aku tatap ini adalah bab lima yang berisi Penutup dan Kesimpulan. Aku kembali tenggelam dalam kisahnya.

****

03 November 2010

Hari ini, hari yang biasanya sangat special bagi sebagian orang. Mungkin juga untukku, tapi akan lebih bermakna jika aku gunakan kesempatan yang tersisa untuk muhasabah diri. Aku sadar sesadarnya. Aku sangatlah rapuh, jika tidak dengan pertolonganMU tidak akan pernah aku bisa berjalan jauh dari jurang-jurang yang tepinya sangat menggoda untuk aku datangi. Sungguh seringkali aku sudah ditepi jurang itu. Namun akan selalu ada Tangan Yang Maha Lembut membimbingku kembali menjauh dari jurang itu. Aku malu jika mengingat semua kekhilafan yang aku lakukan. Aku begitu lemah tampa pertolongan-MU. Aku sangat tau itu adalah ujian-MU, yang terkadang aku hampir terpeleset, namun Engkau yang Maha Penyanyang selalu memberikan pertolongan disaat aku sudah mulai lelah dan terlena.

Pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kampus, ujian yang pertama harus aku lalui adalah Tamma, teman sekelasku sendiri. Aku mengaguminya, dengan kecerdasan dan rasa rendah hati yang dia miliki. Aku tau dan sadar bahwa saat itu aku sudah memegang prinsip “Pacaran setelah Menikah”. Sehingga akupun berusaha untuk sebatas mengaguminya saja, tidak lebih. Namun seiring berjalannya waktu dan interaksi yang kami lakukan, cukup membuatku mulai tertarik padanya, puncaknya disaat kami sama-sama mengikuti camping yang diadakan kampus. Saat itu kami harus menempuh jarak sekitar 5 Km dengan kondisi jalan agak menanjak. Saat itu aku sangat kesusahan membawa beban yang aku bawa. Tas Ransel untuk perlengkapan 2 hari sangat menyiksa langkah yang berat dan terseret. Aku menatap kedepan, teman-temanku sudah jauh meninggalkanku. Aku mulai berjalan pelan lagi, hingga tak lama sang pahlawan itu datang. Entah kapan pastinya, Tamma tiba-tiba sudah disampingku menawarkan bantuan untuk membawa ranselku, aku lihat di punggungnya sudah ada ranselnya sendiri. Belum lagi dengan kedua tangan yang juga membawa beban. Akupun ragu untuk mengiyakan walau hatiku sudah jingkrak-jingkrak kegirangan karena ransel yang tadi menindih punggungku akan segera kutanggalkan.

“Gak apa-apa Tam, aku bisa bawa sendiri. Tamma kan sudah banyak bawa beban.”

“Sini, aku kan cowok jadi wajar kalo bawa beban yang lebih. Lagian Lily sudah ketinggalan jauh dari temen-temen, sini tak bawakan. Aku masih kuat kok, sangat kuat.”

Itulah jawabnya sambil meraih ranselku dengan tetap memasang senyum diwajah teduhnya. Tamma berjalan didepanku, sampai akhirnya kami bisa menyusul teman lainnya Tamma mempercepat langkahnya dan sudah jauh dari pandanganku. Kuperhatikan sisa bayangannya yang nampak. Aku akui tertarik padanya. Namun inilah puncaknya, sekaligus akhir dari rasa yang belum pantas itu.  Beberapa hari setelahnya, aku tahu bahwa Tamma sebenarnya menyukai sahabatku sendiri Nina. Sayangnya tidak diungkapkan karena Nina saat ini memang sedang menjalin hubungan special dengan kakak tingkat kami. Jika cewek yang lain mungkin akan mengatakan “Kesempatan itu masih ada”, tapi lain denganku. Ketika aku tau bahwa dia memiliki pujaan hati yang lain, entah dari mana aku mulai tersadar dan bersyukur. Bahwa melalui info inilah aku di tolong oleh-NYA. Berangsur rasa tertarik atau kagum itu mulai berganti dengan rasa persaudaraan semata.

Ujian yang harus kujalani tidak hanya sampai disini. Ketika tahun kedua ku di kampus, ada seseorang yang begitu semangat ingin mendekatiku, kakak tingkatku Dion. Entah apa yang salah dariku, sehingga Dion begitu nekat menyatakan perasaannya. Parahnya, dia sampai berani ngomongin nikah denganku. Awalnya aku memang menolak mentah-mentah, aku tidak suka dengan tingkahnya yang jauh dari kriteria. Bonceng cewek sana sini, belum lagi hal-hal lain yang menurut orang sepele namun bagiku itu hal yang lumayan mengurangi pointnya dimataku. Namun, waktu yang bergulir dia manfaatkan untuk perbaikan dirinya. Statusnya di jejaring Facebook yang tadinya berpacaran kini telah single. Prilakunya juga lebih sopan dari sebelumnya. Belum lagi begitu sering dia membantuku dalam segala hal, terlepas aku tidak tau niatnya bagaimana. Sejenak aku mulai luluh, namun Sang Maha Pemilik Cinta kembali lagi memberikan pertolongan-NYA. Suatu sore yang cerah, kebiasaan Online Facebook aku lakoni. Begitu halaman home itu muncul, aku lihat Dion mengomentari status mantan pacarnya, dia merayu. Bukan cemburu yang kurasa, tapi rasa muak melihat tingkahnya. Saat itupun aku yang tadinya lunak, kembali tegas pada prinsipku. Dan tak akan pernah ku toleh dia. Kecuali Allah yang menginginkan aku tuk melihatnya lagi dalam suasana yang diridhoi-NYA.

Ujian yang ketiga, di tahun ketigaku menginjakkan kaki di kampus. Kali ini bukan dari teman sebayaku, atau diatasku. Namun dari adik tingkatku, Akbar. Akbar anak yang baik, polos, gokil, dan lumayan humoris. Meskipun begitu, dia sangat pintar merangkai kata menjadi bait-bait puisi. Atas petunjuk dari Chyla temen SMA nya yang kini 1 wisma denganku, aku tahu sesuatu darinya. Chyla mengatakan bahwa melalui puisinya dia ungkapkan perasaannya padaku. Aku adalah seseorang yang memang sangat cepat luluh dengan kata-kata. Yang aku tau bahwa itu adalah ungkapan tulus dari anak yang polos, Akbar. Dari setiap kata-kata itu aku tau kalau dia memang menyukaiku, namun enggan untuk mengatakan langsung padaku. Aku juga terharu ketika aku tau begitu merendahnya dia. Akbar tak ingin berharap banyak padaku karena dia merasa tak sebaik yang aku inginkan. Aku terharu dan rasa haru itu mulai merubah diri menjadi simpati. Apalagi setiap puisi-puisi yang dia buat untukku. Memang dia tidak secara langsung memberikan puisi itu. Dia hanya mengirimkan alamat blog tempat puisi-puisi itu terpampang. Aku luluh kembali, dan ini adalah yang terberat bagiku. Dari sikapnya yang humoris namun tetap sopan itu mebuatku berpikir untuk bisa mempengaruhinya agar dia bisa memenuhi kriteria utamaku. Entah salah atau tidak, aku jadi sering mengingatkannya untuk tidak lalai pada perintah-NYA.

Sejujurnya, aku tidak pernah memiliki criteria ribet dalam memilih pasangan hidup nantinya. Masalah ganteng, kaya, umur, atau hal-hal duniawi lainnya tidak terlalu aku permasalahkan. Hanya satu,dia bergelar takwa di Mata Allah. Otakku mulai mengharapkan Akbar bisa mendapatkan gelar itu. Dan lebih parahnya, aku mengharapkan sang pecinta puisi itu lebih berani untuk menuntaskan pekerjaan jiwa yang dia alami sekarang. Menghitbahku. Hanya saja itu memang masih jauh, mengingat kuliah yang harus dia selesaikan dulu. Simpatiku padanya mulai bertambah ketika dia begitu sabar menahan rasa cintanya padaku, namun tetap tidak pernah dia sampaikan. Syetan hampir saja pesta atas apa yang terjadi pada perasaanku yang mulai tertarik padanya. Namun, inilah Kekuasaan Allah yang Maha Besar PertolonganNYA. Rasa tertarikku padanya mendadak lenyap, ketika aku tau bahwa dia sedang menyukai wanita lain. Dan wanita itupun menyukainya. Kali ini puisi-puisi yang dia ciptakan tak lagi untukku, tapi untuknya. Ada rasa kecewa dalam hatiku, sempat kuberpikir bahwa beginilah rasanya patah hati. Hanya sementara karena segera kubiasakan untuk positif thingking. Inilah pertolongan kesekian kalinya dari Allah. Aku kembali tegak dengan prinsipku, diatas syetan yang menangis pilu gagal menggelincirkanku.

Kini di usiaku yang genap 22 Tahun, aku mulai menata hati. Akan ku hapus bintik-bintik hitam yang mungkin memang sudah banyak. Sejatinya cinta adalah cinta kepada Allah. Hatiku hanya milik Dia Sang Maha Pemilik Cinta. Aku sangat pasrah pada ketetapan-NYA. Aku juga sangat percaya bahwa jodoh itu adalah hak prerogratif Allah, jadi untuk apa mengotori hati untuk seseorang yang belum pasti akan menjadi milik kita. Ku buka lembar baru kehidupan di usia yang baru. Hanya ada Allah di hatiku, dan orang-orang yang dikehendaki-NYA. Untuk engkau wahai yang Allah siapkan untukku, maafkan jika aku tidak sempurna menjaga hati ini untukmu. Namun, mulai detik ini aku akan tetap berusaha menjaga hati ini, sampai kau siap dan datang menjadi seseorang yang halal bagiku. J

***

Tersentak, malu, dan entah apalagi rasa yang ada padaku. Kisah mba’Lily bagaikan tamparan keras bagiku. Begitu bersihnya dia dari hubungan pacaran, dan tentunya itu bisa dengan usaha yang kuat melawan nafsu diri. Terlebih atas setiap rasa syukur yang selalu dia ungkapkan atas pertolongan Allah untuknya. Aku teringat pada hubunganku dengan Randy. Inilah pertolongan Allah untukku. Aku pastikan saat ini juga tak ada lagi hubungan antara aku dan Randy. Aku ingin bertaubat, tidak ada lagi kata pacaran sebelum nikah dalam kamus hidupku. Kuletakkan kembali agenda mba’Lily di tempatnya semula. Kupandangi wajah manis  mba’Lily yang terbingkai dalam frame.

“Aku pasti bisa secantik engkau mba’, secantik akhlakmu”

Hatiku mulai bergumam, menyebut Asma-NYA.

“Rabb, izinkan pertolongan-pertolongan-MU itu ada juga untukku”

“Ijinkan aku memiliki Cinta Sejati dari-MU yang telah lama aku cari”

 

SELESAI

Kamar Mungil Mufida, 19 Oct 2010

Inspirasi : Saat hati berbicara bahwa adam itu mulai indah,

Namun, indah terhalang karena ikatan yang belum halal.